BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Bahasa merupakan alat komunikasi bagi manusia.
Dengan menggunakan bahasa, manusia dapat saling bertukar pikiran, pendapat, dan
saling membagi informasi antara manusia satu dengan yang lainnya. Bahasa
mempermudah manusia untuk saling berinteraksi dan mempermudah kehidupan
manusia.
Bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dibagi
menjadi bahasa lisan dan bahasa tulis. Ketika seseorang berkomunikasi dengan
orang lain menggunakan bahasa lisan, maka tentu tidak melibatkan bahasa tulis.
Begitu juga sebaliknya, ketika seseorang berkomunikasi dengan menggunakan
bahasa tulis, maka tidak akan melibatkan bahasa lisan.
Komunikasi lisan merupakan komunikasi yang dilakukan
oleh manusia dengan menggunakan alat ucap. Berkomunikasi secara lisan akan
menghasilkan bunyi bunyi bahasa yang dihasilkan oleh alat ucap manusia seperti
pita usra, lidah, dan bibir. Bunyi bahasa merupakan hasil dari seseorang yang
mengungkapkan sesuatu yang ada di dalam otak orang tersebut.
Bunyi bahasa tentu sangat mempengaruhi
berlangsungnya komunikasi. Di dalam berkomunikasi terdapat suatu proses yang
dilakukan oleh komunikator yaitu proses memproduksi ujaran dan proses yang
dilakukan komunikan adalah proses memahami ujaran.
Proses memproduksi ujaran ternyata memerlukan
perencanaan mental yang rinci dari tingkat wacana sampai pada tingkat
pelaksanaan artikulasinya. Hal ini berarti produksi kalimat tidak hanya
memerlukan proses psikologis untuk meramu unsur-unsur yang akan kita katakan
dalam urutan yang wajar tetapi juga koordinasi yang tepat dengan neurobiologi
kita.
Proses memahami ujaran merupakan proses manusia
mempresepsi bunyi yang didengar melalui telinganya. Bunyi-bunyi itu kemudian
membentuk suku kata dan dari sukukata terbentuklah kata; rentetan kata yang mengikuti
kaidah tertentu membentuk frasa; dan dari frasa-frasa terbentuklah klausa.
Setelah diberi intonasi, klausa tersebut menjadi sebuah kalimat. Deretan
kalimat yang memiliki hubungan makna membentuk wacana. Persoalan yang kita
hadapi adalah bagaimana manusia dapat memahami bunyi yang ia dengar dari kata
hingga wacana.
Dari hal-hal yang sudah dipaparkan di atas pernahkah
Anda mencoba merenungkan bagaimana proses anda dapat menghasilkan ujaran dan
bagaimana Anda dapat memahami ujaran yang dikatakan oleh orang lain. Oleh
karena itu dalam makalah ini akan dibahas tentang produksi ujaran dan memahami
ujaran.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat
dirumuskan beberapa rumusan masalah sebagai berikut:
1.
Bagaimana proses
manusia dapat memproduksi ujaran?
2.
Bagaimana
manusia dapat memahami ujaran?
C.
Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, tujuan penulis
menulis makalah ini adalah sebagai berikut:
1.
Mendeskripsikan proses
manusia dalam memproduksi ujaran
2.
Mendeskripsikan
proses manusia dalam memahami ujaran
D.
Manfaat
Berdasarkan tujuan penelitian tersebut manfaat yang
ingin dicapai penulis dalam menulis makalah ini meliputi manfaat teoretis dan
praktis sebagai berikut:
1.
Manfaat Teoretis
Secara
teoretis penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah kepustakaan psikolinguistik.
2.
Manfaat Praktis
Secara praktis makalah
ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pengajaran di sekolah khusunya bidang psikologi.
Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat digunakan untuk mendidik anak untuk
melatihnya berbicara.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Proses Manusia Memproduksi Ujaran
Apakah Anda pernah berfikir seberapa sulitnya
manusia untuk berujar? Waktu kita berbicara seolah-olah begitu mudah menyusun
kata-kata dari satu kata ke kata yang lain sepertinya tanpa harus berfikir. Hal
seperti ini tentunya rasakan waktu kita berbicara tentang hal sehari-hari.
Perasaan seperti ini memang dapat dimengerti karena
kita sebagai penutur asli tidak sadar bahwa sebenarnya dalam berkomunikasi
memerlukan perencanaan mental yang rinci. Proses mental ini menyangkut berbagai
aspek. Aspek pertama berkaitan dengan asumsi kita tentang pengetahuan
interlokutor-orang yang kita ajak bicara. Sebagai pembicara, kita harus tahu
apa yang diketahui oleh pendengar. suatu kalimat tidak akan mempunyai makna
apa-apa bagi pendengar bila semua informasi yang ada di dalamnya adalah
informasi baru.
Aspek kedua adalah bahwa dalam berkomunikasi tiap
peserta mematuhi prinsipel kooperatif. Peserta pasti akan memberikan informasi yang jelas, pas, benar, tidak
ambigu. Di samping itu kita juga harus memperhatikan aspek pragmatik dari
ujaran-ujaran kita.
Di dalam bukunya Soenjono Dardjowidjojo dipaparkan
bahwa proses dalam memproduksi ujaran dibagi menjadi empat tingkat yaitu: (1)
tingkat pesan (massage), dimana pesan yang akan disampaikan diproses, (2)
tingkat fungsional, dimana bentuk leksikal dipilih lalu diberi peran dan fungsi
sintaktik, (3) tingkat posisional, dimana tingkat konstituen dibentuk dan
afiksasi dilakukan, (4) tingkat fonologi, dimana struktur fonologi ujaran itu
diwujudkan.
Pada tingkat pesan, pembicara mengumpulkan nosi-nosi
atau arti gramatikal dari makna yang ingin disampaikan misalnya adalah adanya
seseorang, orang ini wanita, dia sudah nikah, dan lain sebagainya. Pada tingkat
fungsional, yang diproses ada dua hal. Pertama memilih bentuk leksikal yang
sesuai dengan pesan yang akan disampaikan dan informasi gramatikal untuk
masing-masing bentuk leksikal tersebut. Proses kedua pada tingkat fungsional
adalah memberikan fungsi pada kata-kata yang telah dipilih ini yang menyangkut
dengan hubungan sintaktik atau fungsi gramatikal. Pada tingkat posisional,
diurutkan bentuk leksikal untuk ujaran yang akan dikeluarkan. Pengurutan ini
bukan berdasarkan pada jejeran yang linear tetapi pada kesatuan makna yang
hierarkis. Setelah pengurutan itu selesai, diproseslah afiksasi yang relevan.
Hasil dari pemrosesan posisional ini dikirim ke tingkat fonologi untuk
diwujudkan dalam bentuk bunyi. Pada tahap ini aturan fonotaktik bahasa yang
bersangkutan diterapkan.
Ferdinand De Sassure seorang linguis dari Swiss
menyatakan bahwa proses berujar itu merupakan rantai hubungan diantara dua
orang atau lebih penutur A dan pendengar B (Simanjuntak, 1987). Perilaku
tuturan itu terdiri atas bagian fisik yang terdiri atas mulut, telinga, dan
bagian dalam yaitu bagian jiwa atau akal yang terdapat dalam otak yang
bertindak sebagai pusat penghubung. Jika A bertutur, maka B mendengar dan jika
B bertutur maka A mendengar.
Di dalam otak penutur A terdapat fakta-fakta mental
atau konsep-konsep yang dihubungkan dengan bunyi-bunyi kebahasaan sebagai
perwujudan yang digunakan untuk menyatakan konsep-konsep itu. Baik konsep
maupun bayangan bunyi itu berada dalam otak, yaitu pada pusat penghubung. Jika
penutur A mengemukakan suatu konsep pada penutur B maka konsep tersebut
membukakan pintu kepada pewujudnya yang serupa yaitu bayangan bunyi yang masih
ada dalam otak dan merupakan fenomena psikologis. Kemudian otak mengirimkan
dorongan hati yang sama dengan bayangan bunyi tadi kepada alat-alat yang
mengeluarkan bunyi dan ini merupakan proses fisiologis. Kemudian gelombang
bunyi bergerak dari mulut A ke telinga B dan ini merupakan proses fisik. Dari
telinga B gelombang bunyi terus bergerak ke arah otak B dalam bentuk dorongan
hati dan ini juga proses psikologis yang menghubungkan bayangan bunyi ini
dengan konsep yang terjadi seperti yang digambarkan dalam gambar berikut ini.

Audisi Fonasi
0
k: Konsep
k b
0 b: bayangan bunyi
Audisi Fonasi
B.
Proses Manusia Memahami Ujaran
Masalah menghasilkan tuturan dan memahami tuturan
dalam komunikasi merupakan hal yang rumit jika ditinjau dari sudut bahasa.
Masalah utamanya adalah mungkin saja hubungan di antara keduanya itu tidak
merupakan hubungan langsung. Meskipun, mungkin akan sangat lebih sederhana
apabila psikolinguis mengatakan bahwa hubungan itu langsung. Tentu saja asumsi
semacam itu tidak berdasar dan paling tidak ada beberapa kemungkinan hubungan,
diantaranya sebagai berikut:
1.
Menghasilkan dan
memahami tuturan merupakan dua hal yang memang sama sekali berbeda.
2.
Memahami tuturan
itu tidak lain adalah menghasilkan tuturan dan sebaliknya.
3.
Memahami tuturan
dan menghasilkan tuturan itu sama saja.
4.
Memahami tuturan
dan menghasilkan tuturan itu mungkin sebagian sama dan sebagian yang lain
berbeda.
Proses memahami ujaran
itu pada hakikatnya adalah pemahaman makna yang bermula dari bunyi bahasa yang
dikeluarkan oleh pembicara dan pendengar menggantikannya dengan makna.
Dalam memahami tuturan
sebenarnya telah terjadi proses mental dalam diri pendengar. pendengar tidak
hanya secara pasif mendaftar bunyi-bunyi itu saja, tetapi ia secara aktif
memproses dalam pikirannya. Ada tuturan yang mudah dipahami dan ada tuturan
yang sulit dipahami. Tuturan itu sulit bagi pendengar apabila tuturan itu tidak
sesuai dengan harapan kebahasaannya dan jauh dari batas psikologis tertentu.
Pendengar merekonstruksi secara aktif bunyi-bunyi bahasa dan kalimat dalam
keselarasannya dengan harapan baik secara kebahasaan maupun secara psikologis.
Dari sudut pandang ilmu
psikolinguistik, ada dua macam komprehensi (Clark & Clark 1977). Pertama,
komprehensi yang berkaitan dengan pemahaman atas ujaran yang kita dengar.
Kedua, komprehensi yang berkaitan dengan tindakan yang perlu dilakukan setelah
pemahaman itu terjadi. Untuk yang pertama, komprehensi adalah suatu proses
dimana pendengar mempresepsi bunyi yang dikeluarkan oleh pembicara dan memakai
bunyi-bunyi itu untuk membentuk suatu interpretasi pembicara. Secara mudahnya
komprehensi dapat dikatakan sebagai pembentukan makna dan bunyi.
Setelah pemahaman itu
terjadi, pendengar menentukan apakah ada tindakan yang perlu dilakukan sesuai
dengan apa yang dia fahami. Proses mental ini dinamakan pelaksanaan kalimat (utilization of sentence).
1.
Struktur Batin
dan Struktur Lahir
Setiap
ujaran paasti terdiri atas bentuk dan isi. Bentuk dari suatu ujaran sering
dikatakan sebagai struktur lahir sedangkan isi dari suatu ujaran dikatakan
sebagai struktur batin. Misalnya pada kalimat sebagai berikut:
(1)
Perempuan tua
itu adalah nenekku
Kalimat
tersebut cukup dapat dipahami dari urutan-urutan kata yang terdengar atau
terlihat. Siapa pun yang mendengar kalimat tersebut akan memberikan
interpretasi makna yang sama, yakni, adanya seorang perempuan yang tua, dan
perempuan tua itu adalah nenek dari si pembicara.
2.
Proposisi
Proposisi
dapat disebut juga sebagai unit-unit makna pada kalimat atau isi tuturan.
Proposisi dibagi menjadi dua bagian yaitu argumen dan predikasi. Argumen adalah
hal atau sesuatu yang dibicarakan sedangkan predikasi adalah pernyataan yang
dibuat mengenai argumen atau dapat juga dikatakan sebagai unsur wajib yang
harus ada pada setiap kalimat. Misalnya pada kalimat sebagai berikut:
(2)
Badila menendang
bola
Kata ‘Badila’
berproposisi sebagai argumen, kata ‘menendang’ berproposisi sebagai predikasi
dan kata ‘bola’ berproposisi sebagai argumen pula. Jadi kata ‘menendang
tersebut wajib ada dalam kalimat tersebut, karena jika tidak ada maka kalimat
tersebut tidak memiliki makna. Kata ‘menendang’ menunjukkan sesuatu yang
dikerjakan oleh ‘Badila’.
3.
Konstituen
sebagai Realita Psikologi
Konstituen
merupakan suatu fenomena psikologis. Misalnya pada kalimat “Besok/ kita/ akan
melihat/ gerhana matahari”. Pada saat bertutur, jeda tersebut menunjukkan
konstituen-konstituen pada kalimat. Ada tiga pernyataan tentang konstituen
yaitu sebagai berikut:
a.
Konstituen
merupakan satu kesatuan utuh secara konstitual.
b.
Pemotongan
konstituen secara keliru akan mengganggu presepsi kita.
c.
Konstituen ini
adalah hal yang kita simpan dalam memori kita bukanlah kata yang terlepas dari
konstituennya, tetapi merupakan kesatuan makna dari konstiten masing-masing.
4.
Strategi Manusia
dalam Mempresepsi Ujaran
Jadi
cara memahami suatu ujaran dapat dilakukan dengan pendekatan sintaksis dan
semantik. Ada suatu proses mental secara sintaksis ketika suatu kalimat
dibicarakan akan terasa janggal apabila seseorang yang sedang berbicara
tersebut belum menyelesaikan kalimatnya. Kita mampu memahami atau mengoreksi
jika ada tuturan yang keliru.
Pengetahuan
tentang dunia merupakan salah satu strategi manusia untu memahami suatu ujaran.
Setiap orang memiliki pengetahuan tentang dunia yang berbeda-beda. Pengetahuan
dapat memiliki tiga sifat yaitu universal, lokal atau khusus, dan aksidental.
Pengetahuan yang bersifat universal adalah pengetahuan yang dimiliki seseorang
itu sama dengan orang yang lain.
Misalnya mamalia berkembang biak dengan cara melahirkan. Pengetahuan
yang bersifat lokal atau khusus misalnya tentang budaya. Setiap masyarakat
memiliki budaya yang berbeda-beda, contohnya orang Jawa memiliki sistem
kalender yang berbeda dengan kalender Cina dan Arab. Pengetahuan yang bersifat
aksidental ini terkait dengan peristiwa yang terjadi pada suatu masa. Misalnya
ada suatu mitos yang mengatakan “Jangan keluar malam hari, nanti kamu akan bernasib
seperti Sum Kuning (Seorang penjual Jamu yang diperkosa oleh laki-laki yang
merupakan anaj pejabat).
5.
Ambiguitas
Ambiguitas dapat dibedakan menjadi ambiguitas
leksikal dan ambiguitas gramatikal. Ambiguitas leksikal adalah ambiguitas yang
disebabkan pemakaian bentuk leksikal. Misalnya pada frasa ‘Ini bisa’. Bisa yang
dimaksud dalam kalimat tersebut apakah bisa ‘racun’ ataukah bisa yang bermakna
‘dapat’. Sedangkan ambiguitas gramatikal adalah ambiguitas yang disebabkan
pemakaian struktur kalimat tertentu. Misalnya pada kalimat ‘Pengusaha wanita
itu kaya’ atau pada kalimat ‘Rustam anak Ida sakit’. Ambiguitas ini dibagi
menjadi ambiguitas sementara dan ambiguitas abadi. Contoh ambiguitas sementara
adalah ‘Toko pakaian di seberang jalan/ Toko pakaian diseberang jalan
terbakar’. Sedangkan contoh ambiguitas abadi adalah ‘Tambal ban 200m’.
Teori
proses kalimat ambigu dibagi menjadi dua yaitu Garden Path Theory (GPT) dan
Constraint Satisfaction Theory (CST). GPT dibagi lagi menjadi dua yaitu Minimal
Attachment Principle (MAP) dan Lat Closure Principle (LCP).
Dalam
penyimpanan kata terjadi proses retrival yang berjalan begitu cepat dan
sepertinya otomatis keluar begitu saja. Proses retrival itu dibagi menjadi (1)
menentukan bunyi yang di dengar, (2) mengumpulkan fitur-fitur benda, (3)
membandingkan fitur-fitur itu dengan fitur-fitur benda lain, (4) menentukan
benda yang paling memenuhi syarat. Sedangkan faktor yang mempengaruhi akses
terhadap kata adalah faktor frekuensi kata, faktor ketergantungan, faktor keterkaitan
semantik, faktor kategori gramatikal, dan faktor fonologi.
Teori
tentang makna ada dua yaitu teori fitur dan teori berdasar pengetahuan
(knowledge based theory). Teori fitur pada dasarnya menyatakan bahwa kata
memiliki seperangkat fitur atau ciri yang menjadi bagian dari integral kata
tersebut. Selain teori fitur, kata juga dapat dipahami berdasarkan esensi dan
konteksnya. Misalnya saat bermain catur ’kuda’ hilang kemudian diganti dengan
benda lain misalny tutu spidol dan tutup spidol tersebut tetap dianggap sebagai
‘kuda’ dan fungsinya sama dengan ‘kuda’.
BAB III
PENUTUP
A.
Simpulan
Manusia dalam berkomunikasi melibatkan proses
memproduksi ujaran dan memahami ujaran. Dalam memproduksi ujaran menurut
Soendjono Dardjowidjojo memaparkan bahwa proses dalam memproduksi ujaran dibagi
menjadi empat tingkat yaitu: (1) tingkat pesan (massage), dimana pesan yang
akan disampaikan diproses, (2) tingkat fungsional, dimana bentuk leksikal
dipilih lalu diberi peran dan fungsi sintaktik, (3) tingkat posisional, dimana
tingkat konstituen dibentuk dan afiksasi dilakukan, (4) tingkat fonologi,
dimana struktur fonologi ujaran itu diwujudkan.
Sedangkan dalam proses memahami
ujaran sebenarnya telah terjadi proses mental dalam diri pendengar. pendengar
tidak hanya secara pasif mendaftar bunyi-bunyi itu saja, tetapi ia secara aktif
memproses dalam pikirannya. Ada tuturan yang mudah dipahami dan ada tuturan
yang sulit dipahami. Tuturan itu sulit bagi pendengar apabila tuturan itu tidak
sesuai dengan harapan kebahasaannya dan jauh dari batas psikologis tertentu.
Pendengar merekonstruksi secara aktif bunyi-bunyi bahasa dan kalimat dalam
keselarasannya dengan harapan baik secara kebahasaan maupun secara psikologis.
Dari sudut pandang ilmu
psikolinguistik, ada dua macam komprehensi (Clark & Clark 1977). Pertama,
komprehensi yang berkaitan dengan pemahaman atas ujaran yang kita dengar.
Kedua, komprehensi yang berkaitan dengan tindakan yang perlu dilakukan setelah
pemahaman itu terjadi. Untuk yang pertama, komprehensi adalah suatu proses
dimana pendengar mempresepsi bunyi yang dikeluarkan oleh pembicara dan memakai
bunyi-bunyi itu untuk membentuk suatu interpretasi pembicara. Secara mudahnya
komprehensi dapat dikatakan sebagai pembentukan makna dan bunyi.
Setelah pemahaman itu
terjadi, pendengar menentukan apakah ada tindakan yang perlu dilakukan sesuai
dengan apa yang dia fahami. Proses mental ini dinamakan pelaksanaan kalimat (utilization of sentence).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar