BAB I
PENDAHULUAN
1. Apakah Semantik itu?
“Semantics is the
technical term used to refer to the study meaning, and since meaning is a part
of language, semantics is a part of linguistics” (Palmer, 1981 : 1). “Semantik
adalah istilah teknis yang digunakan untuk menunjuk study arti dan arti adalah
bagian dari bahasa. Semantik adalah bagian dari linguistik.” (Palmer, 1981 : 1)
Menurut Charles Morris membagi cakupan semantik menjadi 3 pokok
bahasan. Dijelaskan sebagai berikut
dalam formulasi C. Morris yang pertama (1983) :
“In this earlier work Morris defined pragmatics as the
study of “ the relations to s to interpreters”, semantics as the study of “ the relations of sign to the object to
which the signs are applicable”, and syntatics as the study of “the formal
relations of sign to one another” (Lyons, 1971 : 115). “ Pragmatik menenlaah
hubungan tanda-tanda dengan para penafsir atau interpretator, semantik menelaah
hubungan tanda-tanda dengan objek-objek yang merupakan wadah penerapan
tanda-tanda tersebut, dan sintaksis merupakan telaah mengenai hubungan
–hubungan formal antara tanda-tanda satu sama lain.”
Satu dasawarsa
kemudian Morris membuat perubahan dan membatasi kembali pragmatik sebagai
semiotik yang menelaah asal-usul , penggunaan serta efek-efek dari tanda-tanda
(Pargmatics is that portion as semiotics which deals with the origin, uses, and
effects of sign...)(Lyons, 1971 : 115)
Mendasar pada
Formulasi C terdahulu, Rudolf Carnap memebedakan ketiga istilah tersebut
sebagai berikut :“ If in an investigation explicit reference is made to the speaker, or to put
in more general terms, to the user of the language, then we assign it to the
field of pragmatics... . If we abstract from the user of the language and
analyze only the relations and their designate, we are in the field of
semantics. And if, finally, we abstract from the designate also and analyze
only the relations between the expressions, we are in (logical) syntax” (Lyons,
1971:115).(Jika dalam suatu penelitiaan, acuan secara nyata dibuat unatuk
pembicara, maka dapat dimasukkan dalam bidang prgmatik. Jika kita
mengikhtisarkan dari pemakai bahasa dan hanya menganalisis ekspresi-ekspresi
atau penanda-penanda, maka masuk dalam bidang semantik. Jika kita
mengikhtisarkan dari penanda-penanda dan hanya menganalisis hubungan antara
ekspresi-ekspresi, maka masuk dalam bidang sintaksis).
Semantik dalam pengertian sempit dibedakan atas 2 pokok bahasan,
yaitu (1) teori referensi (denotasi, ekstensi) dan (2) teori makna (konotasi,
intensi)
2. Semantik dan Linguistik
Menurut Palmer
(1981 : 5) semantik merupakan suatu komponen dalam linguistik. Komponen bunyi
menduduki tingkat pertama, tata bahasa (gramatika) pada tingkat kedua, dan
komponen semantik pada tingkat akhir.(Palmer, 1981:5). Sedangkan Ferdinand de
Saussure menunjukkan tentang adanya unsur bahasa signifiant (signifier) dan
signifite (signified). Arti adalah hubungan antara objek, gagasan, dsb
(signifite) dengan bahasa yang diucapkan untuk mengacu pada
(signifiant/significant). Sebuah hubungan antara signifite dan signifiant/
significant merupakan bagian dari langue.
3. Objek dan Jenis Semantik
Objek studi
semantik adalah bahasa dengan berbagai komponen dan tatarannya. Komponen bahasa
adalah leksikon atau kosa kata dari bahasa tersebut. Tataran bahasa adalah
fonologi dan gramatika atau tata bahasa yang mencakup tataran morfologi dan
sintaksis. Tataran sintaksin yaitu fungsi, kategori, dan peran. Berdasarkan
komponen bahasa sebagai objek studi semantik dibedakan menjadi semantik
leksikal, semantik gramatikal, semantik kalimat, dan sebagainya.
Pada tataran
gramatika terdapat 2 subtataran bahasa, yaitu morfologi dan sintaksis.
Morfologi adalah: (1) bidang linguistik yang mempelajari morfem dan
kombinasinya, (2) bagian dari struktur bahasa yang mencakup kata dan bagian
kata. Sintaksis adalah cabang linguistik yang meneliti kalimat serta proses
pembentukannya. Tataran bawahan sintaksis yaitu fungsi, kategori, dan peran.
Jenis semantik
yang lain menurut Verhaar (1983:126) adalah semantik kalimat dan semantik
maksud. Semantik kalimat adalah semantik tetapi tidak termasuk dalam semantik
gramtikal dan semantik leksikal dan dibatasi tentang masalah topikalisasi.
Semantik maksud adalah penafsiran yang
tidak bergantung pada makna kata dan ujaran yang bersangkutan, tetapi bergantung pada
maksud pengujar.
4. Semantik dan Pragmatik
Pragmatics is the
study of all those aspects of meaning not captured in a semantic theory
(Levinson, 1983: 12). ‘Pragmatik adalah penelitian atau kajian bidang kemaknaan
yang tidak dimasukkan atau belum tercakup dalam teori semantik’. Ada 3
pandangan pragmatik yaitu semantikisme, komplementarisme dan pragmatikisme.
Geoffre N. Leech penganut komplementarisme berpendapat bahwa setiap nilai makna
dalam bahasa harus memenuhi 2 hal yaitu : (1) tepat dan serasi dengan
fakta-fakta pada saat kita mengamatinya , (2) sesederhana mungkin dapat
digeneralisasikan.
Semantikisme
dianut dan dikembangkan oleh para filsuf bahasa seperti Wittgerstein, Austin,
Alstom; Pragmatikisme oleh Searle, Ross; dan komplementarisme oleh Leech. Leech
penganut dan pengembang komplementerisme berpendapat bahwa setiap nilai makna
dalam bahasa harus tepat dan serasi dengan fakta-fakta pada saat kita
mengamatinya serta sesederhana mungkin dapat digeneralisasikan.
Komplementarisme tidak dapat dikemukakan apabila dalam mengadakan pengkajian
makna hanya menumpukan pada pandangan semantikisme atau pragmatikisme saja. Kedua
pandangan tersebut perlu dipadukan sehingga muncul komplementerisme yang akan
menghasilkan penjelasan yang memuaskan. Austin berpendapat bahwa makna dari
suatu tuturan ujaran dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu makna lokusi, ilokusi,
dan perlokusi.
5. Semiotik, Semantik, dan
Semantika
Semiotik
(semiologi) adalah ilmu di luar bahasa yang mempelajari sistem tanda yang
sifatnya universal, yang inklusif mempelajari lambang yang berupa bahasa.
Semantik mempelajari lambang-lambang atau tanda-tanda yang menyatakan makna,
sedangkan semantika mempelajari hubungan antara lambang dan referennya. Kedua
bidang yang disebutkan terakhir ini tercakup dalam semiotik.
6. Bahasa dan Semiotik
6.1 Bahasa
Bahasa adalah
sistem lambang bersifat arbitrer, yang dipakai oleh para anggota suatu
masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri.
Simpulannya adalah (1) bahasa merupakan suatu sistem; (2) bahasa bersifat
arbitrer; (3) bahasa dapat digunakan untuk berkomunikasi dan berinteraksi
(Kridalaksana, 1984:19).
6.2 Ciri-ciri Penanda Bahasa
Ciri-ciri penanda bahasa menurut
Aminuddin (1988: 30-60) adalah sebagai berikut:
(1)
Alat fisis yang
digunakantetap dan memiliki kriteria tertentu.
(2)
Organisme yang
digunakan memiliki timbal balik
(3)
Menggunakan
kriteria pragmatik.
(4)
Mengandung
kriteria semantis.
(5)
Memiliki
kriteria sintaksis
(6)
Melibatkan unsur
bunyi dan unsur audiovisual. Misalnya gerak mimik maupun gerak bagian-bagian
tubuh.
(7)
Memiliki
kriteria kombinasi dan bersifat produktif.
(8)
Arbitrer
(9)
Terbatas dan
relatif tetap
(10)
Mengandung
diskontinuitas.
(11)
Bersifat
hierarkis
(12)
Bersifat
sistematis dan simultan.
(13)
Saling
melengkapi dan mengisi
(14)
Informasi
kebahasaan dan disegmentasi, dihubungkan, dibentuk , disatukan, dan diabadikan.
(15)
Transmisi budaya
(16)
Bahasa itu dapat
dipelajari
(17)
Bahasa dalam
pemakaian bersifat bidimensional
6.1. Bahasa sebagai Sistem Semiotik
Charles Morris
mengemukaakan bahwa bahasa dalam sistem semiotik mencakup tiga komponen yang
bertalian dengan lambang atau sign serta bentuk hubungannya; semantik merupakan
komponen yang bertalian dengan masalah hubungan antara lambang dengan dunia
luar yang diacunya; dan pragmatik merupakan komponen yang bertalian dengan
hubungan antara pemakai dengan lambang dalam pemakaian. Jika kaidah hubungan
tanda dengan objek yang diacunya tidak dipenuhi, maka pemakaian sign akan
menyimpang dari tujuan semula yang diinginkan.
Pemakai bahasa
dalam komunikasi diawali dan disertai sejumlah unsur, yaitu (1) sistem sosial
budaya dalam suatu masyarakat bahasa; (2) sistem kebahasaan yang melandasi; (3)
bentuk kebahasaan yang digunakan; (4) aspek semantis yang dikandungnya.
7. Sejarah Semantik
Aristoteles
(384-322 SM) merupakan orang pertama yang menggunakan istilah makna lewat batasan kata yang
dikemukakannya. Plato (429-347) telah mengungkapkan bahwa bunyi-bunyi bahasa
itu secara implisist mengandung makna-makna tertentu. Reisig (Jerman) tahun
1825 mengemukakan konsep baru tentang grammar,
menurutnya mencakup tiga unsur, yaitu (1) semasiologi, ilmu tentang tanda; (2)
sintaksis, telaah kalimat; (3) etimologi, telaah asal-usul kata sehubungan
dengan perubahan bentuk maupun makna kata.
Pertumbuhan
kedua mengenai semantik ditandai dengan Michel Breal (1883) (Perancis) dengan
artikelnya yang berjudul “Lee Lois
Intellectuelles du Language.” Breal menyebutkan semantik merupakan bidang
baru dalam keilmuan, dia menyebut semantik sebagai ilmu murni historie. Studi
semantik pada masa ini lebih banyak berkaitan dengan unsur-unsur di luar
bahasa, misal bentuk perubahan makna, latar belakang perubahan itu, perubahan
makna dengan logika, psikologi maupun sejumlah kriteria lainnya.
Masa pertumbuhan
ketiga muncul karya Gustaf Stern (filolog Swedia) yang berjudul “Meaning and Change of Meaning, with Special
Reference to the English Language” (1931). Stern telah melakukan studi
makna secara empiris dengan bertolak dari bahasa Inggris.
Tahun 1916
terbit buku berjudul Course de Linguitique Generale karya Saussure. Dia
mengemukakan dua konsep baru, yaitu (1) lingistik pada dasarnya merupakan studi
kebahasaan yang berfokus pada keberadaan bahasa itu pada waktu tertentu
sehingga menggunakan pendekatan sinkronis (studi deskriptif), sedangkan studi
tentang sejarah dan perkembangan suatu bahasa menggunakan pendekatan diakronis;
(2) bahasa merupakan suatu gestalt (totalitas) yang didukung olehberbahai
elemen yang saling ketergantungan dalam rangka membangun keseluruhannya.
Trier’s (Jerman)
memiliki Teori Medan Makna. Implikasinya, kajian semantik memiliki ciri: (1)
meskipun semantik masih membahas perubahan makna pandangan yang bersifat
historis sudah ditinggalkan karena kajiannya bersifat deskriptif; (2) struktur
dalam kosa kata mendapat perhatian dalam kajian sehingga dalam kongres para
linguis di Oslo (1957) maupun di Cambridge (1962) masalah semantik struktural merupakan hal yang hangat dibicarakan
(Aminuddin, 1988:15-17).
8. Semantik dan Berbagai Disiplin
Lain
8.1. Semantik dan Filsafat
Semantik
memiliki hubungan yang sangat erat dengan filsafat karena dunia fakta yang
menjadi objek perenungan merupakan dunia simbolik yang terwakili dalam bahasa.
Selain itu, aktivitas manusia tidak dapat berlangsung tanpa hadirnya bahasa.
Bertrand Russel mengemukakan bahwa ketepatan menyusun simbol kebahasaan secara
logis merupakan dasar dalam memahami struktur realitas secara benar.
Kompleksitas simbol juga harus memiliki kesesuaian dengan kompleksitas realitas
sehingga antara keduanya dapat berhubungan secara tepat dan benar. Bahasa
sehari-hari yang kita gunakan apabila dikaitkan dengan kegiatan filsafat masih
memiliki kekurangan sebagai berikut: (1) Vagueness,
(2) Inexciplitness, (3) Ambiguity, (4) Context-dependence, (50 Misleadingness.
8.2. Semantik dan Psikologi
Adanya hubungan yang sangat erat antara bahasa
dengan aspek kejiwaan manusia ditandai adanya psikolinguistik sebagai suatu
disiplin ilmu. John Locke mengungkapkan bahwa pemakaian kata-kata juga dapat
diartikan sebagai penanda bentuk gagasan tertentu karena bahasa juga menjadi
instrumen pikiran yang mengacu pada suasana maupun realitas tertentu. Kita
dapat melihat adanya pengaruh psikologi dalam semantik, yakni terdapat pengaruh
sejumlah aliran dalam psikologi, misalnya behaviorisme,
psikologi gestalt, field theory, kognitivisme, maupun psikologi humanistik dalam kajian semantik. Pendekatan psikologi
kognitif dalam pengkajian makna dapat dibedakan antara (1)kelompok yang lebih
banyak berorientasi pada teori psikologi kognitif, (2) kelompok yang lebih
banyak berorientasi pada linguistik.
BAB II
SEPUTAR
MASALAH TENTANG MAKNA
1. Pengertian
Makna
1.1 Berbagai
Pendapat tentang Makna
Kridalaksana
(1984: 16) berpendapat bahwa arti adalah konsep yang mencakup makna dan
pengertian. Aminuddin (1988:52) berpendapat bahwa maksud adalah penyampaian
suatu pesan yang disertai unsur subjektif pembicara. Di dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia (1989: 548-549) makna berarti sebagai berikut: Makna: arti,
maksud: ia memperhatikan makna setiap kata yang terdapat dalam tulisan kuno
itu; maksud pembicara atau penulis; pengertian yang diberikan kepada suatu
bentuk kebebasan. Ogen dan Richards dalam bukunya The Meaning of Meaning
mengemukakan koleksi definisi makna tidak kurang dari 16 buah yaitu diantaranya
sebagai berikut: (1) suatu sifat intrinsik; (2) suatu hubungan khas yang tidak
teranalisis dengan hal-hal atau benda-benda lain; (3) kata-kata lain yang
digabungkan dengan sebuah kata dalam kamus; (4) konotasi suatu kata; (5) suatu
esensi, intisari, pokok.
1.2 Pengertian
Makna sebagai Istilah
Makna
bermula dari kata ternyata juga memiliki hubungan erat dengan: (1) sistem
sosial budaya maupun realitas luas yang diacu, (2) pemakai, maupun (3) konteks
sosial situasional dalam pemakaian. Terdapat tiga pandangan filosofis mengenai
bentuk hubungan antara makna dan dunia luar, yaitu (1) realisme, beranggapan
bahwa terhadap wujud dunia luar, manusia selalu memiliki jalan pikiran dan
memberikan gagasan tertentu. (2) nominalisme berpandangan bahwa hubungan antara
makna kata dengan dunia luar bersifat arbitrer. (3) konseptualitas berpandangan
bahwa pemaknaan sepenuhnya ditentukan oleh adanya asosiasi dan konseptualisasi
pemakai bahasa.
2. Makna
, Informasi, dan Maksud
2.1 Makna
Ferdinand
de Saussure, telah menerangkan tentang tanda linguistik (signe linguistique)
yang terdiri atas signifie (yang diartikan) dan signifiant (yang mengartikan).
Semantik membicarakan hubungan antara kata (simbol) dan konsep (referensi)
serta benda atau hal yang diacu oleh makna itu. Hubungan ini disebut hubungan
referensial. Gagasan (refensi) merupakan hasil konseptualisasi hubungan antara
simbol dengan referen yang diacu; sedangkan antara simbol dengan referen
terdapat hubungan yang bersifat arbitrer. Arbitrer (arbitrary) berarti dipilih
secara acak tanpa alasan (selected at random and without reason). Tidak ada
hubungan logis antara simbol dan yang disimbolkan. Tidak semua leksem mempunyai
makna leksikal. Kata-kata seperti dan, karena, kalau, sebab dan sebagainya
dimasukkan sebagai kata karena kata-kata tersebut hanya memiliki tugas
gramatikal dan hanya bermakna apabila muncul bersama-sama dengan kata yang lain
(synsemantis). Sementara itu, kata-kata seperti orang, buku, rumah dan
sebagainya dapat dimasukkan sebagai kata penuh sebab kata-kata itu mengandung
makna tersendiri (otosemantis). Dengan demikian dapat diketahui ada leksem yang
memiliki makna di dalam kemandiriannya dan ada leksem yang memiliki makna
apabila berada di dalam suatu relasi.
2.2. Informasi
pada kalimat
berikut “Anita akan menyanyikan sebuah lagu keroncong” dengan kalimat “Sebuah
lagu keroncong akan dinyanyikan Anita” dianggap sama. Pernyataan atau pendapat
tersebut sebenarnya tidak tepat, tidak selaras dengan prinsip umum
semantik Hal tersebut dikarenakan banyak
orang yang merancukan antara pengertian makna dan pengertian informasi. Makna
merupakan gejala ujaran sedangkan informasi merupakan sesuatu yang terdapat
diluar ujaran.
Parafrase adalah
rumusan informasi yang sama dengan bentuk ujaran lain. Kridalaksana (1984:139)
berpendapat bahwa paraphrase adalah pengungkapan kembali konsep dengan cara
lain dalam bahasa yang sama, tanpa mengubah maknanya, dengan memberi
kemungkinan penekanan yang agak berlainan. Kalimat “Ali menendang bola” dapat
dikatakan paraphrase dari kalimat “Bola ditendang Ali”.
2.3. Maksud
Maksud
adalah sesuatu yang luar ujaran dilihat dari pihak si pengujar ( pembicara );
sedangkan informasi sesuatu yang luar ujaran dilihat dari segi yang dibicarakan
atau objeknya. Kridalaksana (1984: 121 ) mengatakan bahwa maksud ( sense )
adalah makna kata, frase, dan sebagainya bagi pembicara atau pendengar pada
waktu pertuturan terjadi. Apabila ada seseorang mengatakan “ Dia tidak begitu
pandai “ bisa bermaksudkan “ Dia bodoh sekali, “ Dia tolol “; “ Pikiran dia
agak terganggu “ bisa dimaksudkan “ Dia kurang waras”, Dia memang suka cepat
bertindak bisa dimaksudkan “ Dia sering gegabah “ atau “ Dia sering berbuat
sembrono “.
3. Pendekatan Makna
3.1. Makna dalam Pendekatan
Referensial
Sejalan dengan
fungsi bahasa sebagai pengolahan pesan dan menerima informasi yang menjadi
pijakan pendekatan referansial, makna diartikan sebagai label yang berada dalam
kesadaran manusia untuk menunjukan dunia
luar. Sebagai label, makna itu hadir
karena adanya kesadaran pengamatan
terhadap fakta dan penarikan simpulan yang subjektif.
Kelemahan
pendekatan referensial adalah meletakkan makna sebagai hasil kesadaran
pengamatan invidual dan terlepas dari konteks komunikasi karena hal ini
bertentangan dengan keberadaan bahasa sebagai system konvensi. Kelemahan lain
dari pendekatan referensial bertalian dengan masalah adanya paradoksal antara
kebergantungan pada wujud yang diacu dan subjektivitas dalam memberi label.
3.2. Makna dalam Pendekatan
Ideasional
Dalam pendekatan
ideasional, makna adalah gambaran gagsan dari suatu bentuk kebahasaan yang
bersifat sewenang-wenang, tetapi memiliki konvensi sehingga dapat saling
dimengerti. Gambaran kesatuan hubungan antara makna dengan bentuk kebahasaan
itu secara jelas dapat dikaji dalam peumusan Grice bahwa X berarti P dan X
memaknakan P seperti yang dimiliki P. X adalah perangkat kalimat sebagai bentuk
kebahasaan yang telah memiliki satuan gagasan. ( Aminuddin, 1988: 58 ). Pendekatan
ideasional dilatari gagasan john locke, yakni “…bahasa adalah pengembangan
makna untuk mengomunikasikan gagasan. Dalam pendekataan ideasional, makna
dianggap sebagai pemarkah ide yang memperoleh bentuk lewat bahasa dan terwujud
dalam kode.
3.3. Makna dalam Pendekatan
Behavioral
Pendekatan
referensial dalam mengkaji makna lebih menekankan pada fakta sebagai objek
kesadaran pengamatan dan penarikan kesimpulan secara individual; sedangkan
pendekatan ideasional lebih menekankan pada keberadaan bahasa sebagai media
dalam mengolah pesan dan menyampaikan gagasan. Pendekatan behavioral menaruh
keberatan terhadap dua pendekatan itu karena kedua pendekatan tersebut dianggap
telah mengabaikan konteks sosial dan situasional yang oleh kaum behavioral
dianggap berperan penting dalam menentukan maka.
Pendekatan
behavioral mengkaji makna peristiwa ujaran yang berlangsung dalam situasi
tertentu. Hymes menjelaskan bahwa satuan tuturan atau unit terkecil yang
mengandung makna penuh dari keseluruhan speech event yang berlangsung dalam
speech situation disebut speech act.
3.
4. Aplikasi Pendekatan Referensial, Ideasional, dan Behavioral
Pendekatan referensial mengaitkan makna
dengan masalah nilai serta proses berfikir manusia dalam memahami realitas
melalui bahasa secara benar. Pendekatan ideasional mengaitkan makna dengan
kegiatan menyusun dan menyampaikan gagasan melalui bahasa. Dan pendekatan
behavioral mengaitkan makna dengan fakta pemakaian bahasa dalam konteks sosial
situasional. Konsep pendekatan referensial yang dilandasi oleh para filsuf
seperti Dewey, Carnap, Russell, lebih erat dengan kontemplasi dalam upaya
memahami realitas secara benar.
Konsep pendekatan behavioral tampak
dalam kajian semantic yang dikembangkan oleh hallyday. Menurutnya kehadiran
suatu bentuk tuturan melibatkan sejumlah tataran abstrak, yaitu:
1. Field
yaitu hubungan antara bentuk kebahasaan dengan pemakaian yang selalu berada
dalam konteks sosial dan situasional.
2.
Tenor yaitu hubungan antara bentuk
kebahasaan dengan pemeran yang memiliki cirri kondisi ikutan, baik status aupun
relasi.
3. Mode
yaitu bertalian dengan jenis tuturan serta media penyampaiannya.
Pendekatan
behavioral dalam kajian semantic juga tumbuh bertolak belakang pada teori
behavioris dalam psikologi.
Terdapat
empat ciri behaviorisme secara umum, yaitu sebagai berikut:
1. Menolak
konsep mentalisme yang mengkaji mind dan concept tanpa berdasar pada data
sahih.
2.
Mempercayai bahwa binatang dan manusia
memiliki cirri perilaku dasar yang sama.
3.
Perilaku manusia dalam berbahasa pada
dasarnya bertolak dari dan dibentuk oleh factor sosial
4.
Memiliki konsep mekanisme dalam
kehidupan kehidupan manusia, seperti ditandai adanya stimulus dan respon (S dan
R).
4.
Aspek makna
Ujaran
manusia menurut Joseph T Shiply dibagi menjadi 4 aspek, yaitu:
1. Pengertian
(sense)
2. Perasaan
(feeling)
3. Nada
(tone)
4. Maksud
(intemtion)
4.1.Pengertian
Pengertian dapat dicapai apabila antara
pihak yang terlibat dalam kegiatan komunikasi itu memiliki kesamaan bahasa. Pengertian
tersebut juga memiliki beberapa arti yaitu, sebagai berikut:
1. Gambaran
atau pengetahuan tentang sesuatu di dalam pikiran.
2. Kesanggupan
intelegensi untuk menangkap makna suatu situasi atau perbuatan (lihat KBBI,
1989 :236).
John
Lines juga menjelaskan tentang pengertian, yaitu sitem hubungan-hubungan yang
berbeda dengan kata lain di dalam perbendaharaan kata.
4.2.
Perasaan
Kata rasa memiliki bebrapa pengertian
sebagai berikut:
1. Tanggapan
hati melalui indera (rasa sedih, bimbang, takut, dsb)
2. Pendapat
(pertimbangan) mengenai baik atau buruk, salah atau benar, adil atau berat
sebelah,dsb.
Kata
perasaan mengandung arti antara lain:
1. Kesanggupan
untuk merasa atau merasi sangat tajam perasaannya.
2. Pertimbangan
batin (hati) atas sesuatu, pendapat (KBBI, 1989 - 730).n,dsb. Untuk
Suatu
kenyataan bahwa dalam kehidupan sehari – hari kita senantiasa berhubungan
dengan rasa dan perasaan. Maka dari itu kita dapat merasakan sedih, gembira,
jengkel, benci, dingin, dsb. Untuk dapat menggambarkan atau menyatakan hal-hal
yang bertalian dengan perasan tersebut digunakan leksem – leksem yang sesuai,
baik untuk ungkapan eksplosif mengenai suatu hal maupun di dalam tindak komunikasi atau interaksi dengan pihak
lain.
Aspek
makna yang berupa perasaan bertalian dengan sikap pembicara dengan sikap
pembicara terhadap apa yang sedang dibicarakan.
4.3.Nada
Dalam kamus linguistic nada mengacu pada tinggi
nada, yakni kualitas subjektif dari bunyi yang kompleks, tergantung dari
frekuensi, kenyaringan, dan intensitas. Tinggi nada terjadi adanya getaran
selaput suara. Nada tinggi terjadi karena selaput suara bergetar cepat.
Sedangkan nada rendah terjadi karena selaput suara bergetar lambat,
(Kridalaksana, 1984: 195-196).
Aspek makna nada
menurut Shipley adalah sikap pembicarakepada mitra bicara (pateda, 1989: 52).
Berdasarkan pengertian ini, pembicara akan berusaha memilih leksem-leksem yang
sesuai dengan keadaan pembicara itu sendiri. Kalau di sini disebut sebagai
mitra bicara, maka komunikasi komunikasi tersebut tidak terbatas pada
komunikasi lisan, tapi juga tertulis. Jika komunikasi bermediakan tulisan, nada
berhubungan antara sikap penulis terhadap pembaca. Demikian pula terhadap karya
sastra, yakni antara sastrawan dan pembaca, penikmat, atau apresiator.
Sejalan dengan apa yang
telah dinyatakan di atas, maka aspek makna yang bertalian dengan nada lebih
banyak dinyatakan oleh hubungan antara pembicara dengan pendengar. Aspek makna
bertalian dengan aspek makna perasaan. Jika kita merasa kesal atau benci, maka
sikap kita tentu akan berbeda bila dibandingkan pada waktu kita merasa senang
atau bergembira. Maka simpulan kita adalah bahwa aspek makna nada banyak
ditentukan oleh hubungan antara pembicara dan pendengar atau lawan bicara
4.4.Maksud
tujuan
Shiplay menjelaskan tentang maksud tujuan merupakan
maksud senang atau tidak senang, efek
usaha keras yang dilaksanakan (pateda, 1989 : 53).
BAB
III
RAGAM
MAKNA
1.
Makna Leksikal
Adalah
makna leksem ketika leksem tersebut berdiri sendiri, baik dalam bentuk dasar
maupun bentul derifasi dan maknanya kurang lebih tetap terdapat dalam
kamus.Contoh: kata tikus dalam kalimat banyak tanaman padi diserang tikus (
tikus mengacu pada binatang) tetapi kata tikus pada kalimat kita perlu membasmi
tikus – tikus yang banyak bercokol yang di instansi pemerintah ( tikus – tikus
itu mengacu pada koruptor
2.
Makna Gramatikal
Adalah
makna yang muncul akibat proses gramatikal.Contoh: Kata persiden di bubuhi
konfiks ke – an sehingga menjadi kepresidenan yang menyatakan makna “ tempat”
(kepresidenan ” tempat presiden kedutaan, tempat duta”)
3.
Makna Struktural
Makna
Struktural tercakup dalam makna gramatikal. Kata yang satu dengan kata yang
lain dapat membentuk relasi berupa kalimat. Makna kata – kata dalam kalimat
itulah yang kita sebut dengan makna setruktural.
Contoh:
- Terdengar: tidak sengaja mendengar
- Mendengarkan: Sengaja mendengar
4.
Makna Konstruksi
Adalah
makna yang terdapat dalam konstruksi kebahasaan.
Contoh:
Makna milik atau kepunyaan didalam bahsa indonsia dapat dinyatakan dengan
urutan leksem menggunkan akhiran kepunyaan. Kita dapat mengatakan /
bukunya/,/cintanya/, rumahnya.
5.
Makna Kontekstual
Makna
ini muncul sebagai akibat hubungan antara ujaran dan situasi pada waktu ujaran
dipakai.
Contoh:
Pada kata buaya : (1) penangkapan buaya liar dilarang pemerintah (2) dia memang
sangat terkenal sebagai laki – laki buaya (3) daun lidah buaya sebagi dasar
pembuatan sampo.
6.
Makna Konseptual
Makna
konseptual bisa disebut makna denotatif, yaitu makna kata yang masih menunjuk
pada acuan dasarnya sesuai dengan konvensi bersama.
Contoh
: leksem bapak dapat dianalisis menjadi : + manusia, + dewasa, - perempuan.
7.
Makna Kognitif
Adalah
aspek – aspek makna satuan bahasa yang berhubungan dengan ciri – ciri dalam
alam di luar bahasa atau penalaran
Contoh:
Jika mengatakan banguanan itu megah, maka kita secara langsung dapat melihat
atau membayangkan sebuah bangunan yang
megah.
8.
Makna Deskriptif
Adalah
makna yang terkandung di dalam setiap leksem dimana makna yang ditunjukkan oleh
referen lambangnya.
Contoh: “air” dengan “ambillah
segelas air.
9.
Makna Ideasional
Adalah
makan yang muncul sebagai akibat pengunaan leksem yang mempunyai konsep dan
merupakan konsekuiensi atau hal yang diharapkan yang harus berlaku dalam suatu
leksem.Contoh: kata partisipasi.Dimana pada kata partisipasi perlu diketahui
penggunaanya dalam masyarakat bahasa, konsep dan idenya.
10.
Makna Referensial
Adalah
makna unsur bahasa yang sangat dekat hubungannya dengan dunia luar (objek atau
gagasan) dan yang dapat dijelaskan oleh analisis komponen dan merupakan denotasi makna kata atau leksem yang masih
menunjukkan pada referen dasar yang sesuai dengan fakta. Contoh: kata manusia, mawar, indah, sedih.
Pertisipasi. Kata tersebut merupakan kata referensial karena kata atau leksem
itu mempunyai acuan, baik yang berupa benda, gejala, proses.
11.
Makna Asosiatif
Makna
Asosiatif adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem atau kata bertalian
leksem itu dengan keadaan di luar bahasa. Dimana makna asosiatif ini bertalian
erat dengan masyarakat pemakai bahasa, pandangan hidup yang ada dalam
masyarakat, nilai – nilai moral. Contoh: Leksem putih berasosiasi dengan makna
“suci”, ‘kesucian’, ‘baik’, ‘benar’.
12.
Makna Pusat
Makna
pusat adalah makna yang tidak mempunyai ciri dan kata yang umunya dimengerti
bilamana kata itu diberikan tanpa konteks, selain itu makna pusat selain berupa
kata dasar juga dapat berupa kata berimbuhan atau kata jadian yang
lainnya.Contoh: kata pergi, kepergian, bepergian, Maka kata pergi merupakan
makna pusat (mengandung makna pusat). Perbedaan dengan makna perluasan adalah
makna yang dikandung oleh suatu kata setelah kata tersebut mengalami proses
morfologis, baik berupa afiks, perulangan reduplikasi, maupun pemajemukan.
Contoh: bepergian, kepergian, pengaman, pengamanan, tertidur, petiduran, makanan, pemakan.
Contoh: bepergian, kepergian, pengaman, pengamanan, tertidur, petiduran, makanan, pemakan.
13.
Makna Luas
Makna
luas adalah makna ujaran yang lebih luas daripada makna pusatnya dimana mengaju
pada makna yang terkandung pada sebuah leksem lebih luas dari yang kita perkirakan.
Contoh: “ kita akan bertanding dengan penuh semangat demi sekolah kami”, maka yang dimaksudkan sekolah dalam kalimat ini tentu tidak hanya merujuk pada gedung, tetapi juga siswa, guru, para pegawai atau karyawan
Contoh: “ kita akan bertanding dengan penuh semangat demi sekolah kami”, maka yang dimaksudkan sekolah dalam kalimat ini tentu tidak hanya merujuk pada gedung, tetapi juga siswa, guru, para pegawai atau karyawan
14.
Makna Sempit
Makna
Sempit adalah makna yang lebih sempit daripada makna pusatnya, dimana makin
luas unsur leksem, makin sempit yang dipicu, dan makin sempit pula maknanya.
Contoh: makna ahli dalam ahli jiwa
Leksem ahli mengacu pada semua ahli dalam berbagai disiplin ilmu, sedangkan ahli ilmu jiwa maknanya menyempit, yakni mengacu pada orang yang mempunyai keahlian dalam ilmu jiwa yang dapat disepadankan dengan psikolog.
Leksem ahli mengacu pada semua ahli dalam berbagai disiplin ilmu, sedangkan ahli ilmu jiwa maknanya menyempit, yakni mengacu pada orang yang mempunyai keahlian dalam ilmu jiwa yang dapat disepadankan dengan psikolog.
15.
Makna Intensional
Makna
intensional ( intensional meaning ) adalah makna yang menekankan maksud
pembicara. Misal, ada seseorang berteriak Tolong! Tolong! Ada perampok. Makna
yang terkandung dalam kelompok leksem tersebut adalah ada seseorang yang minta
tolong ( bukan bertanya ) karena ada perampok ( bukan pencopet atau pencuri ).
16.
Makna Ekstensional
Makna
ekstensional ( extensional meaning ) adalah makna yang mencakup semua ciri
objek atau konsep. Misal, leksem / ibu / mempunyai makna: (1) wanita, (2)
dewasa, (3) orang tua dari anak-anak, (4) biasanya telah bersuami.
17.
Makna Denotatif
Makna
denotatif ( dentative meaning ) adalah makna kata yang didasarkan atas
penunjukkan yang lugas, polos dan apa adanya.Misal, leksem / kursi / mengandung
makna denotatif "perkakas yang terbuat dari kayu atau besi yang dapat
digunakan untuk tempat duduk."
18.
Makna Konotatif
Makna
konotatif ( conotative meaning ) adalah kesan-kesan atau asosiasi-asosiasi yang
biasanya bersifat emosional dan subjektif.Misal, pemakaian leksem /langsing/
dan leksem /kurus/. Kedua kata ini mempunyai makna denotatif yang sama. Dalam
hubungannya dengan manusia kedua kata tersebut mengacu pada "seseorang
yang mempunyai berat badan kurang". Namun kedua kata itu mempunyai
konotasi yang tidak sama. Menjadi orang langsing merupakan idaman (terlebih
bagi wanita), atau keinginan banyak orang; sedangkan kurus jelas tidak
diinginkan karena kata kurus mengandung konotasi yang negatif, seperti kurang
gizi, atau kurang urus badan.
19.
Makna Hakikat
Makna
hakikat adalah makna dasar atau makna yang sebenarnya.
20.
Makna Afektif
Makna
afektif adalah makna yang muncul akibat reaksi pendengar atau pembaca akibat
penggunaan bahasa. Contoh: Jika ada orang berkata “tolol kamu”, kita akan
mereaksinya sebab kata tolol mengandung makna yang berhubungan dengan rasa
penghinaan.
21.
Makna Emotif
Makna
emotif adalah makna yang timbul akibat adanya reaksi berbicara atau rangsangan
pembicara mengenai penilaian terhadap apa yang dipikirkan atau yang
dirasakan.Contoh : Jika ada seseorang berkata :setan kau”, leksem /setan/
dihubingkan dengan makna berbohong, menipu, licik, dan sebagainya; sedangkan
bagi pendengar berhubungan dengan cacian atau penghinaan.
22.
Makna Kolokatif
Makna
kolokatif adalah makna yang berkenaan dengan ciri-ciri makna tertentu yang
dimiliki sebuah kata dari sejumlah kata-kata yang bersinonim sehingga kata
tersebut hanya cocok untuk digunakan berpasangan dengan kata tertentu
lainnya.Contoh : Apabila kita berkata ikan, garam, garam, gula, sayur, yomat
dan sebagainya maka biasanya kita membicarakan leksem-leksem yang lebih banyak
berhubungan dengan lingkungan dapur.
23.
Makna Idiomatikal
Makna
idiomatikal adalah makna sebuah kata, frase atau juga kalimat yang menyimpang
dari makna leksikal maupun makna gramatikal kata, frase, atau kalimat tersebut.
Misalnya membanting tulang yang berarti
kerja keras.
24.
Makna Kiasan
Makna
kiasan adalah pemakaian leksem dengan makna yang tidak sebenarnya. Misalnya
mahkota wanita yang berarti rambut.
25.
Makna Stilistika
Makna
stilistika adalah makna yang timbul akibat pemakaian bahasa. Biasanya
tergantung dengan status sosial penuturnya. Misalnya rumah, pondok, istana,
keraton.
26.
Makna proposisional (propositional
meaning)
Yaitu
makna yang muncul apabila kita membatasi pengertian kita tentang sesuatu. Makna
proposisional biasanya berhubungan dengan matematika atau hal-hal yang sudah
pasti.
Contoh : - Sudut siku-siku memiliki sudut 90 derajat (pada pelajaran matematika)
Contoh : - Sudut siku-siku memiliki sudut 90 derajat (pada pelajaran matematika)
-
Ikan hidup di air (dalam pemikiran
seseorang mengandung pengertian bahwa tidak mungkin hewan yang diberi nama ikan
yang memiliki sirip dan bernafas dengan insang akan hidup di gunung atau gurun
pasir. Sehingga hal itu pasti ikan hidup di air)
27.
Makna Piktorial (pictorial meaning)
Yaitu
makna yang muncul akibat bayangan pendengar terhadap leksem yang didengarnya.
Contoh: Apabila seseorang mendengar leksem /kakus/, maka setelah pendengar
mendengar kata itu, maka pendengar akan merasa jijik, dan mual. Ketika leksem
itu diucapkan dengan segera akan muncul
bayangan terhadap leksem tersebut, baik yang berhubungan dengan baunya,
warna koorannya atau mungkin bentuknya
28.
Makna Gereflekter
Makna
ini muncul dalam hal makna konseptual yang jamak, makna yang muncul akibat
reaksi kita terhadap makna lain. Makna gereflekter tidak saja muncul karena
sugesti emosional, tetapi juga berhubungan dengan leksem atau ungkapan tabu. Misalnya: yang berhubunggan
dengan kepercayaan, seks, atau kebiasaan. Dalam hal ini ada leksem “bersetubuh”
adalah contoh leksem yang bermakna gereflekter. Dengan demikian kita tidak
mungkin berkata /mari kita bersetubuh/ meskipun dilihat dari strktur, kalimat
iru wajar. Maksud itu dapat dinyatakan dengan kelompok leksem /pergi ke tempat
tidur/
29.
Makna Tematis
Makna
tematis dikomunikasikan oleh pembicara atau penulis, baik melalui urutan
leksem-leksem, fokus pembicaraan, maupun penekanan pembicaraan. Misal : ada
orang berkata /Laki-laki dan perempuan
tua itu sedang bermain tenis di lapangan/. Dari kalimat tersebut
mengandung dua persepsi, yaitu hanya perempuan saja yang tua atau laki-laki dan
perempuan itu sama-sama tua, sehingga akan bermakna tematis tua apabila dalam
leksem tersebut yang ditekankan atau dipentingkan.
30.
Makna Kata dan Makna istilah
Perbedaan
makna kata dan makna istilah berdasarkan pada ketepatan penggunaan kata itu
secara khusus dan penggunaan secara umum. Makna kata akan menjadi jelas jika
digunakan dalam konteks tertentu dalam kalimat. Lata yang lepas dari konteks,
maka maknanya masih umum atau bahkan masih kabur. Misalnya, kata penglihatan
dapat berarti ‘hasil melihat’ atau ‘alat untuk dapat melihat’.Apabila makna
sebuah kata bersifat umum, maka sebuah istilah sudah bersifat tetap dan pasti
karena istilah digunakan dalam bidang
kegiatan atau satu bidang disiplin tertentu. Misalnya, istilah hukum, kata
tahanan berarti ‘orang yang ditahan sehubungan dengan suatu perkara’. Kata
akomodasi sebagai istilah dalam pariwisata bermakna ‘hal-hal yang berkaitan
dengan fasilitas penginapan dan tempat makan.
BAB
IV
RELASI
MAKNA
1. Sinonimi
Synonymy
is used to mean sameness of meaning.
Sinonimi
adalah arti yang digunakan untuk persamaan arti.
Kita
sering menemukan pernyataan bahwa sinonim adalah dua buah kata yang sama
maknanya. Pernyataan ini tentu kurang tepat : 1) maknanya belum tentu sama
persis, 2) yang bersinonim bukan hanya dalam bidang kata, tetapi juga dalam hal
morfem , frasa, san kalimat. Untuk lebih paham berikut penjelasannya:
1) Sinonim
antara morfem yang satu dengan morfem yang lain, missal kata dia,-nya, saya,
dan ku.
Contoh
: kemarin Anton telah memukul dia sampai pingsan.
2) Sinonim
antara kata yang satu dengan yang lain.
Contoh: untuk, buat, bagi, guna
3) Sinonim
antara kata dengan frasa
Contoh: meninggal, pencuri
4) Sinonim
antara frasa dengan frasa
Contoh: baju baru
5) Sinonimi
sinonimi antara kalimat dengan kalimat
Contoh: ani menulis surat itu
Ada salah satu tokoh berpendapat tentang
kesamaan atau kemiripan makna bentuk kebahasaan yang satu dengan lainnya, bisa
jadi masing – masing memiliki nuansa yang berbeda
1) Kata
yang satu memiliki makna yang lebih umum daripada lainnya, missal antara kata
melihat dan menatap.
2) Kata
yang satu lebih memiliki daya emosif daripada yang lainnya,misalnya kata
menggebrak bersinonim dengan memukul.
3) Kata
yang satu lebih menuansakan pengertian
yang dalam daripada yang lainnya sehingga nilai intensionalnya lebih tinggi,
misalnya penggunaan kata mempelajari.
4) Kata
yang satu lebih bersifat netral atau umum daripada yang lain, misalnya antara
kata bertanya dan menguji.
5) Kata
yang satu lebih professional daripada yang lainnya,misalnya antara kata diskusi
dan pembahasan.
6) Kata
yang satu lebih menuansakan kesan keindahan daripada yang lain,misalnya antara
kata aroma dan bau.
7) Kata
yang satu lebih bersifat kolokial daripada yang lain, missal ayo dan mari.
8) Kata
yang satu lebih banyak dipengaruhi dialek daripada yang lain, missal kata
nangkring dan duduk.
9) Kata
atau bentuk sinonim yang satu termasuk dalam bahasa anak-anak, misalnya kucing
dengan meong.
1.
Antomini
Kridalaksana
(1984: 14) menjelaskan, “Antonim (antonimy) adalah oposisi makna dalam pasangan
leksial yang dapat dijenjangkan, sedangkan antonym adalah leksem berpasangan secara
antonimi. Chaer (1985:35) menyatakan bahwa kata antonimi berasal dari bahasa yunani
kunoonoma yang berarti nama dan anti yang berarti melawan. Dengan demikian,
antonym berarti nama lain untuk benda yang lain pula. Secara semantic antonym
sering didefinisikan sebagai ungkapan( bias any berupa kata, tetapi dapat pula
berupa frasa atau kalimat) yang maknanya dianggap kebalikan dari ungkapan yang
lain. Misal kata panjang berantonim dengan pendek ,kurus x gemuk, panas x
dingin dan lainya.
Antonim
tidak saja pada tataran kata namun juga morfem frasa dan kalimat. Antonym dalam
tataran morfem dapat kita lihat pada contoh berikut :
Pogresif
x regresif
Pretes
x postes
Wartawan
x wartawati
Moral
x amoral
Peragawan
x peragawati
Kata-kata
yang berantonim itu pada umumnya berupa kata sifat, namun juga dapat berupa
kata benda, kata bilangan, kata ganti, kata kerjadan kata keterangan. Kata-kata
tugas seperti ,dan untuk , tetapi dsb. Tidak berantonim.
Beberapa
oposisi makna( antonym ) , yaitu sebagai berikut :
1.
Antonym
mutlak
Antonym
mutlak muncul apabila pertentangan antara kata atau bentuk bahasa yang memiliki
hubungan antonym tersebut bersifat mutlak. Pengertian antara kedua kata atau bentuk
itu terdapat batas mutlak.
Contoh
:
-hidup x
mati
-atas x
bawah
2.
Antonym
gradasi
Kata-kata
atau bentuk bahasa yang termasuk jenis antonym gradasi atau oposisi kutub mempunyai
pertentangan yang tidak mutlak.
Suatu
antonym dapat disebut antonym gradasi apabila penegatifan suatu kata tidaklah bersinonim
dengan kata lain. Missal, seorang yang tidak kaya belum tentu miskin.Secara singkat
dapat dinyatakan :
Tidak
kaya – miskin
Tidakmiskin–
kaya
Pada
umumnya kata-kata yang termasuk antonym gradasi adalah kata sifat atau adjektif.
Contoh
:
-tinggi xrendah
-panjang xpendek
3.
Antonym
relasional
Adalah
jenis antonym yang memperlihatkan kesimetrian dalam makna anggota pasanganya.Terdapat
dua macam oposisi relasional atau antonym relasional, yaitu :berupa kata kerja dan
kata benda.
Contoh
:
Maju
– mundur
Jual
– beli
Ayah
– ibu
4.
Antonym
hierarkial
Yang
termasuk antonym hierarkial adalah nama satuan waktu (berat ,panjang , isi) nama
satuan hitungan dan penanggalan , nama satuan jenjang kepangkatan, dan sebagainya.
Contoh
:
Sentimeter-
meter
Kilogram
– kuintal , ton
Prajurit
– letnan, mayor ,jendral
Hari
– bulan, tahun
5.
Antonym
resiprokal
Antonym
yang mengandung pasangan yang berlawanan namun mempunyai hubungan yang sangat erat
dan hubungan itu berupa hubungan timbale balik.
Contoh
:
Mengajar
– belajar
Menjual
– membeli
2. Homonimi
Semantik
homonimi sering diungkapkan sebagai ungkapan (kata, frasa, kalimat) yang
bentuknya sama sebagai ungkapan lain tetapi maknanya berbeda. Misal, kata bisa
yang berarti “racun” dan kata bisa yang berarti “dapat/sanggup”. Relasi atau
hubungan antara bisa “racun dan bisa “dapat/sanggup” inilah yang disebut
homonimi.
Terdapat dua kemungkinan yang
menyebabkan terjadinya homonim, yaitu : (1) Bentuk-bentuk yang berhomonimitu
datang dari bahasa atau dialek yang berbeda. (2) Bentuk-bentuk tersebut terjadi
sebagai proses morfologi.
Contoh
homonim dalam berbagai bidang :
1)
Homonim antarmorfem (morfem terikat)
- Uangnya sejumlah Rp.
5.000,00 akan ditabanaskan.
-Ton, apakah uangnya
sudah habis
2)
Homonim antarkata
- Saya akan memberi dia
sebuah buku.
- Banyak buku kita
temukan dalam tebu yang berwarna hitam.
3)
Homonim antarfrasa
Cinta anak ‘rasa cinta
dari anak kepada ayah, ibu, dan sebagainya
Cinta anak ‘perasaan
cinta kepada anak’
4)
Homonim antarkalima,
Anak Hasan yang pandai
itu meninggal (yang pandai adalah Hasan).
Anak Hasan yang pandai
itu meninggal (yang pandai adalah anak si Hasan).
5)
Homonim antar kata dan frasa
Buanglah sampah di
keranjang itu
Saya melihat dia sudah
ke ranjang
Homonim dapat dibedakan
atas homografi dan homofoni.
Contoh homografi :
1)
Dia memang seorang pejabat teras (taras)
Keluarga itu setiap
sore duduk-duduk di teras (teras rumah).
2)
Sedan (se’dan) ‘isak’ atau ‘tangis
kecil’
Sedan (sedan) ‘sejenis
mobil penumpang’
3)
Seri (se’ri) ‘cahaya’ atau ‘semarak’
Seri (seri) ‘rangkaian
yang berturut-turut’ (cerita)
Contoh homofoni :
1)
Bang dan
Bank
2)
Tang dan
Tank
3)
Sangsi dan
Sanksi
Homonim dibedakan atas
tiga macam, yaitu :
1)
Homonim yang homograf
2)
Homonim yang homofon
3)
Homonim yang homograf sekaligus homofon
3. Polisemi
Polisemi
adalah pemakaian bentuk bahasa seperti kata, frasa, dan sebagainya dengan makna
yang berbeda-beda. Polisemi merupakan kata atau frasa yang mempunyai makna
lebih dari satu. Polisemi dapat dosebut kata yang mempunyai makna ganda.
Polisemi dapat kita ketahui dengan memperhatikan konteksnya.
Contoh
polisemi:
Harga
cengkir akhir-akhir ini jatuh
Amin
jatuh sakit sejak seminggu yang lalu
Ali
kemarin jatuh dari sepeda
4. Hiponimi
Hiponimi
adalah ubungan dalam semantik antara makna spesifik dan makna generik atau
antara anggota taksonomi dan nama taksonomi (kridalaksana, 1984:66). Konsep
hiponimi mengadaikan adanya kelas atas dan kelas bawah, adanya makna sebuah
kata yang berada di bawah makna kata lain.
Contoh
:
Makna
leksem bunga terletak di atas. Hiponim dari dari bunga yaitu mawar, melati,
dahlia, aster, flamboyan, bugenfil
5. Ambiguitas
Ambiguitas
mengacu pada sifat konstruksi yang dapat diberi lebih dari satu penafsiran.
Kebermaknagandaan dalam ambiguitas berasal dari frasa atau kalimat yang terjadi
sebagai akibat penafsiran struktur gramatikal yang berbeda. Ambiguitas sering
terjadi pada tindak bahasa tulis.
Contoh:
Ada
seseorang menuturkan “paman dokter Hasan meninggal” kalimat ini dapat
ditafsirkan:
Paman
dokter Hasan yang meningga.
Yang
meninggal Hasan
Yang
meninggal ada dua orang yaitu paman doketr dan seseorang yang bernma Hasan
Yang
meninggal ada dua orang yaitu paman dan doketr yang bernama Hasan
Yang
meinggal ada tiga orang yaitu paman, dokter, dan Hasan
6. Redundansi
Redundansi
adalah pamakaian unsur segmental yang berlebih-lebihan dalam suatu ujaran.
Istilah redundansi dalam linguistik modern untuk menyatakan bahwa salah satu
konstitue untuk menyatakan bahwa salah satu konstituen dalam kalimat yang tidak
perlu dipandang daari sudut semantik.
Contoh
:
Sangat
banyak sekali kenangan yang saya peroleh dari kegiatan itu
Kita
akan menemui banyak rintangan rintangan untuk dapat sukses menuju ke puncak
gunung ini.
BAB V
PERUBAHAN MAKNA
1.
Beberapa factor yang mempermudah
terjadinya perubahan makna menurut Pateda (1989:71) yaitu:
1)
Bahasa senantiasa berkembang
2)
Makna sebuah leksem sering bersifat
samar – samar atau kabur
3)
Kehilangan motivasi
4)
Terdapat makna ganda
5)
Ambigu (ambiguous contex)
6)
Struktur kosa kata
2.
Faktor- Faktor Penyebab Terjadinya
Perubahan Makna
2.1 Faktor
Linguistik
Perubahan makna karena faktor linguistik
bertalian erat dengan fonologi, morfologi dan siktaksis. Misalnya, kata sahaya yang mulanya dihubungkan dengan
‘budak’ tetapi karena leksem tersebut berubah menjadi saya, kata saya selalu
dihubungkan dengan kata ganti orang pertama hormat.
2.2 Faktor
Kesejarahan
Perubahan makna karena faktor
kesejarahan berhubungan dengan perkembangan leksem. Misalnya, leksem wanita yang sebenarnya berasal dari
leksem betina. Leksem betina
dihubungkan dengan hewan wanita sedangkan leksem wanita merupakan leksem yang
berpadanan dengan perempuan.
2.3 Faktor
Sosial Masyarakat
Perubahan makna karena faktor social
dihubungkan dengan perkembangan leksem didalam masyrakat. Misalnya, leksem gerombolan pada mulanya bermakna’orang
yang berkumpul’ atau kerumunan orang’ tetapi kemudian leksem tersebut tidak
disukai lagi karena selalu dihubungkan dengan pemberontakan, perampok, dsb.
2.4 Faktor
Psikologis
Perubahan makna karena faktor psikologis
dapat disebabkan oleh rasa takut, menjaga perasaan, dsb. Misalnya penggunaan
leksem dirumahkan untuk mengganti
leksem ditahan.
2.5 Faktor
Kebutuhan Kata Baru
Perubahan makna karena faktor kebutuhan
terhadap kata baru bertalian erat dengan kebutuhan masyrakat pemakai bahasa.
Oleh sebab itu, bahasa juga berkembang karena
bahasa merupakan media komunikasi utama.
Misalnya: karena merasa ntidak
atau kurang enak menggunakan leksem saudara
maka muncullah leksem Anda
2.6 Faktor
Perkembangan Ilmu dan Teknologi
Kata mulanya mengandung konsep makna
yang sederhana sampai kini tetap dipakai meskipun konsep makna yang
dikandungnya telah berubah. Contoh : leksem berlayar yang dulu mengacu pada
pengertian ’menempuh perjalanan laut dengan perahu layar’, sekarang leksem berlayar
tetap dipakai tetapi tidak terbatas pada acuan itu.
2.7 Faktor
Perbedaan Bidang Pemakaian Lingkungan
Setiap bidang kehidupan
atau kegiatan mempunyai sejumlah kosakata tersendiri yang hanya dikenal dan
digunakan dengan makna tertentu yang berlaku dibidang tersebut. Misalnya dalam
bidang pendidikan kita mengenal kata guru, siswa, pengajar, pembelajaran dll
Kata
yang menjadi perbendaharaan kata dalam bidang kehidupan dalam pemakaiannya
sering dipakai dalam bidang kehidupan yang lainnya. Oleh karena itu, kata –
kata tersebut menjadi makna baru, disamping makna asli yang berlaku dibidang
asanya. Misalnya, kata jurusan berasal dari bidang lalu lintas yang berarti
‘arah’ pada perkembangannya dipakai dalam bidang pendidikan dengan arti ‘bagian
bidang ilmu’. Contoh pemakaian: Sidik adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan
Politik. Nmmm
2.8 Faktor
Pengaruh Bahasa Asing
Perubahan makna juga banyak disebabkan
oleh pengaruh bahasa asing yang berupa peminjaman makna,bilangan yang mengacu
pada benda yang bulat-bulat dan kecil-kecil, sekarang kata butir yang juga
dipakai sebagai padanan kata item.
2.9 Faktor
Asosiasi
Kata-kata yang digunakan di luar bidang
asalnya sering masih ada hubungannya dengan makna kata tersebut pada asalnya.
Kata amplop yang berasal dari bidang
surat menyurat makna asalnya “sampul surat”, tetapi jika dipakai dalam kalimat
untuk melancarkan urusan ini memang dia perlu kita beri amplop, kata amplop
bermakna “uang sogok” .
Asosiasi berhubungan pula dengan aspek
tempat dan waktu, misalnya , yang bertalian dengan tempat, jika mahasiswa
Universitas Sebelas Maret yang ada di Pabelan atau menahan mengatakan akan
kentingan tentu yang Maret kentingan Surakarta.
2.10
Faktor Penukaran Tanggapan Indera
Manusia memiliki 5 indera, yaitu
Mata,telinga,hidung,lidah dan kulit. Masing-masing untuk menangkap gejala atau
keadaan yang terdapat di sekitarnya atau di dunia ini.
Di dalam pemakaian bahasa sering terjadi
adanya pertukaran tanggapan antara indera yang berbeda. Pedas lidah,lalun
diindera dengan indera pendengaran , misalnya sinestesia.
2.11
Faktor Perbedaan Tanggapan Pemakai
Bahasa
Sujumlah kata yang digunakan oleh
masyarakat pemakainya tidaklah mempunyai nilai yang sama. Hal ini berkaitan
erat dengan pandangan hidup dan norma yang ada dalam masyarakat tersebut.
Kata-kata yang bernilai tinggi sering
disebut dengan istilah ameliorative, sedangkan kata-kata yang bernilai rendah
sering disebut dengan peyoratif. Misal, kata wanita bernilai tinggi
(ameliorative) perempuan bernilai rendah(peyoratif).
2.12
Faktor Penyingkatan
Sejumlah ungkapan dalam bahasa Indonesia
yang karena sering digunakan, sekalipun tidak diucapkan secara keseluruhan
orang pun sudah memahami maksudnya. Orang hanya menyebutkan singkatan dok
“dokter” , Lab “Laboratorium”
3.
Macam-macam Perubahan Makna
1. Perluasan
(generalisasi)
2. Penyempitan
(Spesialisasi)
3. Peninggian
(ameroliorasi)
4. Penurunan
(Peyorasi)
5. Pertukaran
(Sinestesia)
6. Persamaan
(Asosiasi)
7. Metafora
Pengetahuan dan pemahaman yang baik
tentang perubahan makna yang menolong para pemakai bahasa untuk dapat memilih
secara tepat kata-kata.
3.1 Perluasan
Makna atau Generalisasi
Merupakan proses Perubahan makna kata
dari yang lebih khusus ke yang umum.
Contoh :
|
Kata
|
Makna Lama
|
Makna Baru
|
|
Bapak
|
‘Orang tua laki-laki, ayah’
|
‘semjua orang laki-laki yang berumur lebih tua berkedudukan lebih
tinggi’
|
|
Putra
|
‘Anak laki-laki raja’
|
‘semua anak laki-laki’
|
Pemakaian kata ibu,bapak,dan saudara
sebagai hubungan keluarga dan sebagai
kata sapaan. Penulisan kata ibu,bapak, dan saudara sebagai
hubungan keluarga harus kita bedakan penulisanya dengan ibu,Bapak, dan Saudara
sebagai kata sapaan. Kita lihat contoh pemakaianya di bawah ini.
(1) Ali
Sofyan sekarang sudah menjadi seorang bapak.
Atas bantuan Bapak, saya ucapkan terima
kasih.
3.2 Penyampaian
Makna atau Spesialisasi
Penyempitan makna atau spesialisasi
adalah proses perubahan makna dari yang lebih umum ke yang lebih khusus, dari
yang lebih luas ke yang lebih sempit.
Contoh :
|
Kata
|
Makna Lama
|
Makna Baru
|
|
Sarjana
|
Cendikiawan
|
Lulusan perguruan tinggi
|
3.3 Peningkatan
Makna atau Ameliorasi
Peninggian makna atau ameliorasi adalah proses
perubahan makna kata yang mengakibatkan makna yang baru dirasakan lebih tinggi,
hormat, atau baik nilainya daripada makna yang lama.
Contoh:
|
Pria
|
Lebih baik daripada
|
Laki – laki
|
|
Wanita
|
Lebih baik daripada
|
Perempuan
|
|
Bung
|
Lebih baik daripada
|
Bang
|
3.4 Penurunan
Makna atau Peyorasi
Penurunan makna atau peyorasi adalah proses
perubahan makna yang mengakibatkan makna baru atau makna sekarang dirasakan
lebih rendah, kurang baik, kurang menyenangkan, atau kurang halus nilainya daripada makna semula
contoh
Bunting lebih rendah daripada hamil
3.5 Pertukaran
makna atau Sinestesia
Sinestesia adalah perubahan makna akibat
pertukaran tanggapan dua indera (dari indera penglihatan ke indera pendengar
dll)
Contoh:
Rupa gadis itu memang sangat manis
3.6 Persamaan
atau Asosiasi
Asosiasi adalah proses perubahan makna
sebagai akibat persamaan sifat.
Contoh: Sudah lama dia menaruh hati pada
bunga desa itu
3.7 Metafora
Metafora adalah pemakaian kata tertentu
untuk objek atau konsep lain berdasakan kias.
Contoh: Kaki meja, kaki langit
Tidak ada komentar:
Posting Komentar