BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Fiksi
yang terbagi atas novel, cerpen, naskah drama dan dongeng merupakan salah satu
genre dalam karya sastra yang dipercaya mempunyai potensi yang cukup besar
dalam rangka mendorong arus perubahan budaya. Hal ini karena ternyata karya
sastra aliran fiksi tidak hanya dibaca oleh golongan tertentu seperti golongan
elit atau kaum terpelajar saja tetapi juga diminati oleh hampir seluruh lapisan
masyarakat. Novel Salah Pilih karya Nur Sutan Iskandar adalah novel roman lama
yang menjadi saksi sejarah dan perkembangan Bahasa Indonesia, sekaligus jejak
pemikiran modern Indonesia.
Novel ini mengisahkan tentang perjalanan hidup tokoh
yang bernama Asri dalam menentukan pasangan hidupnya. Bermula dari Asri
menjatuhkan pilihannya kepada seorang gadis cantik dari keluarga kaya dan
terpandang. Asri berharap dari pernikahannya itu ia bisa hidup bahagia, namun
ternyata nasib menentukan lain. Rumah tangganya tidak bahagia, sampai akhirnya
sebuah kejadian menimpa istrinya yang membuatnya meninggal dalam sebuah
kecelakaan. Akhirnya takdir bisa menyatukan Asri dan Asnah, adik angkatnya.
Asri bisa menikah juga dengan Asnah yang dicintainya dan mereka hidup bahagia
selamanya.
1.2
Rumusan Masalah
Bagaimana menentukan unsur-unsur intrinsik
yang terdapat dalam novel berjudul Salah Pilih karya Nur St. Iskandar?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui unsur intrinsik yang terdapat dalam
novel Salah Pilih
1.4 Manfaat
1. Menambah pengetahuan mengenai budaya zaman dulu
2. Mengetahui hubungan karya sastra dengan keadaan
sosial
3. Mengetahui isi novel Salah Pilih
BAB II
KAJIAN TEORI
2.1 Pengertian Novel
Dari sekian banyak bentuk sastra seperti esei,
puisi, novel, cerita pendek, drama, bentuk novel, cerita pendeklah yang paling
banyak dibaca oleh para pembaca. Karya-karya modern klasik dalam kesusasteraan,
kebanyakan juga berisi karya-karya novel. Novel merupakan bentuk karya sastra
yang paling populer di dunia.
Bentuk sastra ini paling banyak beredar, lantaran
daya komunikasinya yang luas pada masyarakat. Sebagai bahan bacaan, novel dapat
dibagi menjadi dua golongan yaitu karya serius dan karya hiburan. Pendapat
demikian memang benar tapi juga ada kelanjutannya. Yakni bahwa tidak semua yang
mampu memberikan hiburan bisa disebut sebagai karya sastra serius. Sebuah novel
serius bukan saja dituntut agar dia merupakan karya yang indah, menarik dan
dengan demikian juga memberikan hiburan pada kita, tetapi ia juga dituntut
lebih dari itu.
Syarat utama novel yaitu mesti menarik,
menghibur dan mendatangkan rasa puas setelah orang selesai membacanya. Novel
yang baik dibaca untuk penyempurnaan diri. Novel yang baik adalah novel yang
isinya dapat memanusiakan para pembacanya. Sebaliknya novel hiburan hanya
dibaca untuk kepentingan santai belaka, yang penting memberikan keasyikan pada
pembacanya untuk menyelesaikannya.
Tradisi novel hiburan terikat dengan pola-pola. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa novel serius punya fungsi sosial, sedang novel hiburan cuma
berfungsi personal. Novel berfungsi sosial lantaran novel yang baik ikut
membina orang tua masyarakat menjadi manusia. Sedang novel hiburan tidak
memperdulikan apakah cerita yang dihidangkan tidak membina manusia atau tidak,
yang penting adalah bahwa novel memikat dan orang mau cepat-cepat membacanya.
Pada dasarnya novel
maupun roman menceritakan hasil luar biasa yang terjadi dalam kehidupan manusia
sehingga jalan hidup tokoh cerita yang ditampilkan dapat berubah. Novel dapat
dibedakan menjadi novel kedaerahan, novel psikologi, novel sosial, novel gotik,
novel sejarah, dan novel populer. Cerita jenis lain yang mempunyai ciri utama
seperti novel adalah cerpen. Bedanya dengan novel, cerpen penceritaannya lebih
ringkas. Masalahnya lebih padu, plotnya tunggal dan terfokus pada akhir cerita.
Sebuah cerita panjang yang berjumlah ratusan halaman, jelas tidak dapat disebut
dengan cerpen.
2.2 Unsur Intrinsik
Unsur
intrinsik ialah unsur yang membangun karya sastra dari dalam. Yang termasuk
unsur intrinsik adalah:
a. Tema
Tema
adalah sesuatu yang menjadi pokok masalah atau pokok pikiran dari pengarang
yang ditampilkan dalam karangan.
b. Tokoh
Tokoh adalah pelaku
dalam cerita.
c. Penokohan
Penokohan adalah pengembangan pelaku atau
tokoh dalam cerita.
d. Alur
Alur
adalah suatu rangkaian peristiwa yang menghubungkan sebab akibat dalam sebuah
novel, ada sebab akibat untuk mencapai klimaks cerita.
e.Latar atau
Setting
Latar atau setting adalah tempat peristiwa
atau kejadian pada sebuah novel. Latar pada novel terdiri dari latar tempat,
waktu, dan suasana.
f.
Sudut pandang
Sudut
pandang adalah cara pengarang untuk menentukan siapa yang mengisahkan
ceritanya.
g. Gaya bahasa
Gaya
Bahasa Kiasan ialah kemampuan dan keahlian untuk menulis atau mempergunakan
kata-kata secara indah. Gaya bahasa dituturkan dari sebuah karya tulis sastra
agar dipergunakan dengan memperindah tulisan pada sebuah karya sastra.
Sastra
tanpa gaya bahasa terasa tidaklah sempurna apalagi digunakan dengan kata yang
sebenarnya (denotasi), rasanya seperti sayuran tanpa garam, terasa hambar. Oleh
karena itu, pada sebuah novel Salah Pilih ini banyak menggunakan makna konotasi
yang membuat karya sastra Nur St. Iskandar ini popular di kalangan para
penikmat sastra.
h. Amanat
Pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada
pembaca
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Sinopsis
Di
sebuah tempat bernama Sungaibatang, Maninjau, Sumatera Barat, tinggal sebuah
keluarga yang terdiri atas seorang ibu, seorang anak laki-laki dan seorang lagi
perempuan, serta seorang pembantu. Ibu itu bernama Mariati, si lelaki bernama
Asri, dan yang perempuan bernama Asnah. Sementara pembantu itu bernama Sitti
Maliah dan dua anak itu biasa memanggilnya Mak Cik Lia. Keluarga itu saling
mengasihi satu sama lain sekalipun dengan si pembantu dan Asnah yang bukan anak
kandung Bu Mariati, mereka tidak peduli dengan hal tersebut. Asnah pun juga
sayang pada perempuan yang dianggap sebagai ibu kandung itu. Ia selalu sabar
merawat Bu Mariati yang tengah sakit.
Asri
dan Asnah semakin lama semakin dewasa dan semakin akrab sebagai saudara. Mereka
terbiasa jujur satu sama lain, bahkan Asnah mengetahui rahasia kakaknya yang
tidak diketahui sang bunda, begitu juga sebaliknya. Namun ada satu hal yang
sangat dirahasiakan Asnah, dia menyayangi Asri lebih dari seorang kakak,
melainkan rasa sayang seorang kekasih. Gadis itu sangat terpukul ketika sang
ibu meminta anak lelakinya untuk segera menikah, dia tahu bukan ia yang akan
menjadi pendamping Asri karena adat melarang pernikahan sesuku seperti mereka.
Asri menjatuhkan pilihan pada seorang putri bangsawan yang cantik, adik kandung
mantan kekasihnya. Gadis itu bernama Saniah. Mereka bertunangan lalu menikah
setelah melewati beberapa adat Minangkabau. Pernikahan Asri dengan Saniah
sangat jauh dari kata bahagia.
Keduanya
memiliki perbedaan yang sangat kuat dalam masalah adat. Saniah selalu disetir
ibunya untuk mengikuti adat yang sangat kaku dan kuno menurut Asri, karena Asri
sudah terbiasa dengan pendidikan luar yang bebas. Ia sangat menghormati adat,
namun ia tidak suka terlalu dikekang dan dipaksa-paksa seperti yang dilakukan
Saniah padanya. Selain itu, Saniah adalah wanita yang sombong, keras kepala,
membedakan kelas sosial masyarakat, dan tidak suka bergaul dengan tetangga.
Saniah sangat cemburu dengan keberadaan Asnah dan ia ingin menyingkirkan gadis
itu dengan berbagai cara, tentunya peran sang ibu tidak tertinggal. Suatu hari
penyakit bu Mariati menjadi sangat parah. Asnah beserta Mak Cik Liah bergantian
menjaganya, tak lupa juga Asri lebih sering mengunjungi ibunya yang telah diasingkan Saniah di bagian rumah mereka yang
lain. Penyakit bu Mariati tidak dapat disembuhkan dan nyawanya telah lepas dari
raga. Sebelum meninggal, ibu itu berpesan kepada anaknya, ia menyesal telah
meminta Asri menikah, apalagi dengan Saniah.
Wanita
itu juga menjelaskan adat Minang yang tidak melarang Asri dan Asnah menikah
karena mereka tidak sedarah. Wanita itu berpesan agar anak lelakinya itu
menikah dengan anak angkatnya, Asnah, yang sifatnya sangat mulia di mata semua
orang.Setelah kematian sang bunda, Asri selalu memikirkan petuah terakhir itu.
Dan ia baru menyadari perasaan sayangnya kepada Asnah yang lebih setelah teman
lamanya, Hasan Basri, datang kepadanya untuk meminta izin memperistri Asnah. Ia
sangat cemburu dan tidak bisa mengambil keputusan, sehingga segalanya ia
serahkan kepada Asnah. Asri sangat lega ketika Asnah menolak pinangan teman
lamanya itu. Tanpa saling bicara, keduanya bisa mengerti bahwa ada cinta di
antara mereka. Saniah menangkap keganjilan pada suaminya sehingga ia
memaki-maki Asnah sebagai wanita yang tidak tahu diri. Kejadian itu diketahui
Asri sehingga ia sangat marah kepada Saniah dan keduanya bertengkar hebat,
sementara Asnah memilih pergi dari rumah itu dan tinggal bersama bu Mariah,
adik ibu Mariati. Semenjak kepergian Asnah, Asri tetap sering bertengkar dengan
Saniah hingga ia tidak betah lagi berada di rumah gadang itu. Suatu ketika bu
Saleah, ibu dari Saniah mendapat kabar bahwa anak lelakinya akan menikah dengan
gadis biasa di perantauan. Ibu itu merasa geram, ia tidak mau mempunyai menantu
miskin dan dari suku lain. Kemudian ia mengajak Saniah beserta pembantu mereka
pergi ke tempat putranya untuk menggagalkan pernikahan itu. Saking geramnya, bu
Saleah meminta sopir mobil yang ia sewa untuk mengebut walaupun jalanan sangat
sulit. Alhasil, mobil yang mereka tumpangi tidak terkendali sehingga masuk
jurang lalu Saniah dan ibunya meninggal dunia.
Semenjak
Asri menduda, banyak wanita yang datang menghampirinya. Namun, ia tidak pernah
goyah untuk mencintai Asnah, walaupun wanita-wanita yang menghampirinya lebih
cantik. Asri tidak bisa lagi menahan cintanya. Setelah berunding dengan bibinya
yang sekarang merawat Asnah, ia memutuskan menikah dengan Asnah dan
meninggalkan segala harta dan jabatannya untuk merantau ke pulau Jawa, karena
jika tidak pergi dari situ, maka keduanya akan dikeluarkan dari suku secara tidak
hormat. Perantauannya menghasilkan sesuatu yang baik. Asri punya kedudukan yang
baik dan keduanya mempunyai banyak teman di sana. Di tengah rutinitas mereka di
Jawa, tepatnya di Jakarta, tiba-tiba datang surat dari Maninjau meminta agar
keduanya kembali ke sana dan Asri diminta untuk menjadi kepala pemerintahan.
Tanpa
pikir panjang mereka setuju untuk kembali ke Maninjau walaupun berat juga
meninggalkan kawan-kawannya di Jakarta. Mereka sangat rindu dengan kampung
kelahirannya itu.Setibanya di Maninjau, mereka disambut meriah oleh warga yang
sangat menghormati Asri atas jasa-jasanya sebelum ia merantau dulu dan atas
kelembutan tabiat Asnah. Berawal dari Asri yang salah pilih istri, ia menjadi
tahu siapa orang yang sebenarnya ia cintai dan dengan berusaha keras ia mampu
hidup bersama sang kekasih dalam mahligai rumah tangga yang penuh cinta di
kampung halaman tercinta.
3.2 Analisis Novel
1.
Tema
Tema dalam Novel
ini adalah tentang sosial, dimana menceritakan tentang kehidupan tokoh Asri
yang salah pilih dalam menentukan pasangan hidupnya.
2. Tokoh dan Penokohan
2.1 Tokoh Utama
·
Asnah : sabar, baik, setia
Seperti pada salah satu kutipan: “Enak, Ibu?
Bagus. Nanti saya minumkan sekali lagi. Mujarab… Sekarang hendak saya gosok
kaki Ibu yang sakit itu… Makcik, biar saya sendiri menjaga Ibu, pekerjaan
Makcik tentu banyak lagi yang lain-lain, bukan?” (Nur St. Iskandar, 2006:5)
·
Asri : baik, ramah, rendah hati
Seperti
pada salah satu kutipan: senantiasa kalau Asri sudah pulang, maka ramailah
rumah gedang itu. Anak muda-muda banyak turun naik, gelak, kelakar, dan
olok-olok kedengaran dengan riangnya. (Nur St. Iskandar, 2006:35)
·
Saniah : manja, sombong, pencemburu, pendendam,
Seperti pada salah satu kutipan: Saniah
berkata dengan cemooh dan ejeknya. Ia tidak menaruh perasaan baik dan tak suka
kepada anak-anak. (Nur St. Iskandar, 2006:60)
·
Mariati : penyayang, lembut, baik
Seperti pada salah
satu kutipan: “kini pun obat itu sudah memberi berkat, Asri. Kalau aku telah
melihat wajahmu, aku sehat sudah. Biar terbang penyakit itu, dan aku sembuh
sendiri kelak.” (Nur St. Iskandar, 2006: 24)
·
Sitti Maliah : sabar,
amanah, baik
Seperti
pada salah satu kutipan: “kalau tidak kakak minum, tentu takkan memberi faedah
rebusan ini,” jawab Sitti Maliah dengan sabar, sambil duduk bersimpuh di sisi
kanan ibu Mariati. (Nur St. Iskandar, 2006:1)
·
Rangkayo Saleah :
tegas, keras, sombong, tamak
Seperti pada
salah satu kutipan: Rangkayo Saleah berkata kepada anaknya, “Saniah, sebagai
telah kukatakan juga kepadamu, engkau hendak kuperjodohkan. Dan niat itu sampai
sudah, yakni engkau telah bertunangan dengan Asri, yang kebetulan telah
diangkat jadi klerk di kantor Maninjau. Syukur! Akan tetapi awas Saniah!
Pengajaranku kepadamu jangan kau lupakan.” (Nur St. Iskandar, 2006:75)
·
Rusiah : baik,
bijaksana
Seperti pada
salah satu kutipan: Coba kau camkan benar-benar, mengapa kita akan memuliakan
seseorang karena pangkatnya dan kekayaannya? Mengapa kita akan memandang hina
akan orang miskin, karena kemiskinannya itu? Ingat pepatah kita: yang tua
dimuliakan, yang kecil dikasihi... (Nur St. Iskandar, 2006:67)
·
Dt. Indomo : baik,
bijaksana
Seperti pada salah satu kutipan:
Bermula Dt. Indomo berdiam diri saja! Ia tidak setuju dengan pendapat istrinya
itu, sebab pikirannya dan pemandangannya sendiri amat luas dalam hal nikah
kawin. Dengan siapa saja anaknya hendak kawin, diizinkannya, asal perempuan
yang disukainya sebanding umurnya dengan umur anaknya itu: terpelajar, sehat,
orang baik-baik, dan betertib sopan. Kaya, miskin, bangsawan, berlain negeri,
dan sebagainya, sekaliannya itu tidak dipandangnya penting jadi alasan. (Nur
St. Iskandar, 2006:198)
·
Kaharuddin: baik,
gigih, tegas
Seperti
pada salah satu kutipan: Sebelum anakanda mengabarkan cita-cita dan niat maksud
yang termateri di dalam hati anakanda, lebih dahulu anakanda minta ampun dan
maaf kepada Ayah dan Bunda. Sebagaimana sudah Ayah dan Bunda ketahui jua agaknya,
sebab anakanda selalu berkirim surat pulang, kesehatan anakanda waktu ini insya
Allah tiada kurang apa-apa. Demikian jua tentang pekerjaan anakanda, tidak ada
yang tak menyenangkan hati. (Nur St. Iskandar, 2006:196)
·
Mariah: jujur, sabar
Seperti pada salah satu kutipan:
“Aku maklum, Anakku. Akan tetapi damai itu harus datang dari kedua belah pihak.
Barangkali akan datang waktunya kelak, orang di rumah gedang ini berhajatkan
hidup sentosa dan damai. Dalam hal itu hanya seperkara saja yang dapat kau lakukan,
yakni keluar dari sini… Dalam hal itu, pintu rumahku selalu terbuka bagimu,
Asnah! Engkau akan kuterima di sana dengan segala sukacita…. (Nur St. Iskandar,
2006:96)
2.1.Tokoh Figuran
·
Hasan Basri :
baik, beradab Seperti pada salah satu kutipan: …Sesunggunhnya ia sudah jatuh
cinta kepada Hasan Basri, saudagar muda di Kutaraja, yaitu kemenakan
seorang-orang kaya. Ia elok dan beradab…. (Nur St. Iskandar, 2006:63)
·
Ali : amanah Seperti pada salah satu kutipan:
…Tentang orang-orang di kampung kita ini, biarlah si Ali saja memanggilnya….
(Nur St. Iskandar, 2006:77)
·
Sutan Alamsyah : amanah
Seperti pada salah satu kutipan: “Sutan Alamsyah,” kata penghulu itu kepada
wakil orang rumah gedang itu…. (Nur St. Iskandar, 2006:82)
·
Datuk Maulana: baik Seperti pada salah satu
kutipan: “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun,” kata Datuk Maulana dan Baginda
Sati sekaligus… “kita mesti balik pulang, akan mengantarkan burung ini, sudah
itu kita pergi ke Kubu, melawat.” (Nur St. Iskandar, 2006:165)
·
Baginda Sati :
baik Seperti pada salah satu kutipan: “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun,”
kata Datuk Maulana dan Baginda Sati sekaligus… “kita mesti balik pulang, akan
mengantarkan burung ini, sudah itu kita pergi ke Kubu, melawat.” (Nur St.
Iskandar, 2006:165)
·
Sidi Sutan : pembantu
baik Seperti pada salah satu kutipan: Sekalian “perintah” itu dilakukan oleh
Sidi Sutan dengan secepat-cepatnya…. (Nur St. Iskandar, 2006:200)
·
Dewi: suka ngerumpi Seperti pada salah satu
kutipan: “Oh Mak Sarinah,” kata Saodah dengan ramah-tamah, “naik, Mak,
kebetulan si Dewi ada pula di sini. Senang hati saya, Mak tandangi. Perempuan
itu disilakan duduk di atas tikar, lalu ketiga mereka itu pun bercakap-cakap
dengan riang sambil makan sirih sekapur seorang. (Nur St. Iskandar, 2006:225)
·
Saodah : suka ngerumpi
Seperti pada salah satu kutipan: “Oh Mak Sarinah,” kata Saodah dengan
ramah-tamah, “naik, Mak, kebetulan si Dewi ada pula di sini. Senang hati saya,
Mak tandangi. Perempuan itu disilakan duduk di atas tikar, lalu ketiga mereka
itu pun bercakap-cakap dengan riang sambil makan sirih sekapur seorang. (Nur
St. Iskandar, 2006:225)
·
Mak Sarina: suka
ngerumpi Seperti pada salah satu kutipan: “Oh Mak Sarinah,” kata Saodah dengan
ramah-tamah, “naik, Mak, kebetulan si Dewi ada pula di sini. Senang hati saya,
Mak tandangi. Perempuan itu disilakan duduk di atas tikar, lalu ketiga mereka
itu pun bercakap-cakap dengan riang sambil makan sirih sekapur seorang. (Nur
St. Iskandar, 2006:225)
3. Sudut Pandang
Novel ini menggunakan sudut pandang orang
ketiga serba tahu, seperti pada salah satu kutipan: demi dilihat Ibu Mariati
hal sedemikian, ia pun tersenyum. (Nur Sutan Iskandar, 2006 : 2)
4. Alur
Novel ini menggunakan alur campuran (alur
maju dan mundur).
Ø Alur maju
Seperti pada salah satu kutipan: Asnah
menggosok matanya dengan jarinya yang halus sebagai duri landak itu. Kemudian
dilekapkannyalah pipinya kepada orang tua itu. (Nur St. Iskandar, 2006:225)
Ø Alur mundur
Seperti pada salah satu kutipan: “…Ketika umur
Asri kira-kira tiga tahun, kami beroleh seorang anak perempuan pula. Tapi tak
beberapa hari sesudah lahir ke dunia, iapun berpulang….” (Nur St. Iskandar,
2006:13)
5. Setting
5.1.
Waktu
Ø pagi
hari, seperti pada salah satu kutipan: Hari ahad pagi- pagi, jam besar yang
tergantung di dinding ruang tengah rumah gedang itu sudah berbunyi lima kali…
(Nur St. Iskandar, 2006:76)
Ø siang
hari, seperti pada salah satu kutipan: Makin tinggi hari, makin lenganglah di
pinggir danau itu… (Nur St. Iskandar, 2006:77)
Ø petang
hari, seperti pada salah satu kutipan: Ketika sekalian perempuan itu tiba
di gerbang rumah gedang pula, hari sudah petang. (Nur St. Iskandar, 2006:87)
Ø malam
hari, seperti pada salah satu kutipan: Pada malam itu Rangkayo Saleah hampir
tidak dapat tidur… (Nur St. Iskandar, 2006:206)
Ø
5.2.
Tempat
Ø Maninjau
Seperti
pada salah satu kutipan: Dari kantor pos pembantu Maninjau, surat-surat itu
dikirim orang ke kantor kepala negeri… (Nur St. Iskandar, 2006:193)
Ø Sungaibatang
Seperti
pada salah satu kutipan: Tiap-tiap hari Rabu di Sungaibatang diadakan pekan,
yaitu sebuah pasar… (Nur St. Iskandar, 2006:193)
Ø Bayur
Seperti
pada salah satu kutipan: …Apalagi Bayur hanya 5 tonggak jauhnya dari
Sungaibatang, atau 2 tonggak dari Maninjau… (Nur St. Iskandar, 2006:193)
Ø Bukit
tinggi
Seperti
pada salah satu kutipan: Tak selang berapa lama, ketiga mereka itu pun
berangkat ke Bukittinggi dengan oto sedan. (Nur St. Iskandar, 2006:208)
Ø Padang
Seperti
pada salah satu kutipan: Baru enam bulan anakanda tinggal di Padang, anakanda
sudah dapat berkenalan dengan Engku Sutan Suleman… (Nur St. Iskandar, 2006:197)
Ø Jakarta
Seperti pada salah satu kutipan: Sekalian buah
mulut orang kampung itu sampai jua ke telinga kedua suami istri itu, meskipun
mereka sudah jauh dari negerinya, sudah ada di kota Jakarta yang besar itu…
(Nur St. Iskandar, 2006:250)
5.3.
Suasana
Ø Pedih
Seperti
pada salah satu kutipan: Mulutnya bergerak- gerak, sebab menahan pedih
hatinya…. (Nur St. Iskandar, 2006:21)
Ø Tangis dan ratapan
seperti pada salah satu kutipan:
…ketika itu bukan buatan gelumat tangis dan ratap… (Nur St. Iskandar, 2006:165)
Ø Bahagia
Seperti pada salah satu kutipan:
…Rupanya pertemuan ibu dengan anak yang dicintai itu mendatangkan bahagia besar
kepada kedua belah pihaknya. (Nur St. Iskandar, 2006:23)
Ø Rindu
Seperti
pada salah satu kutipan: …Memang hatinya terharu sangat. Sedih, sayu, dan
rindu… (Nur St. Iskandar, 2006:209)
Ø Penyesalan
Seperti
pada salah satu kutipan: “…Ampuni kesalahanku, dosaku, ya, Kakanda.” (Nur St.
Iskandar, 2006:210)
Ø Takut dan gelisah
Seperti pada salah satu kutipan:
Saniah memandang sejenak kepada bundanya dengan ketakutan dan gelisah, lalu
menundukkan kepalanya. (Nur St. Iskandar, 2006:210)
6. Bahasa
Bahasa dalam novel Salah Pilih ini sebagian besar
bergaya Melayu sehingga terkadang sedikit sulit dipahami.
7.
Gaya Bahasa
1. “Dan
di dalam mangkun itu ada rebusan daun jeruk tujuh macam, yang masih suam-suam
kuku, sedang uapnya naik ke udara dengan selesai.” (Nur St. Iskandar, 2006:1)
Gaya bahasa yang digunakan adalah majas personifikasi.
2. “tak
usah kakak cium, minum saja cepat-cepat! Obat ini sangat mujarab, sudah banyak
orang yang sembuh olehnya.” (Nur St. Iskandar, 2006:1) Gaya bahasa yang
digunakan adalah majas hiperbola.
3. “Kepada
permaidani takkan berapa jahatnya dari kepada tubuhku.… (Nur St. Iskandar,
2006:2) Gaya bahasa yang digunakan adalah majas personifikasi.
4. Asnah!
Mana anakku itu? Mukanya akan jadi obat bagiku, Liah, bukan parasmu yang buruk
dan bengis ini.” (Nur St. Iskandar, 2006:2) Gaya bahasa yang digunakan adalah
majas hiperbola.
5. “Ya,
kalau Kakak memandang kecermin itu…Tapi lihat, Kakak, bajuku sudah sembuh kena
obat mujarab ini.” (Nur St. Iskandar, 2006:2) Gaya bahasa yang digunakan
adalah majas ironi.
6. “Inilah
saya, ibu,” kata anak gadis itu dengan riang dan tersenyum, sehingga tampaklah
“lesung pipit” pada kedua belah pipinya yang sebagai payuh dilayang itu. (Nur
St. Iskandar, 2006:4) Gaya bahasa yang digunakan adalah majas perumpamaan.
7. “Giginya
yang putih sebagai gading itu kelihatan dua jajar dengan indahnya. (Nur St. Iskandar,
2006:4) Gaya bahasa yang digunakan adalah majas perumpamaan.
8. Muka
orang tua pun berseri-seri seperti matahari yang baru terbit. (Nur St.
Iskandar, 2006:4) Gaya bahasa yang digunakan adalah majas perumpamaan.
9. Ngeri
sekali! Dan cahaya matahari pun menjadi gangguan pula kepadaku. (Nur St.
Iskandar, 2006:7) Gaya bahasa yang digunakan adalah majas personifikasi.
10. Demi
didengar Asnah perkataan yang akhir itu, mukanya yang hening jernih itu pun
seakan-akan disaputi oeh awan yang mengandung hujan. (Nur St. Iskandar,
2006:11) Gaya bahasa yang digunakan adalah majas perbandingan.
11. Supaya
berhak atas sesuatunya, haruslah saya bekerja membanting tulang. (Nur St.
Iskandar, 2006:11) Gaya bahasa yang digunakan adalah majas hiperbola.
12. Engkau
tak usah bermuram durja, karena hal yang merawankan hati ini. (Nur St.
Iskandar, 2006:13) Gaya bahasa yang digunakan adalah majas hiperbola.
13. Seperti
anaknya tidak laku kepada perempuan lain. Lebih panas lagi hatinya melihat St.
Penghulu sangat cinta kepada sabariah. Katanya, anaknya itu sudah termakan
“cirit berendeng”. (Nur St. Iskandar, 2006:14) Gaya bahasa yang digunakan
adalah majas perbandingan.
14. Asnah
berteriak karena terkejut, mukanya pucat sebagai mayat. (Nur St. Iskandar,
2006:25) Gaya bahasa yang digunakan adalah majas perumpamaan.
15. Dadanya
menjadi lapang rasanya, sebagai terlepas daripada tekanan suatu benda yang
berat. (Nur St. Iskandar, 2006:32) Gaya bahasa yang digunakan adalah majas
hiperbola.
16. Pemandangan,
pendengaran, dan perasaan bertukar, seakan-akan kita beroleh kehidupan baru.
(Nur St. Iskandar, 2006:36) Gaya bahasa yang digunakan adalah majas
personifikasi.
17. Akan
tetapi pikirannya melayang-layang jua kemana-mana (Nur St. Iskandar, 2006:44)
Gaya bahasa yang digunakan adalah majas personifikasi.
18. Menahan
jerit sedih dan pilu, yang menyesak-nyesak hendak keluar dari dadanya (Nur St.
Iskandar, 2006:49) Gaya bahasa yang digunakan adalah majas personifikasi.
19. Ketika
masih kanak-kanak pun hatinya sudah tersangkut pada Asri dengan kasih mesra
yang tak terperikan (Nur St. Iskandar, 2006:49) Gaya bahasa yang digunakan
adalah majas personifikasi.
20. Dan
perasaan yang teramat manis bercampur sedih timbullah di dalam hatinya (Nur St.
Iskandar, 2006:49) Gaya bahasa yang digunakan adalah majas personifikasi.
21. Ia
mengeluh sekali lagi, hatinya remuk redam (Nur St. Iskandar, 2006:51) Gaya
bahasa yang digunakan adalah majas hiperbola.
22. Alisnya
yang seperti bentuk taji dan bulu matanya yang hitam sebagai semut beriring
(Nur St. Iskandar, 2006:53) Gaya bahasa yang digunakan adalah majas
perumpamaan.
23. Memang
paras anak gadis itu tak ubah sebagai sekuntum bunga yang baru kembang. (Nur
St. Iskandar, 2006:53) Gaya bahasa yang digunakan adalah majas perumpamaan.
24. Jam
besar yang tergantung di dinding ruang tengah rumah gedung itu sudah berbunyi
lima kali, alamat hari sudah pukul lima waktu subuh. (Nur St. Iskandar,
2006:76) Gaya bahasa yang digunakan adalah majas personifikasi.
25. Kelihatanlah
panas matahari menerangi puncak bukit Barisan. (Nur St. Iskandar, 2006:76) Gaya
bahasa yang digunakan adalah majas personifikasi.
26. Panas
itu turun ke bawah dengan perlahan-lahan. (Nur St. Iskandar, 2006:76) Gaya
bahasa yang digunakan adalah majas personifikasi.
27. Makin
lama panas itu makin menjalar masuk danau. (Nur St. Iskandar, 2006:76) Gaya
bahasa yang digunakan adalah majas personifikasi.
28. Dan
akhirnya sampailah panas itu ke pinggir danau yang di sebelah timur. (Nur St.
Iskandar, 2006:76) Gaya bahasa yang digunakan adalah majas personifikasi.
29. Waktu
berjalan juga dengan perlahan-lahan. (Nur St. Iskandar, 2006:78) Gaya bahasa
yang digunakan adalah majas personifikasi.
30. Ingatannya
terbang kemana-mana. (Nur St. Iskandar, 2006 :84) Gaya bahasa yang digunakan
adalah majas personifikasi.
31. Matahari
hampir terbenam, hilang di bukit Barisan. (Nur St. Iskandar, 2006:87) Gaya
bahasa yang digunakan adalah majas personifikasi.
32. Tidak
silau lagi mata menentang maharaja siang yang hendak masuk ke peraduannya itu.
(Nur St. Iskandar, 2006:87) Gaya bahasa yang digunakan adalah majas
personifikasi.
33. Pada
pemandangan Asri adalah dia sebagai seorang bidadari yang baru turun dari
kayangan. (Nur St. Iskandar, 2006:87) Gaya bahasa yang digunakan adalah majas
perumpamaan.
34. Bencana
Rangkayo Saleah yang sangat hebat itu telah menyayat-nyayat hati jantungnya. (Nur
St. Iskandar, 2006:89) Gaya bahasa yang digunakan adalah majas personifikasi.
35. Bahwa cinta itu pada perempuan biasanya
mula-mula terbit di dalam hati, kemudian baru sampai ke mulut. (Nur St.
Iskandar, 2006:120) Gaya bahasa yang digunakan adalah majas personifikasi.
36. Ketika matahari terbit dan cahayanya masuk ke
kamar dari jendela, maka orang tua itu pun membeliakan matanya serta memandang
ke hadapan dengan tenang. (Nur St. Iskandar, 2006:161) Gaya bahasa yang digunakan
adalah majas personifikasi.
37. Dan tidak lama sesudah itu napasnya pun
hilang dengan selesai. (Nur St. Iskandar, 2006:163) Gaya bahasa yang digunakan
adalah majas personifikasi.
38. Matahari sudah mulai naik dan kebanyakan
orang sudah pergi ke pekerjaannya masing-masing. (Nur St. Iskandar, 2006:164)
Gaya bahasa yang digunakan adalah majas personifikasi.
39. Sebentar antaranya terdengar pula gemanya,
yang berbalik dari bukit yang menahan bunyi itu. (Nur St. Iskandar, 2006:164)
Gaya bahasa yang digunakan adalah majas personifikasi.
40. Ia tidak tahu dan ingat, bahwa perasaan itu
sudah memberi bahagia kepadanya. (Nur St. Iskandar, 2006:171) Gaya bahasa yang
digunakan adalah majas personifikasi.
41. Akan tetapi ketika dipandanginya muka Asri
yang pucat sebagai mayat itu keheranannya itu pun bertukar dengan takut dan
khawatir. (Nur St. Iskandar, 2006:175) Gaya bahasa yang digunakan adalah majas
perumpamaan
42. Badannya gemetar, dadanya turun naik dengan
kencang…. (Nur St. Iskandar, 2006:177) Gaya bahasa yang digunakan adalah majas
hiperbola.
43. Awan berarak di atas air, melindungi
biduk-biduk yang bersimpang siur itu. (Nur St. Iskandar, 2006:209) Gaya bahasa
yang digunakan adalah majas personifikasi.
44. Sejurus lamanya mereka itu tengah
lurus-lurus, seperti matahari dengan bulan. (Nur St. Iskandar, 2006:244) Gaya
bahasa yang digunakan adalah majas perumpamaan.
8. Amanat
ü
Walaupun sudah berpendidikan tinggi, janganlah lupa pada adat negeri
sendiri
ü
Janganlah menilai seseorang dari rupa atau hartanya saja
ü
Jangan membeda-bedakan orang karena kaya atau miskinnya
ü
Menurut pada perintah dan nasihat orang tua itu wajib, tetapi jika
perintah orang tua itu salah, sebisa mungkin harus bisa menolaknya
ü
Sesuatu yang menurut orang banyak itu salah, belum tentu merupakan suatu
kesalahan
9. Simpulan
9.1 Kelebihan
v
Ada beberapa kata yang memakai gaya bahasa sehingga karya sastra lebih
indah dilihat dan dibaca.
v
Mengingatkan kita janganlah lupa pada adat negeri sendiri
v
Mengingatkan kita janganlah menilai seseorang dari rupa atau hartanya
saja
v
Mengingatkan kita jangan membeda-bedakan orang karena kaya atau
miskinnya
v
Mengingatkan kita agar menurut pada perintah dan nasihat orang tua itu
wajib, tetapi jika perintah orang tua itu salah, sebisa mungkin harus bisa
menolaknya.
v
Mengingatkan kita bahwa sesuatu yang menurut orang banyak itu salah,
belum tentu merupakan suatu kesalahan.
9.2 Kekurangan
v
Menggunakan bahasa melayu sehingga pembaca menemui kesulitan dalam
memahami novel tersebut
BAB IV PENUTUP
4.1 Simpulan
Dari berbagai macam
pengamatan terhadap karya novel dari angkatan Balai Pustaka tersebut, kami
menyimpulkan bahwa tidaklah mudah untuk melestarikan serta mengapresiasikan
sebuah karya sastra yang berupa novel, tentunya sangat memerlukan kejelian.
Tetapi dari menganalisis novel, kita dapat mengetahui isi novel melalui
unsur-unsur intrinsik dan mempelajari serta meneladani hal-hal yang terdapat
pada novel tersebut.
4.2 Saran
Melihat
perkembangan zaman seperti sekarang ini, sebaiknya sebagai generasi penerus
kita harus melestarikan karya sastra lama. Karena sekarang sedikit orang yang
tertarik oleh karya sastra lama karena tergeser oleh karya modern yang lebih
menarik perhatian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar