Rabu, 01 November 2017

Apa Itu Semantik?




BAB I
PENDAHULUAN

1. Apakah Semantik itu?
            “Semantics is the technical term used to refer to the study meaning, and since meaning is a part of language, semantics is a part of linguistics” (Palmer, 1981 : 1). “Semantik adalah istilah teknis yang digunakan untuk menunjuk study arti dan arti adalah bagian dari bahasa. Semantik adalah bagian dari linguistik.” (Palmer, 1981 : 1)
Menurut Charles Morris membagi cakupan semantik menjadi 3 pokok bahasan.  Dijelaskan sebagai berikut dalam formulasi C. Morris yang pertama (1983) :
            “In this earlier work Morris defined pragmatics as the study of “ the relations to s to interpreters”, semantics as the study  of “ the relations of sign to the object to which the signs are applicable”, and syntatics as the study of “the formal relations of sign to one another” (Lyons, 1971 : 115). “ Pragmatik menenlaah hubungan tanda-tanda dengan para penafsir atau interpretator, semantik menelaah hubungan tanda-tanda dengan objek-objek yang merupakan wadah penerapan tanda-tanda tersebut, dan sintaksis merupakan telaah mengenai hubungan –hubungan formal antara tanda-tanda satu sama lain.”
Satu dasawarsa kemudian Morris membuat perubahan dan membatasi kembali pragmatik sebagai semiotik yang menelaah asal-usul , penggunaan serta efek-efek dari tanda-tanda (Pargmatics is that portion as semiotics which deals with the origin, uses, and effects of sign...)(Lyons, 1971 : 115)
Mendasar pada Formulasi C terdahulu, Rudolf Carnap memebedakan ketiga istilah tersebut sebagai berikut :“ If in an investigation explicit  reference is made to the speaker, or to put in more general terms, to the user of the language, then we assign it to the field of pragmatics... . If we abstract from the user of the language and analyze only the relations and their designate, we are in the field of semantics. And if, finally, we abstract from the designate also and analyze only the relations between the expressions, we are in (logical) syntax” (Lyons, 1971:115).(Jika dalam suatu penelitiaan, acuan secara nyata dibuat unatuk pembicara, maka dapat dimasukkan dalam bidang prgmatik. Jika kita mengikhtisarkan dari pemakai bahasa dan hanya menganalisis ekspresi-ekspresi atau penanda-penanda, maka masuk dalam bidang semantik. Jika kita mengikhtisarkan dari penanda-penanda dan hanya menganalisis hubungan antara ekspresi-ekspresi, maka masuk dalam bidang sintaksis).
Semantik dalam pengertian sempit dibedakan atas 2 pokok bahasan, yaitu (1) teori referensi (denotasi, ekstensi) dan (2) teori makna (konotasi, intensi)

2. Semantik dan Linguistik
Menurut Palmer (1981 : 5) semantik merupakan suatu komponen dalam linguistik. Komponen bunyi menduduki tingkat pertama, tata bahasa (gramatika) pada tingkat kedua, dan komponen semantik pada tingkat akhir.(Palmer, 1981:5). Sedangkan Ferdinand de Saussure menunjukkan tentang adanya unsur bahasa signifiant (signifier) dan signifite (signified). Arti adalah hubungan antara objek, gagasan, dsb (signifite) dengan bahasa yang diucapkan untuk mengacu pada (signifiant/significant). Sebuah hubungan antara signifite dan signifiant/ significant merupakan bagian dari langue.
3. Objek dan Jenis Semantik
            Objek studi semantik adalah bahasa dengan berbagai komponen dan tatarannya. Komponen bahasa adalah leksikon atau kosa kata dari bahasa tersebut. Tataran bahasa adalah fonologi dan gramatika atau tata bahasa yang mencakup tataran morfologi dan sintaksis. Tataran sintaksin yaitu fungsi, kategori, dan peran. Berdasarkan komponen bahasa sebagai objek studi semantik dibedakan menjadi semantik leksikal, semantik gramatikal, semantik kalimat, dan sebagainya.
            Pada tataran gramatika terdapat 2 subtataran bahasa, yaitu morfologi dan sintaksis. Morfologi adalah: (1) bidang linguistik yang mempelajari morfem dan kombinasinya, (2) bagian dari struktur bahasa yang mencakup kata dan bagian kata. Sintaksis adalah cabang linguistik yang meneliti kalimat serta proses pembentukannya. Tataran bawahan sintaksis yaitu fungsi, kategori, dan peran.
            Jenis semantik yang lain menurut Verhaar (1983:126) adalah semantik kalimat dan semantik maksud. Semantik kalimat adalah semantik tetapi tidak termasuk dalam semantik gramtikal dan semantik leksikal dan dibatasi tentang masalah topikalisasi. Semantik maksud adalah penafsiran yang  tidak bergantung pada makna kata dan ujaran  yang bersangkutan, tetapi bergantung pada maksud pengujar.
4. Semantik dan Pragmatik
            Pragmatics is the study of all those aspects of meaning not captured in a semantic theory (Levinson, 1983: 12). ‘Pragmatik adalah penelitian atau kajian bidang kemaknaan yang tidak dimasukkan atau belum tercakup dalam teori semantik’. Ada 3 pandangan pragmatik yaitu semantikisme, komplementarisme dan pragmatikisme. Geoffre N. Leech penganut komplementarisme berpendapat bahwa setiap nilai makna dalam bahasa harus memenuhi 2 hal yaitu : (1) tepat dan serasi dengan fakta-fakta pada saat kita mengamatinya , (2) sesederhana mungkin dapat digeneralisasikan.
Semantikisme dianut dan dikembangkan oleh para filsuf bahasa seperti Wittgerstein, Austin, Alstom; Pragmatikisme oleh Searle, Ross; dan komplementarisme oleh Leech. Leech penganut dan pengembang komplementerisme berpendapat bahwa setiap nilai makna dalam bahasa harus tepat dan serasi dengan fakta-fakta pada saat kita mengamatinya serta sesederhana mungkin dapat digeneralisasikan. Komplementarisme tidak dapat dikemukakan apabila dalam mengadakan pengkajian makna hanya menumpukan pada pandangan semantikisme atau pragmatikisme saja. Kedua pandangan tersebut perlu dipadukan sehingga muncul komplementerisme yang akan menghasilkan penjelasan yang memuaskan. Austin berpendapat bahwa makna dari suatu tuturan ujaran dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu makna lokusi, ilokusi, dan perlokusi.
5. Semiotik, Semantik, dan Semantika
Semiotik (semiologi) adalah ilmu di luar bahasa yang mempelajari sistem tanda yang sifatnya universal, yang inklusif mempelajari lambang yang berupa bahasa. Semantik mempelajari lambang-lambang atau tanda-tanda yang menyatakan makna, sedangkan semantika mempelajari hubungan antara lambang dan referennya. Kedua bidang yang disebutkan terakhir ini tercakup dalam semiotik.
6. Bahasa dan Semiotik
6.1 Bahasa
Bahasa adalah sistem lambang bersifat arbitrer, yang dipakai oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri. Simpulannya adalah (1) bahasa merupakan suatu sistem; (2) bahasa bersifat arbitrer; (3) bahasa dapat digunakan untuk berkomunikasi dan berinteraksi (Kridalaksana, 1984:19).
6.2 Ciri-ciri Penanda Bahasa
Ciri-ciri penanda bahasa menurut Aminuddin (1988: 30-60) adalah sebagai berikut:
(1)          Alat fisis yang digunakantetap dan memiliki kriteria tertentu.
(2)          Organisme yang digunakan memiliki timbal balik
(3)          Menggunakan kriteria pragmatik.
(4)          Mengandung kriteria semantis.
(5)          Memiliki kriteria sintaksis
(6)          Melibatkan unsur bunyi dan unsur audiovisual. Misalnya gerak mimik maupun gerak bagian-bagian tubuh.
(7)          Memiliki kriteria kombinasi dan bersifat produktif.
(8)          Arbitrer
(9)          Terbatas dan relatif tetap
(10)      Mengandung diskontinuitas.
(11)      Bersifat hierarkis
(12)      Bersifat sistematis dan simultan.
(13)      Saling melengkapi dan mengisi
(14)      Informasi kebahasaan dan disegmentasi, dihubungkan, dibentuk , disatukan, dan diabadikan.
(15)      Transmisi budaya
(16)      Bahasa itu dapat dipelajari
(17)      Bahasa dalam pemakaian bersifat bidimensional
6.1. Bahasa sebagai Sistem Semiotik
Charles Morris mengemukaakan bahwa bahasa dalam sistem semiotik mencakup tiga komponen yang bertalian dengan lambang atau sign serta bentuk hubungannya; semantik merupakan komponen yang bertalian dengan masalah hubungan antara lambang dengan dunia luar yang diacunya; dan pragmatik merupakan komponen yang bertalian dengan hubungan antara pemakai dengan lambang dalam pemakaian. Jika kaidah hubungan tanda dengan objek yang diacunya tidak dipenuhi, maka pemakaian sign akan menyimpang dari tujuan semula yang diinginkan.
Pemakai bahasa dalam komunikasi diawali dan disertai sejumlah unsur, yaitu (1) sistem sosial budaya dalam suatu masyarakat bahasa; (2) sistem kebahasaan yang melandasi; (3) bentuk kebahasaan yang digunakan; (4) aspek semantis yang dikandungnya.
7. Sejarah Semantik
Aristoteles (384-322 SM) merupakan orang pertama yang menggunakan istilah makna lewat batasan kata yang dikemukakannya. Plato (429-347) telah mengungkapkan bahwa bunyi-bunyi bahasa itu secara implisist mengandung makna-makna tertentu. Reisig (Jerman) tahun 1825 mengemukakan konsep baru tentang grammar, menurutnya mencakup tiga unsur, yaitu (1) semasiologi, ilmu tentang tanda; (2) sintaksis, telaah kalimat; (3) etimologi, telaah asal-usul kata sehubungan dengan perubahan bentuk maupun makna kata.
Pertumbuhan kedua mengenai semantik ditandai dengan Michel Breal (1883) (Perancis) dengan artikelnya yang berjudul “Lee Lois Intellectuelles du Language.” Breal menyebutkan semantik merupakan bidang baru dalam keilmuan, dia menyebut semantik sebagai ilmu murni historie. Studi semantik pada masa ini lebih banyak berkaitan dengan unsur-unsur di luar bahasa, misal bentuk perubahan makna, latar belakang perubahan itu, perubahan makna dengan logika, psikologi maupun sejumlah kriteria lainnya.
Masa pertumbuhan ketiga muncul karya Gustaf Stern (filolog Swedia) yang berjudul “Meaning and Change of Meaning, with Special Reference to the English Language” (1931). Stern telah melakukan studi makna secara empiris dengan bertolak dari bahasa Inggris.
Tahun 1916 terbit buku berjudul Course de Linguitique Generale karya Saussure. Dia mengemukakan dua konsep baru, yaitu (1) lingistik pada dasarnya merupakan studi kebahasaan yang berfokus pada keberadaan bahasa itu pada waktu tertentu sehingga menggunakan pendekatan sinkronis (studi deskriptif), sedangkan studi tentang sejarah dan perkembangan suatu bahasa menggunakan pendekatan diakronis; (2) bahasa merupakan suatu gestalt (totalitas) yang didukung olehberbahai elemen yang saling ketergantungan dalam rangka membangun keseluruhannya.
Trier’s (Jerman) memiliki Teori Medan Makna. Implikasinya, kajian semantik memiliki ciri: (1) meskipun semantik masih membahas perubahan makna pandangan yang bersifat historis sudah ditinggalkan karena kajiannya bersifat deskriptif; (2) struktur dalam kosa kata mendapat perhatian dalam kajian sehingga dalam kongres para linguis di Oslo (1957) maupun di Cambridge (1962) masalah semantik struktural  merupakan hal yang hangat dibicarakan (Aminuddin, 1988:15-17).
8. Semantik dan Berbagai Disiplin Lain
8.1. Semantik dan Filsafat
Semantik memiliki hubungan yang sangat erat dengan filsafat karena dunia fakta yang menjadi objek perenungan merupakan dunia simbolik yang terwakili dalam bahasa. Selain itu, aktivitas manusia tidak dapat berlangsung tanpa hadirnya bahasa. Bertrand Russel mengemukakan bahwa ketepatan menyusun simbol kebahasaan secara logis merupakan dasar dalam memahami struktur realitas secara benar. Kompleksitas simbol juga harus memiliki kesesuaian dengan kompleksitas realitas sehingga antara keduanya dapat berhubungan secara tepat dan benar. Bahasa sehari-hari yang kita gunakan apabila dikaitkan dengan kegiatan filsafat masih memiliki kekurangan sebagai berikut: (1) Vagueness, (2) Inexciplitness, (3) Ambiguity, (4) Context-dependence, (50 Misleadingness.
8.2. Semantik dan Psikologi
Adanya hubungan yang sangat erat antara bahasa dengan aspek kejiwaan manusia ditandai adanya psikolinguistik sebagai suatu disiplin ilmu. John Locke mengungkapkan bahwa pemakaian kata-kata juga dapat diartikan sebagai penanda bentuk gagasan tertentu karena bahasa juga menjadi instrumen pikiran yang mengacu pada suasana maupun realitas tertentu. Kita dapat melihat adanya pengaruh psikologi dalam semantik, yakni terdapat pengaruh sejumlah aliran dalam psikologi, misalnya behaviorisme, psikologi gestalt, field theory, kognitivisme, maupun psikologi humanistik dalam kajian semantik. Pendekatan psikologi kognitif dalam pengkajian makna dapat dibedakan antara (1)kelompok yang lebih banyak berorientasi pada teori psikologi kognitif, (2) kelompok yang lebih banyak berorientasi pada linguistik.
BAB II
SEPUTAR MASALAH TENTANG MAKNA
1.      Pengertian Makna
1.1  Berbagai Pendapat tentang Makna
Kridalaksana (1984: 16) berpendapat bahwa arti adalah konsep yang mencakup makna dan pengertian. Aminuddin (1988:52) berpendapat bahwa maksud adalah penyampaian suatu pesan yang disertai unsur subjektif pembicara. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989: 548-549) makna berarti sebagai berikut: Makna: arti, maksud: ia memperhatikan makna setiap kata yang terdapat dalam tulisan kuno itu; maksud pembicara atau penulis; pengertian yang diberikan kepada suatu bentuk kebebasan. Ogen dan Richards dalam bukunya The Meaning of Meaning mengemukakan koleksi definisi makna tidak kurang dari 16 buah yaitu diantaranya sebagai berikut: (1) suatu sifat intrinsik; (2) suatu hubungan khas yang tidak teranalisis dengan hal-hal atau benda-benda lain; (3) kata-kata lain yang digabungkan dengan sebuah kata dalam kamus; (4) konotasi suatu kata; (5) suatu esensi, intisari, pokok.
1.2  Pengertian Makna sebagai Istilah
Makna bermula dari kata ternyata juga memiliki hubungan erat dengan: (1) sistem sosial budaya maupun realitas luas yang diacu, (2) pemakai, maupun (3) konteks sosial situasional dalam pemakaian. Terdapat tiga pandangan filosofis mengenai bentuk hubungan antara makna dan dunia luar, yaitu (1) realisme, beranggapan bahwa terhadap wujud dunia luar, manusia selalu memiliki jalan pikiran dan memberikan gagasan tertentu. (2) nominalisme berpandangan bahwa hubungan antara makna kata dengan dunia luar bersifat arbitrer. (3) konseptualitas berpandangan bahwa pemaknaan sepenuhnya ditentukan oleh adanya asosiasi dan konseptualisasi pemakai bahasa.
2.      Makna , Informasi, dan Maksud
2.1  Makna
Ferdinand de Saussure, telah menerangkan tentang tanda linguistik (signe linguistique) yang terdiri atas signifie (yang diartikan) dan signifiant (yang mengartikan). Semantik membicarakan hubungan antara kata (simbol) dan konsep (referensi) serta benda atau hal yang diacu oleh makna itu. Hubungan ini disebut hubungan referensial. Gagasan (refensi) merupakan hasil konseptualisasi hubungan antara simbol dengan referen yang diacu; sedangkan antara simbol dengan referen terdapat hubungan yang bersifat arbitrer. Arbitrer (arbitrary) berarti dipilih secara acak tanpa alasan (selected at random and without reason). Tidak ada hubungan logis antara simbol dan yang disimbolkan. Tidak semua leksem mempunyai makna leksikal. Kata-kata seperti dan, karena, kalau, sebab dan sebagainya dimasukkan sebagai kata karena kata-kata tersebut hanya memiliki tugas gramatikal dan hanya bermakna apabila muncul bersama-sama dengan kata yang lain (synsemantis). Sementara itu, kata-kata seperti orang, buku, rumah dan sebagainya dapat dimasukkan sebagai kata penuh sebab kata-kata itu mengandung makna tersendiri (otosemantis). Dengan demikian dapat diketahui ada leksem yang memiliki makna di dalam kemandiriannya dan ada leksem yang memiliki makna apabila berada di dalam suatu relasi.
2.2.  Informasi
pada kalimat berikut “Anita akan menyanyikan sebuah lagu keroncong” dengan kalimat “Sebuah lagu keroncong akan dinyanyikan Anita” dianggap sama. Pernyataan atau pendapat tersebut sebenarnya tidak tepat, tidak selaras dengan prinsip umum semantik  Hal tersebut dikarenakan banyak orang yang merancukan antara pengertian makna dan pengertian informasi. Makna merupakan gejala ujaran sedangkan informasi merupakan sesuatu yang terdapat diluar ujaran.
Parafrase adalah rumusan informasi yang sama dengan bentuk ujaran lain. Kridalaksana (1984:139) berpendapat bahwa paraphrase adalah pengungkapan kembali konsep dengan cara lain dalam bahasa yang sama, tanpa mengubah maknanya, dengan memberi kemungkinan penekanan yang agak berlainan. Kalimat “Ali menendang bola” dapat dikatakan paraphrase dari kalimat “Bola ditendang Ali”.
2.3. Maksud
            Maksud adalah sesuatu yang luar ujaran dilihat dari pihak si pengujar ( pembicara ); sedangkan informasi sesuatu yang luar ujaran dilihat dari segi yang dibicarakan atau objeknya. Kridalaksana (1984: 121 ) mengatakan bahwa maksud ( sense ) adalah makna kata, frase, dan sebagainya bagi pembicara atau pendengar pada waktu pertuturan terjadi. Apabila ada seseorang mengatakan “ Dia tidak begitu pandai “ bisa bermaksudkan “ Dia bodoh sekali, “ Dia tolol “; “ Pikiran dia agak terganggu “ bisa dimaksudkan “ Dia kurang waras”, Dia memang suka cepat bertindak bisa dimaksudkan “ Dia sering gegabah “ atau “ Dia sering berbuat sembrono “.
3. Pendekatan Makna
3.1. Makna dalam Pendekatan Referensial
Sejalan dengan fungsi bahasa sebagai pengolahan pesan dan menerima informasi yang menjadi pijakan pendekatan referansial, makna diartikan sebagai label yang berada dalam kesadaran manusia  untuk menunjukan dunia luar. Sebagai  label, makna itu hadir karena adanya kesadaran  pengamatan terhadap fakta dan penarikan simpulan yang subjektif.
Kelemahan pendekatan referensial adalah meletakkan makna sebagai hasil kesadaran pengamatan invidual dan terlepas dari konteks komunikasi karena hal ini bertentangan dengan keberadaan bahasa sebagai system konvensi. Kelemahan lain dari pendekatan referensial bertalian dengan masalah adanya paradoksal antara kebergantungan pada wujud yang diacu dan subjektivitas dalam memberi label.
3.2. Makna dalam Pendekatan Ideasional
Dalam pendekatan ideasional, makna adalah gambaran gagsan dari suatu bentuk kebahasaan yang bersifat sewenang-wenang, tetapi memiliki konvensi sehingga dapat saling dimengerti. Gambaran kesatuan hubungan antara makna dengan bentuk kebahasaan itu secara jelas dapat dikaji dalam peumusan Grice bahwa X berarti P dan X memaknakan P seperti yang dimiliki P. X adalah perangkat kalimat sebagai bentuk kebahasaan yang telah memiliki satuan gagasan. ( Aminuddin, 1988: 58 ). Pendekatan ideasional dilatari gagasan john locke, yakni “…bahasa adalah pengembangan makna untuk mengomunikasikan gagasan. Dalam pendekataan ideasional, makna dianggap sebagai pemarkah ide yang memperoleh bentuk lewat bahasa dan terwujud dalam kode.
3.3. Makna dalam Pendekatan Behavioral
Pendekatan referensial dalam mengkaji makna lebih menekankan pada fakta sebagai objek kesadaran pengamatan dan penarikan kesimpulan secara individual; sedangkan pendekatan ideasional lebih menekankan pada keberadaan bahasa sebagai media dalam mengolah pesan dan menyampaikan gagasan. Pendekatan behavioral menaruh keberatan terhadap dua pendekatan itu karena kedua pendekatan tersebut dianggap telah mengabaikan konteks sosial dan situasional yang oleh kaum behavioral dianggap berperan penting dalam menentukan maka.
Pendekatan behavioral mengkaji makna peristiwa ujaran yang berlangsung dalam situasi tertentu. Hymes menjelaskan bahwa satuan tuturan atau unit terkecil yang mengandung makna penuh dari keseluruhan speech event yang berlangsung dalam speech situation disebut speech act.
3. 4. Aplikasi Pendekatan Referensial, Ideasional, dan Behavioral
Pendekatan referensial mengaitkan makna dengan masalah nilai serta proses berfikir manusia dalam memahami realitas melalui bahasa secara benar. Pendekatan ideasional mengaitkan makna dengan kegiatan menyusun dan menyampaikan gagasan melalui bahasa. Dan pendekatan behavioral mengaitkan makna dengan fakta pemakaian bahasa dalam konteks sosial situasional. Konsep pendekatan referensial yang dilandasi oleh para filsuf seperti Dewey, Carnap, Russell, lebih erat dengan kontemplasi dalam upaya memahami realitas secara benar.
Konsep pendekatan behavioral tampak dalam kajian semantic yang dikembangkan oleh hallyday. Menurutnya kehadiran suatu bentuk tuturan melibatkan sejumlah tataran abstrak, yaitu:
1.      Field yaitu hubungan antara bentuk kebahasaan dengan pemakaian yang selalu berada dalam konteks sosial dan situasional.
2.      Tenor yaitu hubungan antara bentuk kebahasaan dengan pemeran yang memiliki cirri kondisi ikutan, baik status aupun relasi.
3.      Mode yaitu bertalian dengan jenis tuturan serta media penyampaiannya.
Pendekatan behavioral dalam kajian semantic juga tumbuh bertolak belakang pada teori behavioris dalam psikologi.
Terdapat empat ciri behaviorisme secara umum, yaitu sebagai berikut:
1.      Menolak konsep mentalisme yang mengkaji mind dan concept tanpa berdasar pada data sahih.
2.      Mempercayai bahwa binatang dan manusia memiliki cirri perilaku dasar yang sama.
3.      Perilaku manusia dalam berbahasa pada dasarnya bertolak dari dan dibentuk oleh factor sosial
4.      Memiliki konsep mekanisme dalam kehidupan kehidupan manusia, seperti ditandai adanya stimulus dan respon (S dan R).


4.      Aspek makna
Ujaran manusia menurut Joseph T Shiply dibagi menjadi 4 aspek, yaitu:
1.      Pengertian (sense)
2.      Perasaan (feeling)
3.      Nada (tone)
4.      Maksud (intemtion)
4.1.Pengertian
Pengertian dapat dicapai apabila antara pihak yang terlibat dalam kegiatan komunikasi itu memiliki kesamaan bahasa. Pengertian tersebut juga memiliki beberapa arti yaitu, sebagai berikut:
1.      Gambaran atau pengetahuan tentang sesuatu di dalam pikiran.
2.      Kesanggupan intelegensi untuk menangkap makna suatu situasi atau perbuatan (lihat KBBI, 1989 :236).
John Lines juga menjelaskan tentang pengertian, yaitu sitem hubungan-hubungan yang berbeda dengan kata lain di dalam perbendaharaan kata.
4.2. Perasaan
Kata rasa memiliki bebrapa pengertian sebagai berikut:
1.      Tanggapan hati melalui indera (rasa sedih, bimbang, takut, dsb)
2.      Pendapat (pertimbangan) mengenai baik atau buruk, salah atau benar, adil atau berat sebelah,dsb.
Kata perasaan mengandung arti antara lain:
1.      Kesanggupan untuk merasa atau merasi sangat tajam perasaannya.
2.      Pertimbangan batin (hati) atas sesuatu, pendapat (KBBI, 1989 - 730).n,dsb. Untuk
Suatu kenyataan bahwa dalam kehidupan sehari – hari kita senantiasa berhubungan dengan rasa dan perasaan. Maka dari itu kita dapat merasakan sedih, gembira, jengkel, benci, dingin, dsb. Untuk dapat menggambarkan atau menyatakan hal-hal yang bertalian dengan perasan tersebut digunakan leksem – leksem yang sesuai, baik untuk ungkapan eksplosif mengenai suatu hal maupun di dalam  tindak komunikasi atau interaksi dengan pihak lain.
Aspek makna yang berupa perasaan bertalian dengan sikap pembicara dengan sikap pembicara terhadap apa yang sedang dibicarakan.
4.3.Nada
Dalam kamus linguistic nada mengacu pada tinggi nada, yakni kualitas subjektif dari bunyi yang kompleks, tergantung dari frekuensi, kenyaringan, dan intensitas. Tinggi nada terjadi adanya getaran selaput suara. Nada tinggi terjadi karena selaput suara bergetar cepat. Sedangkan nada rendah terjadi karena selaput suara bergetar lambat, (Kridalaksana, 1984: 195-196).
Aspek makna nada menurut Shipley adalah sikap pembicarakepada mitra bicara (pateda, 1989: 52). Berdasarkan pengertian ini, pembicara akan berusaha memilih leksem-leksem yang sesuai dengan keadaan pembicara itu sendiri. Kalau di sini disebut sebagai mitra bicara, maka komunikasi komunikasi tersebut tidak terbatas pada komunikasi lisan, tapi juga tertulis. Jika komunikasi bermediakan tulisan, nada berhubungan antara sikap penulis terhadap pembaca. Demikian pula terhadap karya sastra, yakni antara sastrawan dan pembaca, penikmat, atau apresiator.

Sejalan dengan apa yang telah dinyatakan di atas, maka aspek makna yang bertalian dengan nada lebih banyak dinyatakan oleh hubungan antara pembicara dengan pendengar. Aspek makna bertalian dengan aspek makna perasaan. Jika kita merasa kesal atau benci, maka sikap kita tentu akan berbeda bila dibandingkan pada waktu kita merasa senang atau bergembira. Maka simpulan kita adalah bahwa aspek makna nada banyak ditentukan oleh hubungan antara pembicara dan pendengar atau lawan bicara
4.4.Maksud tujuan
Shiplay menjelaskan tentang maksud tujuan merupakan maksud senang  atau tidak senang, efek usaha keras yang dilaksanakan (pateda, 1989 : 53).
BAB III
RAGAM MAKNA
      1.            Makna Leksikal
Adalah makna leksem ketika leksem tersebut berdiri sendiri, baik dalam bentuk dasar maupun bentul derifasi dan maknanya kurang lebih tetap terdapat dalam kamus.Contoh: kata tikus dalam kalimat banyak tanaman padi diserang tikus ( tikus mengacu pada binatang) tetapi kata tikus pada kalimat kita perlu membasmi tikus – tikus yang banyak bercokol yang di instansi pemerintah ( tikus – tikus itu mengacu pada koruptor
      2.            Makna Gramatikal
Adalah makna yang muncul akibat proses gramatikal.Contoh: Kata persiden di bubuhi konfiks ke – an sehingga menjadi kepresidenan yang menyatakan makna “ tempat” (kepresidenan ” tempat presiden kedutaan, tempat duta”)
      3.            Makna Struktural
Makna Struktural tercakup dalam makna gramatikal. Kata yang satu dengan kata yang lain dapat membentuk relasi berupa kalimat. Makna kata – kata dalam kalimat itulah yang kita sebut dengan makna setruktural.
Contoh: - Terdengar: tidak sengaja mendengar
  -  Mendengarkan: Sengaja mendengar
      4.            Makna Konstruksi
Adalah makna yang terdapat dalam konstruksi kebahasaan.
Contoh: Makna milik atau kepunyaan didalam bahsa indonsia dapat dinyatakan dengan urutan leksem menggunkan akhiran kepunyaan. Kita dapat mengatakan / bukunya/,/cintanya/, rumahnya.
      5.            Makna Kontekstual
Makna ini muncul sebagai akibat hubungan antara ujaran dan situasi pada waktu ujaran dipakai.
Contoh: Pada kata buaya : (1) penangkapan buaya liar dilarang pemerintah (2) dia memang sangat terkenal sebagai laki – laki buaya (3) daun lidah buaya sebagi dasar pembuatan sampo.
      6.            Makna Konseptual
Makna konseptual bisa disebut makna denotatif, yaitu makna kata yang masih menunjuk pada acuan dasarnya sesuai dengan konvensi bersama.
Contoh : leksem bapak dapat dianalisis menjadi : + manusia, + dewasa, - perempuan.
      7.            Makna Kognitif
Adalah aspek – aspek makna satuan bahasa yang berhubungan dengan ciri – ciri dalam alam di luar bahasa atau penalaran
Contoh: Jika mengatakan banguanan itu megah, maka kita secara langsung dapat melihat atau membayangkan  sebuah bangunan yang megah.
      8.            Makna Deskriptif
Adalah makna yang terkandung di dalam setiap leksem dimana makna yang ditunjukkan oleh referen lambangnya.
            Contoh: “air” dengan “ambillah segelas air.
      9.            Makna Ideasional
Adalah makan yang muncul sebagai akibat pengunaan leksem yang mempunyai konsep dan merupakan konsekuiensi atau hal yang diharapkan yang harus berlaku dalam suatu leksem.Contoh: kata partisipasi.Dimana pada kata partisipasi perlu diketahui penggunaanya dalam masyarakat bahasa, konsep dan idenya.
  10.            Makna Referensial
Adalah makna unsur bahasa yang sangat dekat hubungannya dengan dunia luar (objek atau gagasan) dan yang dapat dijelaskan oleh analisis komponen dan merupakan  denotasi makna kata atau leksem yang masih menunjukkan pada referen dasar yang sesuai dengan fakta.  Contoh: kata manusia, mawar, indah, sedih. Pertisipasi. Kata tersebut merupakan kata referensial karena kata atau leksem itu mempunyai acuan, baik yang berupa benda, gejala, proses.
  11.            Makna Asosiatif
Makna Asosiatif adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem atau kata bertalian leksem itu dengan keadaan di luar bahasa. Dimana makna asosiatif ini bertalian erat dengan masyarakat pemakai bahasa, pandangan hidup yang ada dalam masyarakat, nilai – nilai moral. Contoh: Leksem putih berasosiasi dengan makna “suci”, ‘kesucian’, ‘baik’, ‘benar’.
  12.            Makna Pusat
Makna pusat adalah makna yang tidak mempunyai ciri dan kata yang umunya dimengerti bilamana kata itu diberikan tanpa konteks, selain itu makna pusat selain berupa kata dasar juga dapat berupa kata berimbuhan atau kata jadian yang lainnya.Contoh: kata pergi, kepergian, bepergian, Maka kata pergi merupakan makna pusat (mengandung makna pusat). Perbedaan dengan makna perluasan adalah makna yang dikandung oleh suatu kata setelah kata tersebut mengalami proses morfologis, baik berupa afiks, perulangan reduplikasi, maupun pemajemukan.
Contoh: bepergian, kepergian, pengaman, pengamanan, tertidur, petiduran, makanan, pemakan.
  13.            Makna Luas
Makna luas adalah makna ujaran yang lebih luas daripada makna pusatnya dimana mengaju pada makna yang terkandung pada sebuah leksem lebih luas dari yang kita perkirakan.
Contoh: “ kita akan bertanding dengan penuh semangat demi sekolah kami”, maka yang dimaksudkan sekolah dalam kalimat ini tentu tidak hanya merujuk pada gedung, tetapi juga siswa, guru, para pegawai atau karyawan
  14.            Makna Sempit
Makna Sempit adalah makna yang lebih sempit daripada makna pusatnya, dimana makin luas unsur leksem, makin sempit yang dipicu, dan makin sempit pula maknanya. Contoh:  makna ahli dalam ahli jiwa
Leksem ahli mengacu pada semua ahli dalam berbagai disiplin ilmu, sedangkan ahli ilmu jiwa maknanya menyempit, yakni mengacu pada orang yang mempunyai keahlian dalam ilmu jiwa yang dapat disepadankan dengan psikolog.
  15.            Makna Intensional
Makna intensional ( intensional meaning ) adalah makna yang menekankan maksud pembicara. Misal, ada seseorang berteriak Tolong! Tolong! Ada perampok. Makna yang terkandung dalam kelompok leksem tersebut adalah ada seseorang yang minta tolong ( bukan bertanya ) karena ada perampok ( bukan pencopet atau pencuri ).
  16.            Makna Ekstensional
Makna ekstensional ( extensional meaning ) adalah makna yang mencakup semua ciri objek atau konsep. Misal, leksem / ibu / mempunyai makna: (1) wanita, (2) dewasa, (3) orang tua dari anak-anak, (4) biasanya telah bersuami.
  17.            Makna Denotatif
Makna denotatif ( dentative meaning ) adalah makna kata yang didasarkan atas penunjukkan yang lugas, polos dan apa adanya.Misal, leksem / kursi / mengandung makna denotatif "perkakas yang terbuat dari kayu atau besi yang dapat digunakan untuk tempat duduk."
  18.             Makna Konotatif
Makna konotatif ( conotative meaning ) adalah kesan-kesan atau asosiasi-asosiasi yang biasanya bersifat emosional dan subjektif.Misal, pemakaian leksem /langsing/ dan leksem /kurus/. Kedua kata ini mempunyai makna denotatif yang sama. Dalam hubungannya dengan manusia kedua kata tersebut mengacu pada "seseorang yang mempunyai berat badan kurang". Namun kedua kata itu mempunyai konotasi yang tidak sama. Menjadi orang langsing merupakan idaman (terlebih bagi wanita), atau keinginan banyak orang; sedangkan kurus jelas tidak diinginkan karena kata kurus mengandung konotasi yang negatif, seperti kurang gizi, atau kurang urus badan.
  19.            Makna Hakikat
Makna hakikat adalah makna dasar atau makna yang sebenarnya.
  20.            Makna Afektif
Makna afektif adalah makna yang muncul akibat reaksi pendengar atau pembaca akibat penggunaan bahasa. Contoh: Jika ada orang berkata “tolol kamu”, kita akan mereaksinya sebab kata tolol mengandung makna yang berhubungan dengan rasa penghinaan.
  21.            Makna Emotif
Makna emotif adalah makna yang timbul akibat adanya reaksi berbicara atau rangsangan pembicara mengenai penilaian terhadap apa yang dipikirkan atau yang dirasakan.Contoh : Jika ada seseorang berkata :setan kau”, leksem /setan/ dihubingkan dengan makna berbohong, menipu, licik, dan sebagainya; sedangkan bagi pendengar berhubungan dengan cacian atau penghinaan.
  22.            Makna Kolokatif
Makna kolokatif adalah makna yang berkenaan dengan ciri-ciri makna tertentu yang dimiliki sebuah kata dari sejumlah kata-kata yang bersinonim sehingga kata tersebut hanya cocok untuk digunakan berpasangan dengan kata tertentu lainnya.Contoh : Apabila kita berkata ikan, garam, garam, gula, sayur, yomat dan sebagainya maka biasanya kita membicarakan leksem-leksem yang lebih banyak berhubungan dengan lingkungan dapur.
  23.            Makna Idiomatikal
Makna idiomatikal adalah makna sebuah kata, frase atau juga kalimat yang menyimpang dari makna leksikal maupun makna gramatikal kata, frase, atau kalimat tersebut. Misalnya membanting tulang  yang berarti kerja keras.
  24.            Makna Kiasan
Makna kiasan adalah pemakaian leksem dengan makna yang tidak sebenarnya. Misalnya mahkota wanita yang berarti rambut.
  25.            Makna Stilistika
Makna stilistika adalah makna yang timbul akibat pemakaian bahasa. Biasanya tergantung dengan status sosial penuturnya. Misalnya rumah, pondok, istana, keraton.
  26.            Makna proposisional (propositional meaning)
Yaitu makna yang muncul apabila kita membatasi pengertian kita tentang sesuatu. Makna proposisional biasanya berhubungan dengan matematika atau hal-hal yang sudah pasti.
Contoh            : -    Sudut siku-siku memiliki sudut 90 derajat (pada pelajaran matematika)
-          Ikan hidup di air (dalam pemikiran seseorang mengandung pengertian bahwa tidak mungkin hewan yang diberi nama ikan yang memiliki sirip dan bernafas dengan insang akan hidup di gunung atau gurun pasir. Sehingga hal itu pasti ikan hidup di air)
  27.            Makna Piktorial (pictorial meaning)
Yaitu makna yang muncul akibat bayangan pendengar terhadap leksem yang didengarnya. Contoh: Apabila seseorang mendengar leksem /kakus/, maka setelah pendengar mendengar kata itu, maka pendengar akan merasa jijik, dan mual. Ketika leksem itu diucapkan dengan segera akan muncul  bayangan terhadap leksem tersebut, baik yang berhubungan dengan baunya, warna koorannya atau mungkin bentuknya
  28.            Makna Gereflekter
Makna ini muncul dalam hal makna konseptual yang jamak, makna yang muncul akibat reaksi kita terhadap makna lain. Makna gereflekter tidak saja muncul karena sugesti emosional, tetapi juga berhubungan dengan leksem  atau ungkapan tabu. Misalnya: yang berhubunggan dengan kepercayaan, seks, atau kebiasaan. Dalam hal ini ada leksem “bersetubuh” adalah contoh leksem yang bermakna gereflekter. Dengan demikian kita tidak mungkin berkata /mari kita bersetubuh/ meskipun dilihat dari strktur, kalimat iru wajar. Maksud itu dapat dinyatakan dengan kelompok leksem /pergi ke tempat tidur/
  29.            Makna Tematis
Makna tematis dikomunikasikan oleh pembicara atau penulis, baik melalui urutan leksem-leksem, fokus pembicaraan, maupun penekanan pembicaraan. Misal : ada orang berkata /Laki-laki dan perempuan  tua itu sedang bermain tenis di lapangan/. Dari kalimat tersebut mengandung dua persepsi, yaitu hanya perempuan saja yang tua atau laki-laki dan perempuan itu sama-sama tua, sehingga akan bermakna tematis tua apabila dalam leksem tersebut yang ditekankan atau dipentingkan.
  30.            Makna Kata dan Makna istilah
Perbedaan makna kata dan makna istilah berdasarkan pada ketepatan penggunaan kata itu secara khusus dan penggunaan secara umum. Makna kata akan menjadi jelas jika digunakan dalam konteks tertentu dalam kalimat. Lata yang lepas dari konteks, maka maknanya masih umum atau bahkan masih kabur. Misalnya, kata penglihatan dapat berarti ‘hasil melihat’ atau ‘alat untuk dapat melihat’.Apabila makna sebuah kata bersifat umum, maka sebuah istilah sudah bersifat tetap dan pasti karena istilah digunakan dalam  bidang kegiatan atau satu bidang disiplin tertentu. Misalnya, istilah hukum, kata tahanan berarti ‘orang yang ditahan sehubungan dengan suatu perkara’. Kata akomodasi sebagai istilah dalam pariwisata bermakna ‘hal-hal yang berkaitan dengan fasilitas penginapan dan tempat makan.

BAB IV
RELASI MAKNA
1.      Sinonimi
Synonymy is used to mean sameness of meaning.
Sinonimi adalah arti yang digunakan untuk persamaan arti.
Kita sering menemukan pernyataan bahwa sinonim adalah dua buah kata yang sama maknanya. Pernyataan ini tentu kurang tepat : 1) maknanya belum tentu sama persis, 2) yang bersinonim bukan hanya dalam bidang kata, tetapi juga dalam hal morfem , frasa, san kalimat. Untuk lebih paham berikut penjelasannya:
1)      Sinonim antara morfem yang satu dengan morfem yang lain, missal kata dia,-nya, saya, dan ku.
Contoh  : kemarin Anton telah memukul dia sampai pingsan.
2)      Sinonim antara kata yang satu dengan yang lain.
Contoh: untuk, buat, bagi, guna
3)      Sinonim antara kata dengan frasa
Contoh: meninggal, pencuri
4)      Sinonim antara frasa dengan frasa
Contoh: baju baru
5)      Sinonimi sinonimi antara kalimat dengan kalimat
Contoh: ani menulis surat itu
Ada salah satu tokoh berpendapat tentang kesamaan atau kemiripan makna bentuk kebahasaan yang satu dengan lainnya, bisa jadi masing – masing memiliki nuansa yang berbeda
1)      Kata yang satu memiliki makna yang lebih umum daripada lainnya, missal antara kata melihat dan menatap.
2)      Kata yang satu lebih memiliki daya emosif daripada yang lainnya,misalnya kata menggebrak bersinonim dengan memukul.
3)      Kata yang satu  lebih menuansakan pengertian yang dalam daripada yang lainnya sehingga nilai intensionalnya lebih tinggi, misalnya penggunaan kata mempelajari.
4)      Kata yang satu lebih bersifat netral atau umum daripada yang lain, misalnya antara kata bertanya dan menguji.
5)      Kata yang satu lebih professional daripada yang lainnya,misalnya antara kata diskusi dan pembahasan.
6)      Kata yang satu lebih menuansakan kesan keindahan daripada yang lain,misalnya antara kata aroma dan bau.
7)      Kata yang satu lebih bersifat kolokial daripada yang lain, missal ayo dan mari.
8)      Kata yang satu lebih banyak dipengaruhi dialek daripada yang lain, missal kata nangkring dan duduk.
9)      Kata atau bentuk sinonim yang satu termasuk dalam bahasa anak-anak, misalnya kucing dengan meong.
1.      Antomini
Kridalaksana (1984: 14) menjelaskan, “Antonim (antonimy) adalah oposisi makna dalam pasangan leksial yang dapat dijenjangkan, sedangkan antonym adalah leksem berpasangan secara antonimi. Chaer (1985:35) menyatakan bahwa kata antonimi berasal dari bahasa yunani kunoonoma yang berarti nama dan anti yang berarti melawan. Dengan demikian, antonym berarti nama lain untuk benda yang lain pula. Secara semantic antonym sering didefinisikan sebagai ungkapan( bias any berupa kata, tetapi dapat pula berupa frasa atau kalimat) yang maknanya dianggap kebalikan dari ungkapan yang lain. Misal kata panjang berantonim dengan pendek ,kurus x gemuk, panas x dingin dan lainya.
Antonim tidak saja pada tataran kata namun juga morfem frasa dan kalimat. Antonym dalam tataran morfem dapat kita lihat pada contoh berikut :
Pogresif x regresif
Pretes x postes
Wartawan x wartawati
Moral x amoral
Peragawan x peragawati
Kata-kata yang berantonim itu pada umumnya berupa kata sifat, namun juga dapat berupa kata benda, kata bilangan, kata ganti, kata kerjadan kata keterangan. Kata-kata tugas seperti ,dan untuk , tetapi dsb. Tidak berantonim.
Beberapa oposisi makna( antonym ) , yaitu sebagai berikut :
1.                  Antonym mutlak
Antonym mutlak muncul apabila pertentangan antara kata atau bentuk bahasa yang memiliki hubungan antonym tersebut bersifat mutlak. Pengertian antara kedua kata atau bentuk itu terdapat batas mutlak.
Contoh :
-hidup   x   mati
-atas      x   bawah
2.                  Antonym gradasi
Kata-kata atau bentuk bahasa yang termasuk jenis antonym gradasi atau oposisi kutub mempunyai pertentangan yang tidak mutlak.
Suatu antonym dapat disebut antonym gradasi apabila penegatifan suatu kata tidaklah bersinonim dengan kata lain. Missal, seorang yang tidak kaya belum tentu miskin.Secara singkat dapat dinyatakan :
Tidak kaya – miskin
Tidakmiskin– kaya
Pada umumnya kata-kata yang termasuk antonym gradasi adalah kata sifat atau adjektif.
Contoh :
-tinggi  xrendah
-panjang  xpendek
3.                  Antonym relasional
Adalah jenis antonym yang memperlihatkan kesimetrian dalam makna anggota pasanganya.Terdapat dua macam oposisi relasional atau antonym relasional, yaitu :berupa kata kerja dan kata benda.
Contoh :
Maju – mundur
Jual – beli
Ayah – ibu
4.                  Antonym hierarkial
Yang termasuk antonym hierarkial adalah nama satuan waktu (berat ,panjang , isi) nama satuan hitungan dan penanggalan , nama satuan jenjang kepangkatan, dan sebagainya.
Contoh :
Sentimeter- meter
Kilogram – kuintal , ton
Prajurit – letnan, mayor ,jendral
Hari – bulan, tahun
5.                  Antonym resiprokal
Antonym yang mengandung pasangan yang berlawanan namun mempunyai hubungan yang sangat erat dan hubungan itu berupa hubungan timbale balik.
Contoh :
Mengajar – belajar
Menjual – membeli
2.      Homonimi
Semantik homonimi sering diungkapkan sebagai ungkapan (kata, frasa, kalimat) yang bentuknya sama sebagai ungkapan lain tetapi maknanya berbeda. Misal, kata bisa yang berarti “racun” dan kata bisa yang berarti “dapat/sanggup”. Relasi atau hubungan antara bisa “racun dan bisa “dapat/sanggup” inilah yang disebut homonimi.
            Terdapat dua kemungkinan yang menyebabkan terjadinya homonim, yaitu : (1) Bentuk-bentuk yang berhomonimitu datang dari bahasa atau dialek yang berbeda. (2) Bentuk-bentuk tersebut terjadi sebagai proses morfologi.
Contoh homonim dalam berbagai bidang :
1)      Homonim antarmorfem (morfem terikat)
- Uangnya sejumlah Rp. 5.000,00 akan ditabanaskan.
-Ton, apakah uangnya sudah habis
2)      Homonim antarkata
- Saya akan memberi dia sebuah buku.
- Banyak buku kita temukan dalam tebu yang berwarna hitam.
3)      Homonim antarfrasa
Cinta anak ‘rasa cinta dari anak kepada ayah, ibu, dan sebagainya
Cinta anak ‘perasaan cinta kepada anak’
4)      Homonim antarkalima,
Anak Hasan yang pandai itu meninggal (yang pandai adalah Hasan).
Anak Hasan yang pandai itu meninggal (yang pandai adalah anak si Hasan).
5)      Homonim antar kata dan frasa
Buanglah sampah di keranjang itu
Saya melihat dia sudah ke ranjang
Homonim dapat dibedakan atas homografi dan homofoni. 
Contoh homografi :
1)      Dia memang seorang pejabat teras (taras)
Keluarga itu setiap sore duduk-duduk di teras (teras rumah).
2)      Sedan (se’dan) ‘isak’ atau ‘tangis kecil’
Sedan (sedan) ‘sejenis mobil penumpang’
3)      Seri (se’ri) ‘cahaya’ atau ‘semarak’
Seri (seri) ‘rangkaian yang berturut-turut’ (cerita)
Contoh homofoni :
1)      Bang                dan                  Bank
2)      Tang                dan                  Tank
3)      Sangsi              dan                  Sanksi
Homonim dibedakan atas tiga macam, yaitu :
1)      Homonim yang homograf
2)      Homonim yang homofon
3)      Homonim yang homograf sekaligus homofon
3.      Polisemi
Polisemi adalah pemakaian bentuk bahasa seperti kata, frasa, dan sebagainya dengan makna yang berbeda-beda. Polisemi merupakan kata atau frasa yang mempunyai makna lebih dari satu. Polisemi dapat dosebut kata yang mempunyai makna ganda. Polisemi dapat kita ketahui dengan memperhatikan konteksnya.
Contoh polisemi:
Harga cengkir akhir-akhir ini jatuh
Amin jatuh sakit sejak seminggu yang lalu
Ali kemarin jatuh dari sepeda
4.      Hiponimi
Hiponimi adalah ubungan dalam semantik antara makna spesifik dan makna generik atau antara anggota taksonomi dan nama taksonomi (kridalaksana, 1984:66). Konsep hiponimi mengadaikan adanya kelas atas dan kelas bawah, adanya makna sebuah kata yang berada di bawah makna kata lain.
Contoh :
Makna leksem bunga terletak di atas. Hiponim dari dari bunga yaitu mawar, melati, dahlia, aster, flamboyan, bugenfil
5.      Ambiguitas
Ambiguitas mengacu pada sifat konstruksi yang dapat diberi lebih dari satu penafsiran. Kebermaknagandaan dalam ambiguitas berasal dari frasa atau kalimat yang terjadi sebagai akibat penafsiran struktur gramatikal yang berbeda. Ambiguitas sering terjadi pada tindak bahasa tulis.
Contoh:
Ada seseorang menuturkan “paman dokter Hasan meninggal” kalimat ini dapat ditafsirkan:
Paman dokter Hasan yang meningga.
Yang meninggal Hasan
Yang meninggal ada dua orang yaitu paman doketr dan seseorang yang bernma Hasan
Yang meninggal ada dua orang yaitu paman dan doketr yang bernama Hasan
Yang meinggal ada tiga orang yaitu paman, dokter, dan Hasan
6.      Redundansi
Redundansi adalah pamakaian unsur segmental yang berlebih-lebihan dalam suatu ujaran. Istilah redundansi dalam linguistik modern untuk menyatakan bahwa salah satu konstitue untuk menyatakan bahwa salah satu konstituen dalam kalimat yang tidak perlu dipandang daari sudut semantik.
Contoh :
Sangat banyak sekali kenangan yang saya peroleh dari kegiatan itu
Kita akan menemui banyak rintangan rintangan untuk dapat sukses menuju ke puncak gunung ini.

BAB V
PERUBAHAN MAKNA
1.      Beberapa factor yang mempermudah terjadinya perubahan makna menurut Pateda (1989:71) yaitu:
1)      Bahasa senantiasa berkembang
2)      Makna sebuah leksem sering bersifat samar – samar atau kabur
3)      Kehilangan motivasi
4)      Terdapat makna ganda
5)      Ambigu (ambiguous contex)
6)      Struktur kosa kata

2.      Faktor- Faktor Penyebab Terjadinya Perubahan Makna
2.1  Faktor Linguistik
Perubahan makna karena faktor linguistik bertalian erat dengan fonologi, morfologi dan siktaksis. Misalnya, kata sahaya yang mulanya dihubungkan dengan ‘budak’ tetapi karena leksem tersebut berubah menjadi saya,  kata saya selalu dihubungkan dengan kata ganti orang pertama hormat.
2.2  Faktor Kesejarahan
Perubahan makna karena faktor kesejarahan berhubungan dengan perkembangan leksem. Misalnya, leksem wanita yang sebenarnya berasal dari leksem betina. Leksem betina dihubungkan dengan hewan wanita sedangkan leksem wanita merupakan leksem yang berpadanan dengan perempuan.
2.3  Faktor Sosial Masyarakat
Perubahan makna karena faktor social dihubungkan dengan perkembangan leksem didalam masyrakat. Misalnya, leksem gerombolan pada mulanya bermakna’orang yang berkumpul’ atau kerumunan orang’ tetapi kemudian leksem tersebut tidak disukai lagi karena selalu dihubungkan dengan pemberontakan, perampok, dsb.
2.4  Faktor Psikologis
Perubahan makna karena faktor psikologis dapat disebabkan oleh rasa takut, menjaga perasaan, dsb. Misalnya penggunaan leksem dirumahkan untuk mengganti leksem ditahan.
2.5  Faktor Kebutuhan Kata Baru
Perubahan makna karena faktor kebutuhan terhadap kata baru bertalian erat dengan kebutuhan masyrakat pemakai bahasa. Oleh sebab itu, bahasa juga berkembang karena  bahasa merupakan media komunikasi utama.  Misalnya:  karena merasa ntidak atau kurang enak menggunakan leksem saudara maka muncullah leksem Anda
2.6  Faktor Perkembangan Ilmu dan Teknologi
Kata mulanya mengandung konsep makna yang sederhana sampai kini tetap dipakai meskipun konsep makna yang dikandungnya telah berubah. Contoh : leksem berlayar yang dulu mengacu pada pengertian ’menempuh perjalanan laut dengan perahu layar’, sekarang leksem berlayar tetap dipakai tetapi tidak terbatas pada acuan itu.

2.7  Faktor Perbedaan Bidang Pemakaian Lingkungan
Setiap bidang kehidupan atau kegiatan mempunyai sejumlah kosakata tersendiri yang hanya dikenal dan digunakan dengan makna tertentu yang berlaku dibidang tersebut. Misalnya dalam bidang pendidikan kita mengenal kata guru, siswa, pengajar, pembelajaran dll
      Kata yang menjadi perbendaharaan kata dalam bidang kehidupan dalam pemakaiannya sering dipakai dalam bidang kehidupan yang lainnya. Oleh karena itu, kata – kata tersebut menjadi makna baru, disamping makna asli yang berlaku dibidang asanya. Misalnya, kata jurusan berasal dari bidang lalu lintas yang berarti ‘arah’ pada perkembangannya dipakai dalam bidang pendidikan dengan arti ‘bagian bidang ilmu’. Contoh pemakaian: Sidik adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Nmmm                                                                                                                                                                                                                                                   
2.8  Faktor Pengaruh Bahasa Asing
Perubahan makna juga banyak disebabkan oleh pengaruh bahasa asing yang berupa peminjaman makna,bilangan yang mengacu pada benda yang bulat-bulat dan kecil-kecil, sekarang kata butir yang juga dipakai sebagai padanan kata item.
2.9  Faktor Asosiasi
Kata-kata yang digunakan di luar bidang asalnya sering masih ada hubungannya dengan makna kata tersebut pada asalnya.
Kata amplop yang berasal dari bidang surat menyurat makna asalnya “sampul surat”, tetapi jika dipakai dalam kalimat untuk melancarkan urusan ini memang dia perlu kita beri amplop, kata amplop bermakna “uang sogok” .
Asosiasi berhubungan pula dengan aspek tempat dan waktu, misalnya , yang bertalian dengan tempat, jika mahasiswa Universitas Sebelas Maret yang ada di Pabelan atau menahan mengatakan akan kentingan tentu yang Maret kentingan Surakarta.
2.10          Faktor Penukaran Tanggapan Indera
Manusia memiliki 5 indera, yaitu Mata,telinga,hidung,lidah dan kulit. Masing-masing untuk menangkap gejala atau keadaan yang terdapat di sekitarnya atau di dunia ini.
Di dalam pemakaian bahasa sering terjadi adanya pertukaran tanggapan antara indera yang berbeda. Pedas lidah,lalun diindera dengan indera pendengaran , misalnya sinestesia.
2.11          Faktor Perbedaan Tanggapan Pemakai Bahasa
Sujumlah kata yang digunakan oleh masyarakat pemakainya tidaklah mempunyai nilai yang sama. Hal ini berkaitan erat dengan pandangan hidup dan norma yang ada dalam masyarakat tersebut.
Kata-kata yang bernilai tinggi sering disebut dengan istilah ameliorative, sedangkan kata-kata yang bernilai rendah sering disebut dengan peyoratif. Misal, kata wanita bernilai tinggi (ameliorative) perempuan bernilai rendah(peyoratif).
2.12          Faktor Penyingkatan
Sejumlah ungkapan dalam bahasa Indonesia yang karena sering digunakan, sekalipun tidak diucapkan secara keseluruhan orang pun sudah memahami maksudnya. Orang hanya menyebutkan singkatan dok “dokter” , Lab “Laboratorium”
3.      Macam-macam Perubahan Makna
1.      Perluasan (generalisasi)
2.      Penyempitan (Spesialisasi)
3.      Peninggian (ameroliorasi)
4.      Penurunan (Peyorasi)
5.      Pertukaran (Sinestesia)
6.      Persamaan (Asosiasi)
7.      Metafora
Pengetahuan dan pemahaman yang baik tentang perubahan makna yang menolong para pemakai bahasa untuk dapat memilih secara tepat kata-kata.
3.1  Perluasan Makna atau Generalisasi
Merupakan proses Perubahan makna kata dari yang lebih khusus ke yang umum.
Contoh :
Kata
Makna Lama
Makna Baru
Bapak
‘Orang tua laki-laki, ayah’
‘semjua orang laki-laki yang berumur lebih tua berkedudukan lebih tinggi’
Putra
‘Anak laki-laki raja’
‘semua anak laki-laki’
Pemakaian kata ibu,bapak,dan saudara sebagai hubungan keluarga dan sebagai  kata sapaan. Penulisan kata ibu,bapak, dan saudara sebagai hubungan keluarga harus kita bedakan penulisanya dengan ibu,Bapak, dan Saudara sebagai kata sapaan. Kita lihat contoh pemakaianya di bawah ini.
(1)   Ali Sofyan sekarang sudah menjadi seorang bapak.
Atas bantuan Bapak, saya ucapkan terima kasih.
3.2  Penyampaian Makna atau Spesialisasi
Penyempitan makna atau spesialisasi adalah proses perubahan makna dari yang lebih umum ke yang lebih khusus, dari yang lebih luas ke yang lebih sempit.
Contoh :
Kata
Makna Lama
Makna Baru
Sarjana
Cendikiawan
Lulusan perguruan tinggi

3.3  Peningkatan Makna atau Ameliorasi
Peninggian makna atau ameliorasi adalah proses perubahan makna kata yang mengakibatkan makna yang baru dirasakan lebih tinggi, hormat, atau baik nilainya daripada makna yang lama.
Contoh:
Pria
Lebih baik daripada
Laki – laki
Wanita
Lebih baik daripada
Perempuan
Bung
Lebih baik daripada
Bang

3.4  Penurunan Makna atau Peyorasi
Penurunan makna atau peyorasi adalah proses perubahan makna yang mengakibatkan makna baru atau makna sekarang dirasakan lebih rendah, kurang baik, kurang menyenangkan, atau kurang halus  nilainya daripada makna semula
contoh
Bunting lebih rendah daripada hamil
3.5  Pertukaran makna atau Sinestesia
Sinestesia adalah perubahan makna akibat pertukaran tanggapan dua indera (dari indera penglihatan ke indera pendengar dll)
 Contoh:  Rupa gadis itu memang sangat manis
3.6  Persamaan atau Asosiasi
Asosiasi adalah proses perubahan makna sebagai akibat persamaan sifat.
Contoh: Sudah lama dia menaruh hati pada bunga desa itu
3.7  Metafora
Metafora adalah pemakaian kata tertentu untuk objek atau konsep lain berdasakan kias.
Contoh: Kaki meja, kaki langit

Tidak ada komentar:

Posting Komentar