Rabu, 01 November 2017

Kebudayaan Jawa




ANALISIS KEBUDAYAAN JAWA





Disusun Oleh:
1.      Khamimah
2.      Rina Lovitasari
3.      Saraya Qhistina H.


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TIDAR
2015

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.  
Berdasarkan wujudnya, kebudayaan dapat digolongkan atas dua komponen utama: kebudayaan material dan nonmaterial. Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhisalan, senjata, dan seterusnya. Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci. Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.
Suku Jawa merupakan salah satu suku di Indonesia yang memiliki banyak kebudayaan. Budaya Jawa adalah budaya yang berasal dari Jawa dan dianut oleh masyarakat Jawa khususnya di Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur. Budaya Jawa secara garis besar dapat dibagi menjadi 3 yaitu budaya Banyumasan, budaya Jawa Tengah-DIY dan budaya Jawa Timur. Budaya Jawa mengutamakan keseimbangan, keselarasan dan keserasian dalam kehidupan sehari hari.
Kebudayaan jawa sudah ada setelah abad ke 1 Masehi. Buday jawa memiliki banyak unsur-unsur budaya. Dimulai dari sistem mata pencaharian, masyarakat jawa juga memiliki sektor pariwisata yang luas. Tidak sedikit dari wisatawan dan para turis mancanegara yangd datang untuk melihat kekayaan budaya jawa. Kebudayaan Jawa juga bergerak dibidang pertanian dan perikanan. Selain itu, kebudayaan Jawa juga memiliki nilai seni yang begitu tinggi dimulai dari alat-alat musik tradisional hingga tari-tarian tradisional.
1.2  Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang diambil dalam makalah ini adalah “Bagaimana hasil analisis budaya jawa sesuai dengan tujuh unsur kebudayaan?”
1.3  Tujuan
Tujuan dibuatnya makalah ini adalah sebagai berikut:
1)      Memenuhi tugas mata kuliah sastra dan budaya Indonesia
2)      Memahami kebudayaan-kebudayaan yang ada di Jawa
3)      Mengetahui dan menganalisis tujuh unsur kebudayaan Jawa



BAB 2. PEMBAHASAN
2.1 Bahasa Kebudayaan Jawa
Suku Jawa sebagian besar menggunakan bahasa Jawa dalam bertutur sehari-hari. Bahasa Jawa memiliki aturan perbedaan kosa kata dan intonasi berdasarkan hubungan antara pembicara dan lawan bicara, yang dikenal dengan unggah-ungguh. Aspek kebahasaan ini memiliki pengaruh sosial yang kuat dalam budaya Jawa, dan membuat orang Jawa biasanya sangat sadar akan status sosialnya di masyarakat.
Kelompok Bahasa Jawa Bagian Barat, kelompok pertama ini sering disebut bahasa Jawa ngapak-ngapak.
Ø  Dialek Banten
Ø  Dialek Cirebon
Ø  Dialek Tegal
Ø  Dialek Banyumasan
Ø  Dialek Bumiayu (peralihan Tegal dan Banyumas)
Kelompok Bahasa Jawa Bagian Tengah, kelompok kedua ini sering disebut Bahasa Jawa Standar, khususnya dialek Surakarta dan Yogyakarta, antara lain adalah sebagai berikut:
Ø  Dialek Pekalongan
Ø  Dialek Kedu
Ø  Dialek Bagelen
Ø  Dialek Semarang
Ø  Dialek Pantai Utara Timur (Jepara, Rembang, Demak, Kudus, Pati)
Ø  Dialek Blora
Ø  Dialek Surakarta
Ø  Dialek Yogyakarta
Ø  Dialek Madiun
Kelompok Bahasa Jawa Bagian Timur :
Ø  Dialek Pantura Jawa Timur (Tuban, Bojonegoro)
Ø  Dialek Surabaya
Ø  Dialek Malang
Ø  Dialek Jombang
2.2 Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi Kebudayaan Jawa
Sebagai suatu kebudayaan, suku Jawa tentu memiliki peralatan dan perlengkapan hidup yang khas diantaranya yang paling menonjol adalah dalam segi bangunan. Masyarakat yang bertempat tinggal di daerah Jawa memiliki ciri sendiri dalam bangunan mereka, khususnya rumah tinggal. Ada beberapa  jenis rumah yang dikenal oleh masyarakat suku Jawa, diantaranya adalah rumah limasan, rumah joglo, dan rumah serotong. Rumah limasan, adalah rumah yang paling umum ditemui di daerah Jawa, karena rumah ini merupakan rumah yang dihuni oleh golongan rakyat jelata. Sedangkan rumah Joglo, umumnya dimiliki sebagai tempat tinggal para kaum bangsawan, misalnya saja para kerabat keraton.
Umumnya rumah di daerah Jawa menggunakan bahan batang bambu, glugu (batang pohon nyiur), dan kayu jati sebagai kerangka atau pondasi rumah. Sedangkan untuk dindingnya, umum digunakan gedek atau anyaman dari bilik bambu, walaupun sekarang, seiring dengan perkembangan zaman, banyak juga yang telah menggunakan dinding dari tembok. Atap pada umumnya terbuat dari anyaman kelapa kering (blarak) dan banyak juga yang menggunakan genting. Dalam sektor pertanian, alat-alat pertanian diantantaranya: bajak (luku), grosok, bakul besar tenggok, garu.
2.3 Sistem Ekonomi dan Mata Pencaharian
Pada umumnya masyarakat bekerja pada segala bidang, terutama administrasi negara dan kemiliteran yang memang didominasi oleh orang Jawa. Selain itu, mereka bekerja pada sektor pelayanan umum, pertukangan, perdagangan dan pertanian dan perkebunan. Sektor pertanian dan perkebunan, mungkin salah satu yang paling menonjol dibandingkan mata pencaharian lain, karena seperti yang kita tahu, baik Jawa Tengah dan Jawa Timur banyak lahan-lahan pertanian yang beberapa cukup dikenal, karena memegang peranan besar dalam memasok kebutuhan nasional, seperti padi, tebu, dan kapas.
1.      Pertanian. Yang dimaksud pertanian disini terdiri atas pesawahan dan perladangan (tegalan), tanaman utama adalah padi. Tanaman lainnya jagung, ubi jalar, kacang tanah, kacang hijau dan sayur mayor, yang umumnya ditanam di tegalan. Sawah juga ditanami tanaman perdagangan, seperti tembakau, tebu dan rosella.
2.      Perikanan. Adapun usaha yang dilakukan cukup banyak baik perikanan darat dan perikanan laut. Perikanan laut diusahakan di pantai utara laut jawa. Peralatannya berupa kail, perahu, jala dan jarring
3.      Peternakan. Binatang ternak berupa kerbau, sapi, kambing, ayam dan itik dan lain-lain.
4.      Kerajinan. Kerajinan sangat maju terutama menghasilkan batik, ukir-ukiran, peralatan rumah tangga, dan peralatan pertanian.
Dalam suku Jawa atau masyaraakat Jawa biasanya bermata pencaharian bertani, baik bertani disawah maupun tegalan, juga Beternak pada umumnya bersipat sambilan, selain itu juga masyarakat Jawa bermata pencaharian Nelayan yang biasanya dilakukan masyarakat pantai.
2.4 Sistem Kemasyarakatan dan Organisasi Sosial
Budaya Jawa mengutamakan keseimbangan, keselarasan dan keserasian dalam kehidupan sehari hari. Budaya Jawa menjunjung tinggi kesopanan dan kesederhanaan. Semua unsur kehidupan harus harmonis, saling berdampingan, intinya semua harus sesuai. Segala sesuatu yang menimbulkan ketidak cocokan harus dihindari, kalau ada hal yang dapat mengganggu keharmonisan harus cepat dibicarakan untuk dibetulkan agar dapat kembali harmonis dan cocok lagi.
Biasanya yang menganggu keharmonisan adalah  perilaku manusia, baik  itu perilaku manusia dengan manusia atau perilaku manusia dengan alam. Kalau menyangkut perilaku manusia dengan alam yang membetulkan ketidakharmonisan adalah pemimpin atau menjadi tanggungjawab pimpinan masyarakat. Yang sulit apabila keseimbangan itu diganggu oleh perilaku manusia dengan manusia sehingga menimbulkan konflik. Ketidakcocokan atau rasa tidak suka adalah hal yang umum, namun untuk menghindari konflik, umumnya rasa tidak cocok itu dipendam saja.
Upaya menjaga harmonisasi ini membuat kebanyakan orang Jawa tidak suka konflik secara terbuka. Tidak sampai hati jika ada rasa tidak puas, tidak cocok kemudian dibicarakan secara lugas ke orangnya apalagi kalau di depan orang banyak atau forum. Untuk menyelesaikan konflik orang suku Jawa ini lebih suka dibicarakan secara pribadi dulu daripada langsung dibuka di forum dan diketahui orang banyak. Namun cara ini ada kelemahannya, karena tidak mau berbicara terbuka, orang Jawa menjadi lebih suka kasak kusuk atau menggerudel di belakang. Akibatnya, bukan mencoba mengembalikan keseimbangan atau harmonisasi malah justru memelihara ketidakharmonisan.
Selain hal-hal yang disebutkan di atas, suku jawa memiliki sistem kekerabatan dan sistem kemasyarakatan sebagai berikut:
1.    Sistem kekerabatan.
Dalam sistem kekerabatan Jawa keturunan dari Ibu dan Ayah dianggap sama haknya, dan warisan anak perempuan sama dengan warisan laki-laki, tetapi berbeda dengan banyak suku bangsa yang lain, yang ada Indonesia. Misalnya, dengan suku-suku Batak di Sumatra Utara, masyarakat jawa tidak mengenal sistem marga. Susunan kekerabatan suku jawa berdasarkan pada keturunan kepada kedua belah pihak yang di sebut Bilateral atau Parental yang menunjukan sistem penggolongan menurut angkatan-angkatan. Walaupun hubungan kekerabatan diluar keluarga inti tidak begitu ketat aturannya, namun bagi orang jawa hubungan dengan keluarga jauh tetap penting.
2.    Sistem Kemasyarakatan.
Dalam sistem kemasyarakatan, akan dibahas mengenai pelapisan sosial. Dalam sistem kemasyarakatan Jawa, dikenal 4 tingkatan yaitu Priyayi, Ningrat atau Bendara, Santri dan Wong Cilik.
Priyayi ini sendiri konon berasal dari dua kata bahas Jawa, yaitu “para” dan “yayi” atau yang berarti para adik. Dalam istilah kebudayaan Jawa, istilah priyayi ini mengacu kepada suatu kelas sosial tertinggi di kalangan masyarakat biasa setelah Bendara atau ningrat karena memiliki status sosial yang cukup tinggi di masyarakat. Biasanya kaum priyayi ini terdiri dari para pegawai negeri sipil dan para kaum terpelajar yang memiliki tingkatan pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang-orang disekitarnya
Ningrat atau Bendara adalah kelas tertinggi dalam masyarakat Jawa. Pada tingkatan ini biasanya diisi oleh para anggota keraton, atau kerabat-kerabatnya, baik yang memiliki hubungan darah langsung, maupun yang berkerabat akibat pernikahan. Bendara pun memiliki banyak tingkatan juga di dalamnya, mulai dari yang tertinggi, sampai yang terendah. Hal ini dapat dengan mudah dilihat dari gelar yang ada di depan nama seorang bangsawan tersebut.
Yang ketiga adalah golongan santri. Golongan ini tidak merujuk kepada seluruh masyarakat suku Jawa yang beragama muslim, tetapi, lebih mengacu kepada para muslim yang dekat dengan agama, yaitu para santri yang belajar di pondok-pondok yang memang banyak tersebar di seluruh daerah Jawa.
Terakhir, adalah wong cilik atau golongan masyarakat biasa yang memiliki kasta terendah dalam pelapisan sosial. Biasanya golongan masyarakat ini hidup di desa-desa dan bekerja sebagai petani atau buruh.
2.5 Ilmu Pengetahuan Kebudayaan Jawa
Salah satu bentuk sistem pengetahuan yang ada, berkembang, dan masih ada hingga saat ini, adalah bentuk penanggalan atau kalender. Bentuk kalender Jawa adalah salah satu bentuk pengetahuan yang maju dan unik yang berhasil diciptakan oleh para masyarakat Jawa kuno, karena penciptaanya yang terpengaruh unsur budaya islam, Hindu-Budha, Jawa Kuno, dan bahkan sedikit budaya barat. Namun tetap dipertahankan penggunaanya hingga saat ini, walaupun penggunaanya yang cukup rumit, tetapi kalender Jawa lebih lengkap dalam menggambarkan penanggalan, karena didalamnya berpadu dua sistem penanggalan, baik penanggalan berdasarkan sistem matahari (sonar/syamsiah) dan juga penanggalan berdasarkan perputaran bulan (lunar/komariah).
Pada sistem kalender Jawa, terdapat dua siklus hari yaitu siklus 7 hari seperti yang kita kenal saat ini, dan sistem panacawara yang mengenal 5 hari pasaran. Sejarah penggunaan kalender Jawa baru ini, dimulai pada tahun 1625, dimana pada saat itu, sultan agung, raja kerajaan Mataram, yang sedang berusaha menyebarkan agama islam di pulau Jawa, mengeluarkan dekrit agar wilayah kekuasaanya menggunakan sistem kalender hijriah, namun angka tahun hijriah tidak digunakan demi asas kesinambungan. Sehingga pada saat itu adalah tahun 1025 hijriah, namun tetap menggunakan tahun saka, yaitu tahun 1547.
Dalam sistem kalender Jawa juga terdapat dua versi nama-nama bulan, yaitu nama bulan dalam kalender Jawa matahari, dan kalender Jawa bulan. Nama- nama bulan dalam sistem kalender Jawa komariah (bulan) diantaranya adalah suro, sapar, mulud, bakdamulud, jumadilawal, jumadil akhir, rejeb, ruwah, poso, sawal, sela, dan dulkijah. Namun, pada tahun 1855 M, karena sistem penanggalan komariah dianggap tidak cocok dijadikan patokan petani dalam menentukan masa bercocok tanam, maka Sri Paduka Mangkunegaran IV mengesahkan sistem kalender berdasarkan sistem matahari. Dalam kalender matahari pun terdapat dua belas bulan.
2.6 Kesenian Budaya Jawa
Jawa memiliki banyak kesenian misalnya seperti Reog Ponorogo, Tari Remo,  Batik khas Tulungagungan, Marmer dan batu Onix. Tulungagung merupakan salah satu penghasil marmer terbesar di Indonesia. Kerajinan Kulit hewan, misalnya kerajinan dompet dari kulit, sabuk dari kulit, sandal dari kulit, dll. Kerajinan dari ijuk atau dari kulit kelapa, misalnya keset (pembersih kaki), sapu, dll. Kerajinan ini ada di Desa Plosokandang dan sekitarnya. Makanan khas : Tape bakar, biasa ada di pinggir-pinggir jalan Kota Tulungagung,  Krupuk / Opak rambak, Sompel Tulungagung, lontong + lodeh, Jenang abang, jenang putih, jenang grendul, Sambel Tumpang, Pecel.
Orang Jawa terkenal dengan budaya seninya yang terutama dipengaruhi oleh agama Hindu-Buddha, yaitu pementasan wayang. Repertoar cerita wayang atau lakon sebagian besar berdasarkan wiracarita Ramayana dan Mahabharata. Selain pengaruh India, pengaruh Islam dan Dunia Barat ada pula. Seni batik dan keris merupakan dua bentuk ekspresi masyarakat Jawa. Musik gamelan, yang juga dijumpai di Bali memegang peranan penting dalam kehidupan budaya dan tradisi Jawa. Sistem kesenian masyarakat jawa memiliki dua tipe yaitu, tipe jawa tengah dan jawa timur.
1.      Kesenian tipe Jawa Tengah
Wujud kesenian tipe Jawa Tengah bermacam-macam misalnya sebagai berikut:
Ø  Seni Tari Contoh: Seni tari tipe jawa tengah adalah tari serimpi dan tari bambang cakil, tari jaipong.
Ø  Seni Tembang berupa lagu-lagu daerah jawa, misalnya lagu-lagu dolanan suwe ora jamu, gek kepiye dan pitik tukung.
Ø  Seni pewayangan merupakan wujud seni teater di Jawa Tengah.
Ø  Seni teater tradisional wujud seni teater tradisional di Jawa Tengah antara lain adalah ketoprak.
2.      Kesenian tipe Jawa Timur
Wujud kesenian dari pesisir dan ujung timur serta madura juga bermacam-macam,       misalnya sebagai berikut:
Ø  Seni tari dan teater antara lain tari ngremo, tari tayuban, dan tari kuda lumping.
Ø  Seni pewayangan antara lain wayang beber.
Ø  Seni suara antara lain berupa lagu-lagu daerah seperti tanduk majeng (dari Madura) dan ngidung (dari Surabaya).
Ø  Seni teater tradisional antara lain ludruk dan kentrung.
3.      Rumah adat Jawa
Rumah adat Jawa antara lain corak limasan dan joglo. Rumah situbondo merupakan model rumah adat Jawa Timur yang mendapat pengaruh dari rumah Madura.
4.      Pakaian adat Jawa
Pakaian pria Jawa Tengah adalah penutup kepala yang di sebut kuluk, berbaju jas sikepan, korset dan kris yang terselip di pinggang. Memakai kain batik dengan pola dan corak yang sama dengan wanita. Wanitanya memakai kain kebaya panjang dengan batik sanggulnya disebut bakor mengkurep yang diisi dengan daun pandan wangi.
2.7 Sistem Kepercayaan
Ciri atau identitas lainnya dari budaya Jawa adalah keyakinan Kejawen. Kejawen  adalah kepercayaan yang hidup di suku Jawa. Kejawen pada dasarnya bersumber dari kepercayaan Animisme yang dipengaruhi ajaran Hindu dan Budha. Karena itulah suku Jawa umumnya dianggap sebagai suku yang mempunyai kemampuan menjalani sinkretisme kepercayaan, semua budaya luar diserap dan ditafsirkan menurut nilai-nilai Jawa.
Kepercayaan Kejawen yang merupakan sinkretisme antara animisme dengan ajaran Hindu dan Budha menggambarkan bahwa orang Jawa pada dasarnya bersifat pluralis, terbuka, mudah menerima pengaruh budaya luar dan pandai menyesuaikannya dengan budaya sendiri dan bahkan mengolahnya menjadi bentuk budaya baru yang tidak kalah bahkan lebih bagus dari budaya aslinya. Contohnya seni tari dan wayang yang berkembang di Jawa  dan Bali bersumber dari kisah Mahabarata dan Ramayana , namun jauh lebih indah dari Negara asalnya India. Namun, untuk saat ini sistem kepercyaan masyarakat Jawa sangatlah beragam dan memilki banyak perbedaan yang tetapi masih berdiri di satu dasar kesatuan. Agama yang dianut umumnya adalah katolik, Kristen. Buddha, Hindu, dan Islam.

 

BAB 3. PENUTUP
3.1 Simpulan
Suku Jawa merupakan salah satu suku di Indonesia yang memiliki banyak kebudayaan. Budaya Jawa adalah budaya yang berasal dari Jawa dan dianut oleh masyarakat Jawa khususnya di Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur. Budaya Jawa secara garis besar dapat dibagi menjadi 3 yaitu budaya Banyumasan, budaya Jawa Tengah-DIY dan budaya Jawa Timur. Budaya Jawa mengutamakan keseimbangan, keselarasan dan keserasian dalam kehidupan sehari hari. Keberagaman dan keuniversalan yang digenggam masyarakat Jawa sangatlah kental dan tak dapat dipungkiri bahwa banyak kebudayaan asing yang berusaha masuk.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar