Rabu, 01 November 2017

Psikolinguistik



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Bahasa merupakan alat komunikasi bagi manusia. Dengan menggunakan bahasa, manusia dapat saling bertukar pikiran, pendapat, dan saling membagi informasi antara manusia satu dengan yang lainnya. Bahasa mempermudah manusia untuk saling berinteraksi dan mempermudah kehidupan manusia.
Bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dibagi menjadi bahasa lisan dan bahasa tulis. Ketika seseorang berkomunikasi dengan orang lain menggunakan bahasa lisan, maka tentu tidak melibatkan bahasa tulis. Begitu juga sebaliknya, ketika seseorang berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tulis, maka tidak akan melibatkan bahasa lisan.
Komunikasi lisan merupakan komunikasi yang dilakukan oleh manusia dengan menggunakan alat ucap. Berkomunikasi secara lisan akan menghasilkan bunyi bunyi bahasa yang dihasilkan oleh alat ucap manusia seperti pita usra, lidah, dan bibir. Bunyi bahasa merupakan hasil dari seseorang yang mengungkapkan sesuatu yang ada di dalam otak orang tersebut.
Bunyi bahasa tentu sangat mempengaruhi berlangsungnya komunikasi. Di dalam berkomunikasi terdapat suatu proses yang dilakukan oleh komunikator yaitu proses memproduksi ujaran dan proses yang dilakukan komunikan adalah proses memahami ujaran.
Proses memproduksi ujaran ternyata memerlukan perencanaan mental yang rinci dari tingkat wacana sampai pada tingkat pelaksanaan artikulasinya. Hal ini berarti produksi kalimat tidak hanya memerlukan proses psikologis untuk meramu unsur-unsur yang akan kita katakan dalam urutan yang wajar tetapi juga koordinasi yang tepat dengan neurobiologi kita.
Proses memahami ujaran merupakan proses manusia mempresepsi bunyi yang didengar melalui telinganya. Bunyi-bunyi itu kemudian membentuk suku kata dan dari sukukata terbentuklah kata; rentetan kata yang mengikuti kaidah tertentu membentuk frasa; dan dari frasa-frasa terbentuklah klausa. Setelah diberi intonasi, klausa tersebut menjadi sebuah kalimat. Deretan kalimat yang memiliki hubungan makna membentuk wacana. Persoalan yang kita hadapi adalah bagaimana manusia dapat memahami bunyi yang ia dengar dari kata hingga wacana.
Dari hal-hal yang sudah dipaparkan di atas pernahkah Anda mencoba merenungkan bagaimana proses anda dapat menghasilkan ujaran dan bagaimana Anda dapat memahami ujaran yang dikatakan oleh orang lain. Oleh karena itu dalam makalah ini akan dibahas tentang produksi ujaran dan memahami ujaran.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan beberapa rumusan masalah sebagai berikut:
1.         Bagaimana proses manusia dapat memproduksi ujaran?
2.         Bagaimana manusia dapat memahami ujaran?

C.    Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, tujuan penulis menulis makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Mendeskripsikan proses manusia dalam memproduksi ujaran
2.      Mendeskripsikan proses manusia dalam memahami ujaran

D.    Manfaat
Berdasarkan tujuan penelitian tersebut manfaat yang ingin dicapai penulis dalam menulis makalah ini meliputi manfaat teoretis dan praktis sebagai berikut:
1.      Manfaat Teoretis
Secara teoretis penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah kepustakaan psikolinguistik.
2.      Manfaat Praktis
Secara praktis makalah ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pengajaran di sekolah khusunya bidang psikologi. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat digunakan untuk mendidik anak untuk melatihnya berbicara.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Proses Manusia Memproduksi Ujaran
Apakah Anda pernah berfikir seberapa sulitnya manusia untuk berujar? Waktu kita berbicara seolah-olah begitu mudah menyusun kata-kata dari satu kata ke kata yang lain sepertinya tanpa harus berfikir. Hal seperti ini tentunya rasakan waktu kita berbicara tentang hal sehari-hari.
Perasaan seperti ini memang dapat dimengerti karena kita sebagai penutur asli tidak sadar bahwa sebenarnya dalam berkomunikasi memerlukan perencanaan mental yang rinci. Proses mental ini menyangkut berbagai aspek. Aspek pertama berkaitan dengan asumsi kita tentang pengetahuan interlokutor-orang yang kita ajak bicara. Sebagai pembicara, kita harus tahu apa yang diketahui oleh pendengar. suatu kalimat tidak akan mempunyai makna apa-apa bagi pendengar bila semua informasi yang ada di dalamnya adalah informasi baru.
Aspek kedua adalah bahwa dalam berkomunikasi tiap peserta mematuhi prinsipel kooperatif. Peserta pasti akan  memberikan informasi yang jelas, pas, benar, tidak ambigu. Di samping itu kita juga harus memperhatikan aspek pragmatik dari ujaran-ujaran kita.
Di dalam bukunya Soenjono Dardjowidjojo dipaparkan bahwa proses dalam memproduksi ujaran dibagi menjadi empat tingkat yaitu: (1) tingkat pesan (massage), dimana pesan yang akan disampaikan diproses, (2) tingkat fungsional, dimana bentuk leksikal dipilih lalu diberi peran dan fungsi sintaktik, (3) tingkat posisional, dimana tingkat konstituen dibentuk dan afiksasi dilakukan, (4) tingkat fonologi, dimana struktur fonologi ujaran itu diwujudkan.
Pada tingkat pesan, pembicara mengumpulkan nosi-nosi atau arti gramatikal dari makna yang ingin disampaikan misalnya adalah adanya seseorang, orang ini wanita, dia sudah nikah, dan lain sebagainya. Pada tingkat fungsional, yang diproses ada dua hal. Pertama memilih bentuk leksikal yang sesuai dengan pesan yang akan disampaikan dan informasi gramatikal untuk masing-masing bentuk leksikal tersebut. Proses kedua pada tingkat fungsional adalah memberikan fungsi pada kata-kata yang telah dipilih ini yang menyangkut dengan hubungan sintaktik atau fungsi gramatikal. Pada tingkat posisional, diurutkan bentuk leksikal untuk ujaran yang akan dikeluarkan. Pengurutan ini bukan berdasarkan pada jejeran yang linear tetapi pada kesatuan makna yang hierarkis. Setelah pengurutan itu selesai, diproseslah afiksasi yang relevan. Hasil dari pemrosesan posisional ini dikirim ke tingkat fonologi untuk diwujudkan dalam bentuk bunyi. Pada tahap ini aturan fonotaktik bahasa yang bersangkutan diterapkan.
Ferdinand De Sassure seorang linguis dari Swiss menyatakan bahwa proses berujar itu merupakan rantai hubungan diantara dua orang atau lebih penutur A dan pendengar B (Simanjuntak, 1987). Perilaku tuturan itu terdiri atas bagian fisik yang terdiri atas mulut, telinga, dan bagian dalam yaitu bagian jiwa atau akal yang terdapat dalam otak yang bertindak sebagai pusat penghubung. Jika A bertutur, maka B mendengar dan jika B bertutur maka A mendengar.
Di dalam otak penutur A terdapat fakta-fakta mental atau konsep-konsep yang dihubungkan dengan bunyi-bunyi kebahasaan sebagai perwujudan yang digunakan untuk menyatakan konsep-konsep itu. Baik konsep maupun bayangan bunyi itu berada dalam otak, yaitu pada pusat penghubung. Jika penutur A mengemukakan suatu konsep pada penutur B maka konsep tersebut membukakan pintu kepada pewujudnya yang serupa yaitu bayangan bunyi yang masih ada dalam otak dan merupakan fenomena psikologis. Kemudian otak mengirimkan dorongan hati yang sama dengan bayangan bunyi tadi kepada alat-alat yang mengeluarkan bunyi dan ini merupakan proses fisiologis. Kemudian gelombang bunyi bergerak dari mulut A ke telinga B dan ini merupakan proses fisik. Dari telinga B gelombang bunyi terus bergerak ke arah otak B dalam bentuk dorongan hati dan ini juga proses psikologis yang menghubungkan bayangan bunyi ini dengan konsep yang terjadi seperti yang digambarkan dalam gambar berikut ini.
Audisi                                                                                     Fonasi
0                    k: Konsep
k          b
                                                0          b: bayangan bunyi
                        Audisi                                                                                     Fonasi

B.     Proses Manusia Memahami Ujaran
Masalah menghasilkan tuturan dan memahami tuturan dalam komunikasi merupakan hal yang rumit jika ditinjau dari sudut bahasa. Masalah utamanya adalah mungkin saja hubungan di antara keduanya itu tidak merupakan hubungan langsung. Meskipun, mungkin akan sangat lebih sederhana apabila psikolinguis mengatakan bahwa hubungan itu langsung. Tentu saja asumsi semacam itu tidak berdasar dan paling tidak ada beberapa kemungkinan hubungan, diantaranya sebagai berikut:
1.      Menghasilkan dan memahami tuturan merupakan dua hal yang memang sama sekali berbeda.
2.      Memahami tuturan itu tidak lain adalah menghasilkan tuturan dan sebaliknya.
3.      Memahami tuturan dan menghasilkan tuturan itu sama saja.
4.      Memahami tuturan dan menghasilkan tuturan itu mungkin sebagian sama dan sebagian yang lain berbeda.
Proses memahami ujaran itu pada hakikatnya adalah pemahaman makna yang bermula dari bunyi bahasa yang dikeluarkan oleh pembicara dan pendengar menggantikannya dengan makna.
Dalam memahami tuturan sebenarnya telah terjadi proses mental dalam diri pendengar. pendengar tidak hanya secara pasif mendaftar bunyi-bunyi itu saja, tetapi ia secara aktif memproses dalam pikirannya. Ada tuturan yang mudah dipahami dan ada tuturan yang sulit dipahami. Tuturan itu sulit bagi pendengar apabila tuturan itu tidak sesuai dengan harapan kebahasaannya dan jauh dari batas psikologis tertentu. Pendengar merekonstruksi secara aktif bunyi-bunyi bahasa dan kalimat dalam keselarasannya dengan harapan baik secara kebahasaan maupun secara psikologis.
Dari sudut pandang ilmu psikolinguistik, ada dua macam komprehensi (Clark & Clark 1977). Pertama, komprehensi yang berkaitan dengan pemahaman atas ujaran yang kita dengar. Kedua, komprehensi yang berkaitan dengan tindakan yang perlu dilakukan setelah pemahaman itu terjadi. Untuk yang pertama, komprehensi adalah suatu proses dimana pendengar mempresepsi bunyi yang dikeluarkan oleh pembicara dan memakai bunyi-bunyi itu untuk membentuk suatu interpretasi pembicara. Secara mudahnya komprehensi dapat dikatakan sebagai pembentukan makna dan bunyi.
Setelah pemahaman itu terjadi, pendengar menentukan apakah ada tindakan yang perlu dilakukan sesuai dengan apa yang dia fahami. Proses mental ini dinamakan pelaksanaan kalimat (utilization of sentence).
1.      Struktur Batin dan Struktur Lahir
Setiap ujaran paasti terdiri atas bentuk dan isi. Bentuk dari suatu ujaran sering dikatakan sebagai struktur lahir sedangkan isi dari suatu ujaran dikatakan sebagai struktur batin. Misalnya pada kalimat sebagai berikut:
(1)   Perempuan tua itu adalah nenekku
Kalimat tersebut cukup dapat dipahami dari urutan-urutan kata yang terdengar atau terlihat. Siapa pun yang mendengar kalimat tersebut akan memberikan interpretasi makna yang sama, yakni, adanya seorang perempuan yang tua, dan perempuan tua itu adalah nenek dari si pembicara.

2.      Proposisi
Proposisi dapat disebut juga sebagai unit-unit makna pada kalimat atau isi tuturan. Proposisi dibagi menjadi dua bagian yaitu argumen dan predikasi. Argumen adalah hal atau sesuatu yang dibicarakan sedangkan predikasi adalah pernyataan yang dibuat mengenai argumen atau dapat juga dikatakan sebagai unsur wajib yang harus ada pada setiap kalimat. Misalnya pada kalimat sebagai berikut:
(2)   Badila menendang bola
Kata ‘Badila’ berproposisi sebagai argumen, kata ‘menendang’ berproposisi sebagai predikasi dan kata ‘bola’ berproposisi sebagai argumen pula. Jadi kata ‘menendang tersebut wajib ada dalam kalimat tersebut, karena jika tidak ada maka kalimat tersebut tidak memiliki makna. Kata ‘menendang’ menunjukkan sesuatu yang dikerjakan oleh ‘Badila’.

3.      Konstituen sebagai Realita Psikologi
Konstituen merupakan suatu fenomena psikologis. Misalnya pada kalimat “Besok/ kita/ akan melihat/ gerhana matahari”. Pada saat bertutur, jeda tersebut menunjukkan konstituen-konstituen pada kalimat. Ada tiga pernyataan tentang konstituen yaitu sebagai berikut:
a.       Konstituen merupakan satu kesatuan utuh secara konstitual.
b.      Pemotongan konstituen secara keliru akan mengganggu presepsi kita.
c.       Konstituen ini adalah hal yang kita simpan dalam memori kita bukanlah kata yang terlepas dari konstituennya, tetapi merupakan kesatuan makna dari konstiten masing-masing.
4.      Strategi Manusia dalam Mempresepsi Ujaran
Jadi cara memahami suatu ujaran dapat dilakukan dengan pendekatan sintaksis dan semantik. Ada suatu proses mental secara sintaksis ketika suatu kalimat dibicarakan akan terasa janggal apabila seseorang yang sedang berbicara tersebut belum menyelesaikan kalimatnya. Kita mampu memahami atau mengoreksi jika ada tuturan yang keliru.
Pengetahuan tentang dunia merupakan salah satu strategi manusia untu memahami suatu ujaran. Setiap orang memiliki pengetahuan tentang dunia yang berbeda-beda. Pengetahuan dapat memiliki tiga sifat yaitu universal, lokal atau khusus, dan aksidental. Pengetahuan yang bersifat universal adalah pengetahuan yang dimiliki seseorang itu sama dengan orang yang lain.  Misalnya mamalia berkembang biak dengan cara melahirkan. Pengetahuan yang bersifat lokal atau khusus misalnya tentang budaya. Setiap masyarakat memiliki budaya yang berbeda-beda, contohnya orang Jawa memiliki sistem kalender yang berbeda dengan kalender Cina dan Arab. Pengetahuan yang bersifat aksidental ini terkait dengan peristiwa yang terjadi pada suatu masa. Misalnya ada suatu mitos yang mengatakan “Jangan keluar malam hari, nanti kamu akan bernasib seperti Sum Kuning (Seorang penjual Jamu yang diperkosa oleh laki-laki yang merupakan anaj pejabat).

5.      Ambiguitas
 Ambiguitas dapat dibedakan menjadi ambiguitas leksikal dan ambiguitas gramatikal. Ambiguitas leksikal adalah ambiguitas yang disebabkan pemakaian bentuk leksikal. Misalnya pada frasa ‘Ini bisa’. Bisa yang dimaksud dalam kalimat tersebut apakah bisa ‘racun’ ataukah bisa yang bermakna ‘dapat’. Sedangkan ambiguitas gramatikal adalah ambiguitas yang disebabkan pemakaian struktur kalimat tertentu. Misalnya pada kalimat ‘Pengusaha wanita itu kaya’ atau pada kalimat ‘Rustam anak Ida sakit’. Ambiguitas ini dibagi menjadi ambiguitas sementara dan ambiguitas abadi. Contoh ambiguitas sementara adalah ‘Toko pakaian di seberang jalan/ Toko pakaian diseberang jalan terbakar’. Sedangkan contoh ambiguitas abadi adalah ‘Tambal ban 200m’.
Teori proses kalimat ambigu dibagi menjadi dua yaitu Garden Path Theory (GPT) dan Constraint Satisfaction Theory (CST). GPT dibagi lagi menjadi dua yaitu Minimal Attachment Principle (MAP) dan Lat Closure Principle (LCP).
Dalam penyimpanan kata terjadi proses retrival yang berjalan begitu cepat dan sepertinya otomatis keluar begitu saja. Proses retrival itu dibagi menjadi (1) menentukan bunyi yang di dengar, (2) mengumpulkan fitur-fitur benda, (3) membandingkan fitur-fitur itu dengan fitur-fitur benda lain, (4) menentukan benda yang paling memenuhi syarat. Sedangkan faktor yang mempengaruhi akses terhadap kata adalah faktor frekuensi kata, faktor ketergantungan, faktor keterkaitan semantik, faktor kategori gramatikal, dan faktor fonologi.
Teori tentang makna ada dua yaitu teori fitur dan teori berdasar pengetahuan (knowledge based theory). Teori fitur pada dasarnya menyatakan bahwa kata memiliki seperangkat fitur atau ciri yang menjadi bagian dari integral kata tersebut. Selain teori fitur, kata juga dapat dipahami berdasarkan esensi dan konteksnya. Misalnya saat bermain catur ’kuda’ hilang kemudian diganti dengan benda lain misalny tutu spidol dan tutup spidol tersebut tetap dianggap sebagai ‘kuda’ dan fungsinya sama dengan ‘kuda’.

BAB III
PENUTUP

A.    Simpulan
Manusia dalam berkomunikasi melibatkan proses memproduksi ujaran dan memahami ujaran. Dalam memproduksi ujaran menurut Soendjono Dardjowidjojo memaparkan bahwa proses dalam memproduksi ujaran dibagi menjadi empat tingkat yaitu: (1) tingkat pesan (massage), dimana pesan yang akan disampaikan diproses, (2) tingkat fungsional, dimana bentuk leksikal dipilih lalu diberi peran dan fungsi sintaktik, (3) tingkat posisional, dimana tingkat konstituen dibentuk dan afiksasi dilakukan, (4) tingkat fonologi, dimana struktur fonologi ujaran itu diwujudkan.
Sedangkan dalam proses memahami ujaran sebenarnya telah terjadi proses mental dalam diri pendengar. pendengar tidak hanya secara pasif mendaftar bunyi-bunyi itu saja, tetapi ia secara aktif memproses dalam pikirannya. Ada tuturan yang mudah dipahami dan ada tuturan yang sulit dipahami. Tuturan itu sulit bagi pendengar apabila tuturan itu tidak sesuai dengan harapan kebahasaannya dan jauh dari batas psikologis tertentu. Pendengar merekonstruksi secara aktif bunyi-bunyi bahasa dan kalimat dalam keselarasannya dengan harapan baik secara kebahasaan maupun secara psikologis.
Dari sudut pandang ilmu psikolinguistik, ada dua macam komprehensi (Clark & Clark 1977). Pertama, komprehensi yang berkaitan dengan pemahaman atas ujaran yang kita dengar. Kedua, komprehensi yang berkaitan dengan tindakan yang perlu dilakukan setelah pemahaman itu terjadi. Untuk yang pertama, komprehensi adalah suatu proses dimana pendengar mempresepsi bunyi yang dikeluarkan oleh pembicara dan memakai bunyi-bunyi itu untuk membentuk suatu interpretasi pembicara. Secara mudahnya komprehensi dapat dikatakan sebagai pembentukan makna dan bunyi.
Setelah pemahaman itu terjadi, pendengar menentukan apakah ada tindakan yang perlu dilakukan sesuai dengan apa yang dia fahami. Proses mental ini dinamakan pelaksanaan kalimat (utilization of sentence).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar