ANALISIS
KEBUDAYAAN JAWA
Disusun
Oleh:
1. Khamimah
2. Rina
Lovitasari
3. Saraya
Qhistina H.
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
TIDAR
2015
BAB
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa
Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi
(budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal
manusia. Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah
kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur
yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas,
pakaian, bangunan,
dan karya seni.
Berdasarkan wujudnya, kebudayaan
dapat digolongkan atas dua komponen utama: kebudayaan material dan nonmaterial. Kebudayaan material mengacu pada
semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret. Termasuk dalam kebudayaan
material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi:
mangkuk tanah liat, perhisalan, senjata, dan seterusnya. Kebudayaan material
juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion
olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci. Kebudayaan
nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke
generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian
tradisional.
Suku Jawa merupakan
salah satu suku di Indonesia yang memiliki banyak kebudayaan. Budaya Jawa adalah budaya yang berasal
dari Jawa dan dianut oleh masyarakat Jawa khususnya di Jawa Tengah, DIY dan Jawa
Timur. Budaya Jawa secara garis besar dapat dibagi
menjadi 3 yaitu budaya Banyumasan, budaya Jawa Tengah-DIY dan budaya Jawa
Timur. Budaya Jawa mengutamakan keseimbangan, keselarasan dan keserasian dalam
kehidupan sehari hari.
Kebudayaan jawa sudah
ada setelah abad ke 1 Masehi. Buday jawa memiliki banyak unsur-unsur budaya.
Dimulai dari sistem mata pencaharian, masyarakat jawa juga memiliki sektor
pariwisata yang luas. Tidak sedikit dari wisatawan dan para turis mancanegara
yangd datang untuk melihat kekayaan budaya jawa. Kebudayaan Jawa juga bergerak
dibidang pertanian dan perikanan. Selain itu, kebudayaan Jawa juga memiliki
nilai seni yang begitu tinggi dimulai dari alat-alat musik tradisional hingga
tari-tarian tradisional.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang diambil dalam
makalah ini adalah “Bagaimana hasil analisis budaya jawa sesuai dengan tujuh
unsur kebudayaan?”
1.3 Tujuan
Tujuan dibuatnya makalah ini adalah
sebagai berikut:
1)
Memenuhi tugas mata kuliah sastra dan
budaya Indonesia
2)
Memahami kebudayaan-kebudayaan yang ada
di Jawa
3)
Mengetahui dan menganalisis tujuh unsur
kebudayaan Jawa
BAB
2. PEMBAHASAN
2.1
Bahasa Kebudayaan Jawa
Suku
Jawa sebagian besar menggunakan bahasa Jawa dalam bertutur sehari-hari. Bahasa
Jawa memiliki aturan perbedaan kosa kata dan intonasi berdasarkan hubungan
antara pembicara dan lawan bicara, yang dikenal dengan unggah-ungguh. Aspek
kebahasaan ini memiliki pengaruh sosial yang kuat dalam budaya Jawa, dan
membuat orang Jawa biasanya sangat sadar akan status sosialnya di masyarakat.
Kelompok Bahasa Jawa
Bagian Barat, kelompok pertama ini sering disebut bahasa Jawa ngapak-ngapak.
Ø Dialek
Banten
Ø Dialek
Cirebon
Ø Dialek
Tegal
Ø Dialek
Banyumasan
Ø Dialek
Bumiayu (peralihan Tegal dan Banyumas)
Kelompok Bahasa Jawa
Bagian Tengah, kelompok kedua ini sering disebut Bahasa Jawa Standar, khususnya
dialek Surakarta dan Yogyakarta, antara lain adalah sebagai berikut:
Ø
Dialek Pekalongan
Ø
Dialek Kedu
Ø
Dialek Bagelen
Ø
Dialek Semarang
Ø
Dialek Pantai Utara Timur (Jepara,
Rembang, Demak, Kudus, Pati)
Ø
Dialek Blora
Ø
Dialek Surakarta
Ø
Dialek Yogyakarta
Ø
Dialek Madiun
Kelompok Bahasa Jawa
Bagian Timur :
Ø Dialek
Pantura Jawa Timur (Tuban, Bojonegoro)
Ø Dialek
Surabaya
Ø Dialek
Malang
Ø Dialek
Jombang
2.2
Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi Kebudayaan Jawa
Sebagai
suatu kebudayaan, suku Jawa tentu memiliki peralatan dan perlengkapan hidup
yang khas diantaranya yang paling menonjol adalah dalam segi bangunan.
Masyarakat yang bertempat tinggal di daerah Jawa memiliki ciri sendiri dalam
bangunan mereka, khususnya rumah tinggal. Ada beberapa jenis rumah yang dikenal oleh masyarakat suku
Jawa, diantaranya adalah rumah limasan, rumah joglo, dan rumah serotong. Rumah
limasan, adalah rumah yang paling umum ditemui di daerah Jawa, karena rumah ini
merupakan rumah yang dihuni oleh golongan rakyat jelata. Sedangkan rumah Joglo,
umumnya dimiliki sebagai tempat tinggal para kaum bangsawan, misalnya saja para
kerabat keraton.
Umumnya
rumah di daerah Jawa menggunakan bahan batang bambu, glugu (batang pohon
nyiur), dan kayu jati sebagai kerangka atau pondasi rumah. Sedangkan untuk
dindingnya, umum digunakan gedek atau anyaman dari bilik bambu, walaupun
sekarang, seiring dengan perkembangan zaman, banyak juga yang telah menggunakan
dinding dari tembok. Atap pada umumnya terbuat dari anyaman kelapa kering
(blarak) dan banyak juga yang menggunakan genting. Dalam sektor pertanian,
alat-alat pertanian diantantaranya: bajak (luku), grosok, bakul besar tenggok,
garu.
2.3
Sistem Ekonomi dan Mata Pencaharian
Pada
umumnya masyarakat bekerja pada segala bidang, terutama administrasi negara dan
kemiliteran yang memang didominasi oleh orang Jawa. Selain itu, mereka bekerja
pada sektor pelayanan umum, pertukangan, perdagangan dan pertanian dan
perkebunan. Sektor pertanian dan perkebunan, mungkin salah satu yang paling
menonjol dibandingkan mata pencaharian lain, karena seperti yang kita tahu,
baik Jawa Tengah dan Jawa Timur banyak lahan-lahan pertanian yang beberapa
cukup dikenal, karena memegang peranan besar dalam memasok kebutuhan nasional,
seperti padi, tebu, dan kapas.
1. Pertanian.
Yang dimaksud pertanian disini terdiri atas pesawahan dan perladangan
(tegalan), tanaman utama adalah padi. Tanaman lainnya jagung, ubi jalar, kacang
tanah, kacang hijau dan sayur mayor, yang umumnya ditanam di tegalan. Sawah
juga ditanami tanaman perdagangan, seperti tembakau, tebu dan rosella.
2. Perikanan.
Adapun usaha yang dilakukan cukup banyak baik perikanan darat dan perikanan
laut. Perikanan laut diusahakan di pantai utara laut jawa. Peralatannya berupa
kail, perahu, jala dan jarring
3. Peternakan.
Binatang ternak berupa kerbau, sapi, kambing, ayam dan itik dan lain-lain.
4. Kerajinan.
Kerajinan sangat maju terutama menghasilkan batik, ukir-ukiran, peralatan rumah
tangga, dan peralatan pertanian.
Dalam
suku Jawa atau masyaraakat Jawa biasanya bermata pencaharian bertani, baik
bertani disawah maupun tegalan, juga Beternak pada umumnya bersipat sambilan,
selain itu juga masyarakat Jawa bermata pencaharian Nelayan yang biasanya
dilakukan masyarakat pantai.
2.4
Sistem Kemasyarakatan dan Organisasi Sosial
Budaya
Jawa mengutamakan keseimbangan, keselarasan dan keserasian dalam kehidupan
sehari hari. Budaya Jawa menjunjung tinggi kesopanan dan kesederhanaan. Semua unsur kehidupan harus harmonis, saling berdampingan, intinya semua
harus sesuai. Segala sesuatu yang menimbulkan ketidak cocokan harus dihindari, kalau ada hal yang dapat mengganggu keharmonisan
harus cepat dibicarakan untuk dibetulkan agar dapat kembali harmonis dan cocok
lagi.
Biasanya
yang menganggu keharmonisan adalah perilaku manusia, baik itu
perilaku manusia dengan manusia atau perilaku manusia dengan alam. Kalau
menyangkut perilaku manusia dengan alam yang membetulkan ketidakharmonisan
adalah pemimpin atau menjadi tanggungjawab pimpinan masyarakat. Yang sulit
apabila keseimbangan itu diganggu oleh perilaku manusia dengan manusia sehingga
menimbulkan konflik. Ketidakcocokan atau rasa tidak suka adalah hal yang umum,
namun untuk menghindari konflik, umumnya rasa tidak cocok itu dipendam saja.
Upaya menjaga harmonisasi ini membuat kebanyakan orang
Jawa tidak suka konflik secara terbuka. Tidak sampai hati jika ada rasa tidak puas, tidak cocok kemudian
dibicarakan secara lugas ke
orangnya apalagi kalau di depan orang banyak atau forum. Untuk menyelesaikan
konflik orang
suku Jawa ini lebih suka
dibicarakan secara pribadi dulu daripada langsung dibuka di forum dan diketahui orang banyak.
Namun cara ini ada kelemahannya, karena tidak mau berbicara terbuka, orang Jawa
menjadi lebih suka kasak kusuk atau menggerudel di belakang. Akibatnya, bukan
mencoba mengembalikan keseimbangan atau harmonisasi malah justru memelihara
ketidakharmonisan.
Selain
hal-hal yang disebutkan di atas, suku jawa memiliki sistem kekerabatan dan
sistem kemasyarakatan sebagai berikut:
1. Sistem
kekerabatan.
Dalam sistem kekerabatan Jawa keturunan
dari Ibu dan Ayah dianggap sama haknya, dan warisan anak perempuan sama dengan
warisan laki-laki, tetapi berbeda dengan banyak suku bangsa yang lain, yang ada
Indonesia. Misalnya, dengan suku-suku Batak di Sumatra Utara, masyarakat jawa
tidak mengenal sistem marga. Susunan kekerabatan suku jawa berdasarkan pada
keturunan kepada kedua belah pihak yang di sebut Bilateral atau Parental yang
menunjukan sistem penggolongan menurut angkatan-angkatan. Walaupun hubungan
kekerabatan diluar keluarga inti tidak begitu ketat aturannya, namun bagi orang
jawa hubungan dengan keluarga jauh tetap penting.
2. Sistem
Kemasyarakatan.
Dalam sistem kemasyarakatan, akan
dibahas mengenai pelapisan sosial. Dalam sistem kemasyarakatan Jawa, dikenal 4
tingkatan yaitu Priyayi, Ningrat atau Bendara, Santri dan Wong Cilik.
Priyayi ini sendiri konon berasal dari
dua kata bahas Jawa, yaitu “para” dan “yayi” atau yang berarti para adik. Dalam
istilah kebudayaan Jawa, istilah priyayi ini mengacu kepada suatu kelas sosial
tertinggi di kalangan masyarakat biasa setelah Bendara atau ningrat karena
memiliki status sosial yang cukup tinggi di masyarakat. Biasanya kaum priyayi
ini terdiri dari para pegawai negeri sipil dan para kaum terpelajar yang memiliki
tingkatan pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang-orang
disekitarnya
Ningrat atau Bendara adalah kelas
tertinggi dalam masyarakat Jawa. Pada tingkatan ini biasanya diisi oleh para
anggota keraton, atau kerabat-kerabatnya, baik yang memiliki hubungan darah
langsung, maupun yang berkerabat akibat pernikahan. Bendara pun memiliki banyak
tingkatan juga di dalamnya, mulai dari yang tertinggi, sampai yang terendah.
Hal ini dapat dengan mudah dilihat dari gelar yang ada di depan nama seorang
bangsawan tersebut.
Yang ketiga adalah golongan santri.
Golongan ini tidak merujuk kepada seluruh masyarakat suku Jawa yang beragama
muslim, tetapi, lebih mengacu kepada para muslim yang dekat dengan agama, yaitu
para santri yang belajar di pondok-pondok yang memang banyak tersebar di
seluruh daerah Jawa.
Terakhir, adalah wong cilik atau golongan masyarakat
biasa yang memiliki kasta terendah dalam pelapisan sosial. Biasanya golongan
masyarakat ini hidup di desa-desa dan bekerja sebagai petani atau buruh.
2.5 Ilmu Pengetahuan Kebudayaan
Jawa
Salah satu bentuk sistem pengetahuan yang ada,
berkembang, dan masih ada hingga saat ini, adalah bentuk penanggalan atau
kalender. Bentuk kalender Jawa adalah salah satu bentuk pengetahuan yang maju
dan unik yang berhasil diciptakan oleh para masyarakat Jawa kuno, karena
penciptaanya yang terpengaruh unsur budaya islam, Hindu-Budha, Jawa Kuno, dan
bahkan sedikit budaya barat. Namun tetap dipertahankan penggunaanya hingga saat
ini, walaupun penggunaanya yang cukup rumit, tetapi kalender Jawa lebih lengkap
dalam menggambarkan penanggalan, karena didalamnya berpadu dua sistem
penanggalan, baik penanggalan berdasarkan sistem matahari (sonar/syamsiah) dan
juga penanggalan berdasarkan perputaran bulan (lunar/komariah).
Pada sistem kalender Jawa, terdapat dua siklus hari
yaitu siklus 7 hari seperti yang kita kenal saat ini, dan sistem panacawara
yang mengenal 5 hari pasaran. Sejarah penggunaan kalender Jawa baru ini,
dimulai pada tahun 1625, dimana pada saat itu, sultan agung, raja kerajaan Mataram,
yang sedang berusaha menyebarkan agama islam di pulau Jawa, mengeluarkan dekrit
agar wilayah kekuasaanya menggunakan sistem kalender hijriah, namun angka tahun
hijriah tidak digunakan demi asas kesinambungan. Sehingga pada saat itu adalah
tahun 1025 hijriah, namun tetap menggunakan tahun saka, yaitu tahun 1547.
Dalam sistem kalender Jawa juga terdapat dua versi
nama-nama bulan, yaitu nama bulan dalam kalender Jawa matahari, dan kalender
Jawa bulan. Nama- nama bulan dalam sistem kalender Jawa komariah (bulan)
diantaranya adalah suro, sapar, mulud, bakdamulud, jumadilawal, jumadil akhir,
rejeb, ruwah, poso, sawal, sela, dan dulkijah. Namun, pada tahun 1855 M, karena
sistem penanggalan komariah dianggap tidak cocok dijadikan patokan petani dalam
menentukan masa bercocok tanam, maka Sri Paduka Mangkunegaran IV mengesahkan
sistem kalender berdasarkan sistem matahari. Dalam kalender matahari pun
terdapat dua belas bulan.
2.6
Kesenian Budaya Jawa
Jawa
memiliki banyak kesenian misalnya seperti Reog Ponorogo, Tari Remo, Batik khas Tulungagungan, Marmer dan batu
Onix. Tulungagung merupakan salah satu penghasil marmer terbesar di Indonesia.
Kerajinan Kulit hewan, misalnya kerajinan dompet dari kulit, sabuk dari kulit,
sandal dari kulit, dll. Kerajinan dari ijuk atau dari kulit kelapa, misalnya
keset (pembersih kaki), sapu, dll. Kerajinan ini ada di Desa Plosokandang dan
sekitarnya. Makanan khas : Tape bakar, biasa ada di pinggir-pinggir jalan Kota
Tulungagung, Krupuk / Opak rambak,
Sompel Tulungagung, lontong + lodeh, Jenang abang, jenang putih, jenang
grendul, Sambel Tumpang, Pecel.
Orang
Jawa terkenal dengan budaya seninya yang terutama dipengaruhi oleh agama
Hindu-Buddha, yaitu pementasan wayang. Repertoar cerita wayang atau lakon
sebagian besar berdasarkan wiracarita Ramayana dan Mahabharata. Selain pengaruh
India, pengaruh Islam dan Dunia Barat ada pula. Seni batik dan keris merupakan
dua bentuk ekspresi masyarakat Jawa. Musik gamelan, yang juga dijumpai di Bali
memegang peranan penting dalam kehidupan budaya dan tradisi Jawa. Sistem
kesenian masyarakat jawa memiliki dua tipe yaitu, tipe jawa tengah dan jawa
timur.
1.
Kesenian tipe Jawa Tengah
Wujud
kesenian tipe Jawa Tengah bermacam-macam misalnya sebagai berikut:
Ø Seni
Tari Contoh: Seni tari tipe jawa tengah adalah tari serimpi dan tari bambang
cakil, tari jaipong.
Ø Seni
Tembang berupa lagu-lagu daerah jawa, misalnya lagu-lagu dolanan suwe ora jamu,
gek kepiye dan pitik tukung.
Ø Seni
pewayangan merupakan wujud seni teater di Jawa Tengah.
Ø Seni
teater tradisional wujud seni teater tradisional di Jawa Tengah antara lain
adalah ketoprak.
2.
Kesenian tipe Jawa Timur
Wujud
kesenian dari pesisir dan ujung timur serta madura juga bermacam-macam, misalnya sebagai berikut:
Ø Seni
tari dan teater antara lain tari ngremo, tari tayuban, dan tari kuda lumping.
Ø Seni
pewayangan antara lain wayang beber.
Ø Seni
suara antara lain berupa lagu-lagu daerah seperti tanduk majeng (dari Madura)
dan ngidung (dari Surabaya).
Ø Seni
teater tradisional antara lain ludruk dan kentrung.
3.
Rumah adat Jawa
Rumah
adat Jawa antara lain corak limasan dan joglo. Rumah situbondo merupakan model
rumah adat Jawa Timur yang mendapat pengaruh dari rumah Madura.
4.
Pakaian adat Jawa
Pakaian
pria Jawa Tengah adalah penutup kepala yang di sebut kuluk, berbaju jas
sikepan, korset dan kris yang terselip di pinggang. Memakai kain batik dengan
pola dan corak yang sama dengan wanita. Wanitanya memakai kain kebaya panjang
dengan batik sanggulnya disebut bakor mengkurep yang diisi dengan daun pandan
wangi.
2.7
Sistem Kepercayaan
Ciri atau identitas lainnya dari budaya Jawa adalah keyakinan Kejawen.
Kejawen adalah kepercayaan yang hidup di
suku Jawa. Kejawen pada dasarnya bersumber dari kepercayaan Animisme yang
dipengaruhi ajaran Hindu dan Budha. Karena itulah suku Jawa umumnya dianggap
sebagai suku yang mempunyai kemampuan menjalani sinkretisme kepercayaan, semua
budaya luar diserap dan ditafsirkan menurut nilai-nilai Jawa.
Kepercayaan Kejawen yang merupakan sinkretisme antara animisme dengan
ajaran Hindu dan Budha menggambarkan bahwa orang Jawa pada dasarnya bersifat
pluralis, terbuka, mudah menerima pengaruh budaya luar dan pandai
menyesuaikannya dengan budaya sendiri dan bahkan mengolahnya menjadi bentuk
budaya baru yang tidak kalah bahkan lebih bagus dari budaya aslinya. Contohnya
seni tari dan wayang yang berkembang di Jawa dan Bali bersumber dari
kisah Mahabarata dan Ramayana , namun jauh lebih indah dari Negara asalnya
India. Namun,
untuk saat ini sistem kepercyaan masyarakat Jawa
sangatlah beragam dan memilki banyak perbedaan yang tetapi masih berdiri di
satu dasar kesatuan. Agama yang dianut umumnya adalah katolik, Kristen. Buddha,
Hindu, dan Islam.
BAB
3. PENUTUP
3.1
Simpulan
Suku
Jawa merupakan salah satu suku di Indonesia yang memiliki banyak kebudayaan.
Budaya Jawa adalah budaya yang berasal dari Jawa dan dianut oleh masyarakat
Jawa khususnya di Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur. Budaya Jawa secara garis
besar dapat dibagi menjadi 3 yaitu budaya Banyumasan, budaya Jawa Tengah-DIY
dan budaya Jawa Timur. Budaya Jawa mengutamakan keseimbangan, keselarasan dan
keserasian dalam kehidupan sehari hari. Keberagaman dan keuniversalan yang
digenggam masyarakat Jawa sangatlah kental dan tak dapat dipungkiri bahwa
banyak kebudayaan asing yang berusaha masuk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar